Sikap Belajar

Prof Sri Hartati R, pakar perkembangan dari Fakultas Psikologi mengatakan bahwa belajar itu adalah

usaha individu untuk secara aktif MENGKONSTRUKSI & atau MEMBANGUN pengetahuannya dan selalu mengkonstruksi kembali dengan pengetahuan baru”

Untuk memahami:

Apa itu belajar?

Bagaimana model pembelajaran?

Bagaimana Mahasiswa belajar?

Maka Anda bisa mengklik sikap-belajarmhsw

(Prof Sri Hartati RS)

About these ads

5 Komentar

  1. Yanuar nugraha said,

    28 April 2008 at 8:32 am

    Apakah ad beasiswa2 yg khusus bwt jurusan metalurgi dr prusahaan2 yg ad di cilegon atw yg lainny?

  2. azwar anas said,

    15 Juni 2008 at 5:14 pm

    apa itu belajar?belajar adalah bagaimana kita bisa memahami dan menyikapi suatu permaslahan sesuai kemampuan kita.
    model pembelajaran?adalah yang mana adanya interaksi atau diskusi dua arah yang mana dalam penyampaian pelajaran tsb terbangun kesadaran mahasiswa sehingga mahasiswa mencoba mencari tau solusi permaslahan dr study kasus ataupun permaslahan dengan kesadarn sendiri tanpa unsur paksaan.
    mahasiswa belajar?bisanya menjelang UAS

  3. azwar anas said,

    15 Juni 2008 at 5:18 pm

    saya berharap mari kita bagun kesadaran untuk memberi saran yang membagun demi perbaikan diri dan ft untirta
    salam metal
    never die metalurgi

  4. ABDUL HALIM said,

    21 Maret 2009 at 8:13 am

    assalamualaikum….
    slama ni kinerja bapak sngt baik alangkh lbh baiknya klo tiap kamis kul yg sore,klo terdngr adzan mgrib qt berhnti terlbt dahulu…
    makasih
    wassalamualaikum…

    Jawaban:
    Wa’alaikumussalam wr wb.
    Wah….masukan ini yang saya tunggu-tunggu,
    InsyaAllah Untuk pertemuan kalkulus 2 pas sore, kita akan selesai kuliah pas azan magrib..
    Dan untuk yang siang, kita berhenti sejenak untuk mendengarkan azan dhuhur…
    OK Trims ya Halim….

  5. 16 Mei 2009 at 5:17 am

    Belajar
    Oleh M Ihsan Dacholfany & Ayi Kusjiwo (Uninus S-3)
    i
    DAFTAR ISI
    PENGANTAR…………………………………………………………………………………………………………..i
    DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………………….ii
    RINGKASAN………………………………………………………………………………………………………….iv
    I. BELAJAR………………………………………………………………………………………………………….. 1
    A. HAKIKAT BELAJAR……………………………………………………………………………………. 1
    B. CIRICIRI BELAJAR………………………………………………………………………………………. 1
    C. PROSES BELAJAR……………………………………………………………………………………….. 1
    D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES BELAJAR ……………. 3
    II. KOGNITIF………………………………………………………………………………………………………… 6
    A. ELEMEN-ELEMEN KOGNITIF………………………………………………………………….. 6
    B. VERBUM KHUSUS TINGKAH LAKU……………………………………………………….. 9
    III. BELAJAR MENURUT ISLAM………………………………………………………………………… 13
    A. BELAJAR MENURUT AL-QURAN DAN HADIS……………………………………… 13
    B. ARTI PENTING BELAJAR MENURUT AL-QURAN…………………………………. 14
    C. SARANA BELAJAR……………………………………………………………………………………. 15
    D. KONSEP BELAJAR MENURUT AL-GHAZALI…………………………………………..16
    IV. PEMBELAJARAN…………………………………………………………………………………………… 18
    A. PARADIGMA BARU MENGAJAR…………………………………………………………….. 18
    B. PRINSIP-PRINSIP PROSES PEMBELAJARAN………………………………………….. 19
    C. MAKNA PROSES PEMBELAJARAN…………………………………………………………. 20
    V. INTELIGENSI GANDA………………………………………………………………………………….. 24
    VI. KECERDASAN EMOSIONAL DAN SPIRITUAL…………………………………………… 31

    ii
    A. PARADIGMA BARU KECERDASAN: EMOSIONAL DAN SPIRITUAL…… 31
    B. CIRI-CIRI KECERDASAN EMOSIONAL…………………………………………………… 31
    C. KECERDASAN SPIRITUAL……………………………………………………………………….. 35
    KESIMPULAN………………………………………………………………………………………………………. 37
    DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………………………… 38

