Oo Inae…Rinduku tidak terbendung !

“….Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai umur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia………”“….Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua mendidik aku waktu kecil… ” (QS Al Israa’: 23 – 24)

Oo Inae…., hari ini tiba-tiba saja aku melihat wajahmu seterang mentari, bayangan sosok kasihmu dengan tatapan penuh cinta hadir dalam relung hati kecil yang terdalam. Anakmu ini telah paripurna porak poranda, tertunduk dibebani dosa dan kesalahan durhaka kepadamu…

Oo Inae…., hati ini sudah tidak putih lagi sebagaimana putihnya kasih sayangmu ketika engkau dengan ikhlas mengeluarkan setitik bening air dari pelupukmu yang suci karena terkabut oleh naiknya suhu tubuhku ketika dahulu dalam buaianmu. Pandangan ini bahkan telah samar, oleh seribu satu macam persoalan hidup yang tentu saja tidak sebanding dengan deritamu mengasuhku…

Oo Inae…., betapa aku ingin segera memelukmu saat ini juga. Merengkuh banyak keberkahan yang seringkali engkau tumpahkan ketika masalah tengah menghadang. Memanen padi-padi kedamaian yang selalu kau tanam teguh kedalam sanubariku ini… teringat kembali doamu…”Semoga Allah SWT, menjadikan engkau anak yang sholeh, cendekia, peduli sesama, dan mendapatkan pendamping hidup yang shalihah..!”

Oo Inae…., sungguh tulus ingin anakmu saat ini, bersimpuh di pangkuanmu dan merasakan buih-buih ilmu yang engkau senandungkan ikhlas kepada Allahu Azza wajalla, ya senandung kemerduan kalam ilahi yang tidak pernah lupa engkau ucapkan di saat-saat bahagia itu agar terhujam kesadaran ketuhanan dalam diri anakmu ini…

Oo Inae…., betapa senang yang tidak terukur bila aku meminta kesediaanmu untuk membubuhi jiwa dengan hangatnya doa-doa ikhlasmu, hingga ketenangan itu membumbung tinggi. Dan kesadaran akan kekuatan kasihmu merekat erat di langit-langit hati yang membuatku selalu termotivasi memandang masa depan. Ya, sungguh ingin kuraih semuanya itu sekarang, perasaan ini seperti diterpa hujan panas dari alam dunia …

Oo Inae…., tahukah engkau betapa sepi hidup ini tanpa seorang pendamping yang sering kau lantunkan dalam doamu. Doa tulus tidak pernah terlupa oleh perasaan tanggung jawab keibuan yang harus engkau pikul. Anakmu ini merindu pendamping yang mencintai dan mengasihimu karena Allah SWT. Pendamping yang taat kepada Allah dan Rasulnya dan selalu memberiku motivasi menjadi muslim yang ikhlas. Pendamping yang menemaniku dalam melantunkan kalam suci di malam-malam setelah magrib ditegakkan…maupun di waktu lain yaitu ketika menyimak sedikit hafalan harianku sebagai salah satu kewajibanku terhadap Firman dari yang serba Maha… Dimanakah sosok itu Oo Inae…!

Oo Inae…., kekhawatiran ini begitu pekat. Aku merasakannya sekarang betapa susah menjaga kehormatan ditengah-tengah manusia yang menganggap kehormatan itu begitu murah. Tidak sedikit sosok yang aku kagum kepada mereka terjerumus oleh tipuan semu para penggoda yang tidak terlihat itu. Hampir anakmu ini jatuh ke dalam lembah kekotoran dunia yang oleh sebagian rekan-rekan di kantor sebagai kebanggaan dunia.

Oo Inae…., hanya doa tulusmu yang mengiringi anakmu hidup di tanah orang. Tanah dimana semua orang mengimpikan ke sana, tanah yang penuh dengan janji-janji langit membuai hati siapa saja untu berlomba berlayar kesana. Ya, tanah yang penuh dengan debu dan cucuran keringat manusia Indonesia…

Oo Inae…., aku sangat menyayangimu, sungguh. Mesti aku tahu tidak mampu membasuh semua keringat suci yang engkau persembahkan untukku. Air mata kesedihan, pengorbanan, cinta kasih, untaian merdumu, pandangan kasih sayang dan semuanya hanya Allah yang bisa membalas itu semua, tentunya aku berharap syurga-Nya yang mulia.

