Masih terngiang satu kalimat yang diucapkan oleh Ina ra Ama sebelum meninggalkan tanah mbojo tercinta, ya satu kalimat yang sangat sederhana…mungkin sudah jutaan kali Ina ra Ama kita dari bima menyebutkan kalimat ini…”maja labo dahu anae…”
Ketika itu, kalimat itu seperti masuk ditelinga kiri keluar lagi di telinga kanan, ya begitu hambar..mungkin karena hati ini yang masih kotor oleh kesalahan dan dosaku kepada mereka berdua…
Namun sekarang, kata-kata itu seakan-akan diteriakkan oleh suara yang kuat merasuk jauh ke dalam nurani yang hina ini, ketika setiap menapaki langkah-langkah di tanah rantauan, entah kenapa akupun kurang mengerti…”maja labo dahu anae…”…”maja labo dahu anae…” Apakah karena begitu besarnya dosa ini terhadap mereka sehingga harus membuatku berhati-hati dalam setiap tindakan, atau apakah karena keikhlasan dari hati putih Ina ra Ama yang begitu tulus berdoa untuk anaknya yang hina ini.. …”maja labo dahu anae…”…”maja labo dahu anae…” Tidak terasa, mataku berkaca teringat kembali janjiku kepada mereka..”mada ma lao ngupa ilmu ta rasa dou inae…ridhopu anamu ake ‘di ma dula ta dana ro rasa…” suatu janji yang mungkin tidak pernah aku akan tepati…padahal aku sangat-sangat mengetahui bahwa janji inilah yang akan dipertanggungjawabkan nanti dihadapan Allah Aza wajalla…Namun aku heran mengapa Ina ra Ama begitu sabar tetap dengan doanya……”maja labo dahu anae…”…”maja labo dahu anae…” aina neva ta nami…! Padahal di Kampus aku selalu bermain-main, tidak pernah belajar…apalagi memikirkan menyelesaikan makalah yang menjadi kewajibanku………..bahkan aku kumpul dengan teman-teman main Domi, karambo, yang barang itu semua aku beli dari uang kiriman mereka yang aku juga sangat tahu bahwa uang itu merupakan keringat darah mereka di sawah kami yang jarang disirami hujan…ya keringat darah Ina ra Ama yang setiap habis sholat subuh sudah berangkat menelusuri jalan gelap penuh dengan batu dan kerikil tajam…aku tahu tujuan mereka hanya demi untuk menghidupkan si pendosa ini… …tiba-tiba aku tersentak, terngiang lagi…”maja labo dahu anae…”…”maja labo dahu anae…”
Oooo…Ina ra Amae…!!!
Oooo…Ina ra Amae…!!!
Oooo…Ina ra Amae…!!!
Kangapupu dosa anamu ma durhaka ta Ita ‘doho ‘dua…!
Kangapu toipu….!
Sekarang kesadaranku menjadikan aku terbangun dari mimpi…satu kata terbersit di hati ini, “belum terlambat untuk berbakti..!” ya “belum terlambat untuk berbakti..!” …sebelum aku jauh aku harus dan harus kembali…ya kembali merebut hati putih Ina ra Ama yang telah lama tersayat oleh si durhaka ini….tiba-tiba setitik air bening turun dari pelupuk ini karena terngiang ……”maja labo dahu anae…”…”……”maja labo dahu anae…”…”
Trima kasih Doamu..Ina ra Ama….!
Semoga dengan doamu itu, menjadi pencuci noda hitam yang telah lama mendekap di hati ini…dan menjadi pembawa berkah di kehidupan anakmu di rantauan….
“Allahummagfirlii waliwalidaiyya warhamhuma kamaa rabbayaanii shoghira…!!!”
(NB: untuk rekan-rekan di rantauan khususnya dari Mbojo, teruslah berjuang dan berjuang walaupun lapar dan dahaga terus menghantui…dan jaya terus dana mbojo)
hsyukrie berkata,
1 Januari , 2008 pada 11:37 am
alhmadulillah anda dapat menyadari akan kehebatan “maja labo dahu”, sebuah senjata, sebuah benteng yang diwariskan oleh nenek moyang kita untuk melindungi kita dalam menapaki krikil-krikil kehidupan yang penuh tantangan. Kalau mau dicermati betul betapa sebuah ungkapan sederhana ini memiliki makna dan kekuatan yang luar biasa yang mampu membimbing kita pada jalan yang benar. apabila kita salalu pegang erat ungkapan itu, maka insya Allah kita akan menjadi dou mbojo yang sesungguhnya, sebagaimana harapan orang tua kita (ina ro ama) ketika mereka melepaskan kita (anaknya) pergi ke luar rumah atau merantau. semoga semua dou mbojo mau berpegang teguh senjata yang satu ini. sebuah senjata paripurna yang mampu mengawal kita pada jalan yang benar sesuai dengan norma dan hukum yang kita anut. see you, bung.
fitrullah berkata,
2 Januari , 2008 pada 10:40 am
Terima kasih syukri atas komentarnya…
Ini M.Syukrillah atau bukan ya?
Ini tulisan saya zaman mahasiswa dulu..
latar belakangnya karena banyak sekali mhs mbojo yang seperti dalam tulisan tersebut. Menyia-nyiakan kesempatan kuliah untuk berleha2.
Saya pikir ini menarik untuk diangkat ke permukaan dan ini erat kaitannya pertanyaan mengapa kita kuliah?
Salam kenal,
Fitrullah
Dhimaz Sanjaya Alam berkata,
2 Januari , 2008 pada 7:57 pm
ini merupakan landasan moral filosofis, untuk kita implementasikan dalam kehidupan keseharian, “maja labo dahu” harus menjadi pandangan dan kode etik masyarakat dou mbojo dimanapun dan kapanpun.
pergeseran yang terjadi akhir2 ini khususnya pada moral dan etika khususnya kurang menjiwainya filosofis dr istilah tersebt,
mari kita dan saatnya untuk menunjukkan bahwa bima adalah Surga “kecil”.
hairul berkata,
8 Juli , 2008 pada 1:06 pm
tidak semua mhs mbojo yang menyia2kan kesempatan kul utk berleha-leha, walaupun secara garis besar demikian masih banyak teman2 saya yang menyerupai cerita aba, semua kembali pada diri kita masing2 tapi saya sependapat dengan aba hal seperti dalam tulisan aba menarik untuk diangkat kepermukaan!
salam kenal sae….
fitrullah berkata,
18 Juli , 2008 pada 3:22 am
Trima kasih Hairul komentarnya…yap, memang tidak semua cina ro angi mbojo seperti yang diceritakan, itu adalah salah satu sisi yang ingin saya angkat bahwa menyia-nyiakan waktu pada saat kita kuliah sama saja dengan mendolimi orang tua kita…