    iii
    RINGKASAN
    1. Salah satu keistimewaan manusia dibanding makhluk lain di alam semesta adalah memiliki kemampuan belajar
    2. Melalui proses belajar manusia akan mengalami perubahan tingkah laku dalam aspek: kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
    3. Fase belajar dalam pendidikan formal meliputi: motivasi, konsentrasi, mengolah, menggali, dan umpan balik
    4. Efektivitas proses belajar dipengaruhi sejumlah faktor internal dan eksternal
    5. Benyamin Bloom mengkonstruksi taksonomi pendidikan dalam kerangka objektif: kognitif, afektif, dan psikomotorik
    6. Aspek kognitif terdiri dari: (1) pengetahuan yaitu ingatan akan fakta-fakta khusus dan konsep-konsep universal, struktur-struktur, dan juga pola-pola; (2) pemahaman/komprehensi merupakan aspek dominan dalam pengajaran (pembelajaran)
    7. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad berupa perintah membaca, secara implisit Islam menempatkan belajar sebagai hal yang sangat penting
    8. Sejumlah ayat Al-Quran menunjukkan larangan kepada manusia untuk tidak mengetahui segala sesuatu yang tidak dilakukan.
    9. Selain sarana psikis yaitu daya pikir atau potensi inteligensi, manusia juga dikaruniai qalb yang dapat dipergunakan untuk memahami realitas ciptaan Tuhan
    10. Konsep transfer ilmu pengetahuan dari guru kepada murid, seperti dalam paradigma pengajaran, dipandang tidak lagi sesuai dan relevan karena: (1) adanya ledakan pertumbuhan ilmu pengetahuan; (2) manusia bukanlah organisme pasif; dan (3) peserta didik bukan merupakan objek penerima informasi belaka.
    11. Konsep pembelajaran (instruction) tidak menempatkan guru sebagai sumber belajar
    12. Esensi proses pembelajaran: (1) belajar adalah proses berpikir (teaching of thinking, teaching for thinking, taching about thingking); (2) belajar adalah memanfaatkan potensi otak; dan (3) belajar berlangsung sepanjang hayat, sejalan dengan 4 pilar pendidikan universal UNESCO: learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together
    13. Menurut Gardner kecerdasan bukanlah kemampuan seseorang untuk menjawab soal-soal tes IQ di ruang tertutup, akan tetapi berupa kemampuan untuk memecahkan persoalan-persoalan nyata kehidupan dalam macam-macam situasi.
    14. Garner mengidentifikasi manusia memiliki 9 jenis kecerdasan yang berguna untuk meningkatkan mutu kehidupan, yaitu kecerdasan-kecerdasan: linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetis-badani, musikal, interpersonal, intrapersonal, lingkungan, dan eksistensial.
    15. Hasil kajian Daniel Goleman: sukses dalam kehidupan bukan hanya milik orang-orang ber-IQ tinggi. Ditemukan sejumlah fakta, mereka yang ber-IQ sedang lebih berhasil apabila didukung dengan kecerdasan emosional EQ), yaitu kemampuan untuk mengendalikan, mengorganisasi, dan mempergunakan emosi ke arah kegiatan yang mendatangkan hasil optimal.
    16. Kecerdasan emosional (EQ) terdiri dari: self-awarness, self-regulation, motivatin, empathy, dan social skill
    17. Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall guna memfungsikan IQ dan EQ secara efektif perlu Spiritual Quotion (SQ) merupakan faktor untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dalam hidap kita dalam konteks makna yang lebih luas dan “kaya”, kecerdasan untu menilai bahwa jalan hidup seseorang lebih berarti dibanding yang lain.
    18. Dalam Islam syukur, sabar, dan ikhlas merupakan spirit moral dalam upaya

    BELAJAR

    A. HAKIKAT BELAJAR
    Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap. Belajar dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat. Kemampuan manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Belajar akan memberikan manfaat kepada individu yang bersangkutan dan masyarakat. Setiap individu akan mendapatkan manfaat belajar dari meningkatnya kualitas hidupnya. Sedang bagi masyarakat, belajar mempunyai peran penting dalam mentransmisikan budaya dan pengetahuan dari generasi ke generasi.

    B. CIRI-CIRI BELAJAR
    Berlangsungnya suatu proses belajar akan terlihat pada cirir-ciri berikut :
    1. Belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku (change behavior);
    2. Perubahan perilaku relative permanent, dalam arti dalam batas waktu tertentu tidak berubah, akan tetapi tidak akan terpatri seumur hidup;
    3. Perubahan perilaku tersebut lebih bersifat potensial, dalam arti tidak harus segera dapat diamati saat proses belajar berlangsung;
    4. Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman; dan
    5. Pengalama atau latihan itu dapat memberikan penguatan berupa dorongan untuk mengubah tingkah laku.