Oo Inae…., sudah dua tahun lamanya anakmu ini tidak menjenguk engkau di tanah Mbojo tercinta… kangen dan rindu anakmu kepadamu Oo Inae…seperti luapan gelombang samudra nan luas…laksana angin yang bertiup di seluruh daratan….di setiap tarikan nafasku dan di setiap detak-detak jantung. Hanya satu kata yang ingin ku bisikkan di telinga indahmu “ Oo Inae…rinduku tak terbendung…..!”

“Allahummagfirlii waliwalidaiyya warhamhuma kamaa rabbayaanii shoghira…!!!”

Muhammad Fitrullah

(versi “contekan” dari tulisan “Bunda, rindu ini melangit lagi”: Husnul Mubarikah)

DOA INA RO’ AMA

Masih terngiang satu kalimat yang diucapkan oleh Ina ra Ama sebelum meninggalkan tanah mbojo tercinta, ya satu kalimat yang sangat sederhana…mungkin sudah jutaan kali Ina ra Ama kita dari bima menyebutkan kalimat ini…”maja labo dahu anae…” 

Ketika itu, kalimat itu seperti masuk ditelinga kiri keluar lagi di telinga kanan, ya begitu hambar..mungkin karena hati ini yang masih kotor oleh kesalahan dan dosaku kepada mereka berdua…

 Namun sekarang, kata-kata itu seakan-akan diteriakkan oleh suara yang kuat merasuk jauh ke dalam nurani yang hina ini, ketika setiap menapaki langkah-langkah di tanah rantauan, entah kenapa akupun kurang mengerti…”maja labo dahu anae…”…”maja labo dahu anae…” Apakah karena begitu besarnya dosa ini terhadap mereka sehingga harus membuatku berhati-hati dalam setiap tindakan, atau apakah karena keikhlasan dari hati putih Ina ra Ama yang begitu tulus berdoa untuk anaknya yang hina ini.. …”maja labo dahu anae…”…”maja labo dahu anae…” Tidak terasa, mataku berkaca teringat kembali janjiku kepada mereka..”mada ma lao ngupa ilmu ta rasa dou inae…ridhopu anamu ake ‘di ma dula ta dana ro rasa…” suatu janji yang mungkin tidak pernah aku akan tepati…padahal aku sangat-sangat mengetahui bahwa janji inilah yang akan dipertanggungjawabkan nanti dihadapan Allah Aza wajalla…Namun aku heran mengapa Ina ra Ama begitu sabar tetap dengan doanya……”maja labo dahu anae…”…”maja labo dahu anae…” aina neva ta nami…! Padahal di Kampus aku selalu bermain-main, tidak pernah belajar…apalagi memikirkan menyelesaikan makalah yang menjadi kewajibanku………..bahkan aku kumpul dengan teman-teman main Domi, karambo, yang barang itu semua aku beli dari uang kiriman mereka yang aku juga sangat tahu bahwa uang itu merupakan keringat darah mereka di sawah kami yang jarang disirami hujan…ya keringat darah Ina ra Ama yang setiap habis sholat subuh sudah berangkat menelusuri jalan gelap penuh dengan batu dan kerikil tajam…aku tahu tujuan mereka hanya demi untuk menghidupkan si pendosa ini… …tiba-tiba aku tersentak, terngiang lagi…”maja labo dahu anae…”…”maja labo dahu anae…” 

Oooo…Ina ra Amae…!!!

Oooo…Ina ra Amae…!!!

Oooo…Ina ra Amae…!!!

Kangapupu dosa anamu ma durhaka ta Ita ‘doho ‘dua…!

Kangapu toipu….!

Sekarang kesadaranku menjadikan aku terbangun dari mimpi…satu kata terbersit di hati ini, “belum terlambat untuk berbakti..!” ya “belum terlambat untuk berbakti..!” …sebelum aku jauh aku harus dan harus kembali…ya kembali merebut hati putih Ina ra Ama yang telah lama tersayat oleh si durhaka ini….tiba-tiba setitik air bening turun dari pelupuk ini karena terngiang ……”maja labo dahu anae…”…”……”maja labo dahu anae…”…”

Trima kasih Doamu..Ina ra Ama….!

Semoga dengan doamu itu, menjadi pencuci noda hitam yang telah lama mendekap di hati ini…dan menjadi pembawa berkah di kehidupan anakmu di rantauan….

“Allahummagfirlii waliwalidaiyya warhamhuma kamaa rabbayaanii shoghira…!!!”

  (NB: untuk rekan-rekan di rantauan khususnya dari Mbojo, teruslah berjuang dan berjuang walaupun lapar dan dahaga terus menghantui…dan jaya terus dana mbojo)