    C. PROSES BELAJAR
    Proses belajar merupakan serangkain aktivitas yang terjadi pada pusat syaraf individu yang belajar. Proses belajar terjadi secara abstrak, berlangsung secara mental, sehingga sama sekali tidak bisa diamati. Pengamatan proses belajar hanya dapat melalui perubahan perilaku individu yang berubah dari sebelumnya. Perubahan tersebut bisa dalam aspek kognitif, afektif, ataupun psikomotorik.
    Proses belajar dalam ruang linkup institusi sekolah, melalui fase-fase: motivasi, konsentrasi, mengolah, menggali 1, menggali 2, prestasi, serta umpan balik.
    Tahap motivasi terjadi saat dorongan dari dalam diri siswa untuk belajar timbul. Terindikasi dengan ketertarikan pada apa yang akan dipelajari dan memberi perhatian yang cukup pada kehadiran guru di depan kelas.
    Tahap konsentrasi, yaitu pemusatan perhatian yang telah ada pada fase motivasi yang tertuju pada hanya hal-hal yang relevan dengan apa yang sedang dipelajari.
    Tahap mengolah, siswa menahan informasi yang diterima dari guru dalam short term memory-STM (gudang ingatan jangka pendek), mengolah informasi-informasi untuk diberi makna (meaning) berupa sandi-sandi sesuai dengan penangkapan masing-masing dalam bentuk simbol-simbol.
    Tahap menyimpan, siswa menyimpan simbul-simbul hasil olahan yang telah diberi makna ke dalam long term memory-LTM (gudang ingatan jangka panjang). Pada fase ini hasil belajar sudah diperoleh, mungkin sebagian atau mungkin keseluruhan. Perubahan-perubahan sudah mulai berlangsung, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
    Tahap menggali 1, yaitu siswa menggali informasi yang telah disimpan dalam LTM ke STM untuk dikaitkan dengan informasi baru yang ia terima. Penggalian ini penting untuk mengintegrasikan apa yang telah dikuasai dengan yang akan diterima, sehingga menjadi satu kesatuan. Setelah penggalian informasi dan dikaitkan dengan informasi baru, maka terjadi lagi pengolahan informasi untuk diberi makna seperti halnya dalam tahap mengolah dan selanjutnya disimpan dalam LTM lagi.
    Tahap menggali 2, menggali informasi yang telah disimpan dalam LTM untuk persiapan prestasi, baik langsung maupun melalui STM. Tahap menggali 2 diperlukan untuk kepentingan kerja, menyelesaikan tugas, menjawab pertanyaan atau soal/latihan.
    Tahap prestasi, yaitu informasi yang telah tergali sebelumnya digunakan untuk menunjukkan prestasi yang merupakan hasil belajar. Hasil belajar itu dapat berupa: kemampuan memecahkan soal, kepentingan-kepentingan pekerjaan, atau menyelesaikan tugas.
    Tahap umpan balik, siswa memperoleh penguatan (informasi) saat perasaan puas atas prestasi yang mampu ditunjukkan. Hal ini hanya akan terjadi apabila berprestasi sesuai harapan. Apabila terjadi sebaliknya akan timbul perasaan tidak senang secara internal (diri sendiri) dan/atau eksternal (guru).

    D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES BELAJAR
    Kualitas hasil belajar senantiasa dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal.
    1. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu, meliputi faktor fisiologis dan psikologis. Faktor fisiologis merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik. Faktor ini dibedakan menjadi dua macam: (1) keadaan tonus jasmani berupa kondisi fisik, di mana hanya apabila siswa dalam keadaan sehat dan bugar proses belajar dapat berlangsung secara optimal. Untuk itu guna menjaga kondisi fisik dengan menjaga pola makan sehat dan teratur dengan memperhatikan keseimbangan nutrisi, olah raga rutin, dan istirahat yang cukup. (2) keadaan fungsi jasmani terutama panca indra.
    Faktor psikologis, yaitu keadan psikologis siswa yang dapat mempengaruhi proses belajar. Faktor-faktor psikologi utama yang dapat mempengaruhi proses belajar adalah: inteligensi, motivasi, minat, sikap, dan bakat. (1) Inteligen (kecerdasan) diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik dalam mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dalam hal ini, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ tubuh yang lain. Akan tetapi dalam kaitan dengan kecerdasan, otak tetap merupakan organ penting karena merupakan executive control (pengendali tertinggi) dari hampir seluruh aktivitas manusia. (2) Motivasi yang merupakan proses di dalam diri individu yang yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat. Motivasi bisa dibagi menjadi motivasi intrinsik dan ekstriksik. Motivasi intrinsik adalah semua faktor yang berasal dari dalam individu dan memberikan dorongan untuk melalkukan sesuatu. Motivasi ekstrinsik adalah faktor yang datang dari luar individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untuk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, teladan orang tua dan lain sebagainya. (3) Minat (interest): kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Guna meningkatkan minat dapat dengan membuat materi ajar menjadi menarik dan tidak membosankan, atau pemberian keleluasaan kepada siswa untu memilih jurusan yang sesuai dengan kecenderungan minat masing-masing. (4) Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, peristiwa, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performa guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. (5) Bakat (aptitude) diartikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Karena efektivitas belajar sangat dipengaruhi potensi individu, maka para pendidik dan orang tua perlu memperhatikan bakat yang ada pada siswa atau anaknya, yaitu dengan mendukung dan ikut mengembangkan apa yang menjadi potensi dalam bentuk bakat tersebut.
    2. Faktor eksternal yang mempengaruhi belajar digolongkan menjadi dua: faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non-sosial. Faktor lingkungan sosial mencakup: (1) Lingkungan sosial sekolah, terdiri dari guru, tenaga administrasi, dan teman-teman sekelas. Hubungan harmonis dan perilaku simpatik dapat menjadi motivasi belajar. (2) Lingkungan sosial masyarakat, seperti kondisi tempat tinggal, banyaknya pengangguran, anak-anak terlantar dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa. (3) Lingkungan sosial keluarga, berupa sifat-sifat orang tua, hubungan antar anggota keluarga, dan sebagainya juga berpengaruh kepada aktivitas belajar siswa.
    Faktor lingkungan non-sosial meliputi: (1) Lingkungan fisik, seperti kondisi udara yang segar, sinar matahari yang cukup dan tidak berlebihan, suasana sejuk dan tenang akan sangat mendukung aktivitas belajar siswa. (2) Faktor instrumental yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan menjadi pertama perangkat keras, seperti gedung sekolah, alat-alat bantu belajar, lapangan olah raga dan lain sebagainya. Kedua perangkat lunak, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, buku panduan, silabi dan lain sebagainya. (3) Faktor materi pelajaran. Hendaknya materi yang diajarkan betul-betil disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Demikian halnya dengan metode penyampaian guru, juga harus sesuai dengan kondisi perkembangan siswa. Guru dituntut menguasai materi ajar sekaligus metode yang paling sesuai dengan kondisi siswa.
    Proses Belajar dan Langkah-langkah Instruksional
    Fase-fase Dalam Belajar Rangkaian Langkah-langkah Instruksional dan Diskripsi singkat
    1. Fase Motivasi
    Siswa sadar akan tujuan yang ingin Guru menimbulkan motivasi belajar pada siswa dan menyadarkan siswa
    dicapai dan bersedia melibatkan diri akan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Guru membuat perhatian siswa
    terpusat pada tugas belajar yang dihadapi. Hal ini dapat dilakukan dengan menyebutkan
    kegunaan mempelajari pokok bahasan sehingga siswa mau belajar dan berminat
    2. Fase Konsentrasi
    Siswa harus memperhatikan unsur-unsur Guru mengarahkan perhatian siswa supaya memperhatikan unsur-unsur pokok
    yang relevan sehingga terbentuk pola dalam materi (selective perception). Hal ini dapat diusahakan dengan menunjukkan
    perseptual tertentu kejadian tertentu dalam suatu demonstrasi, dengan menunjuk pada bagaian
    dalam buku yang dicetak dengan huruf tebal atau warna mencolok, dengan
    memberikan uraian pendahuluan dan lain sebagainya.
    3. Fase Pengolahan
    Siswa menahan informasi dalam ingatan Guru membantu siswa mencerna dan memahami pelajaran dengan
    jangka pendek (short term memory/STM) menuangkan dalam bentuk verbal, skema, atau bagan. Guru memberikan petunjuk
    dan mengolah informasi untuk diambil tentang bagaimana cara mengambil inti atau membuat skema atau merumuskan konsep
    maknanya (diberi arti) dan kaidah. Bila perlu guru memberikan pertanyaan yang terarah untuk membantu
    Siswa menggali informasi yan telah tersimpan dalam STM.
    4. Fase Menyimpan
    Siswa menyimpan informasi yang telah Pada saat ini informasi yang disimpan dalam ingatan jangka panjang masih belum stabil
    diolah dalam ingatan jangka panjang karena pengolahan kurang matang. Oleh karena itu, guru harus memberikan bimbingan
    (long term memory/LTM); informasi agar siswa dapat menemukan kestabilan dalam mengolah informasi tersebut.
    dimasukan kedalam ingatan. Hasil belajar
    sudah diperoleh, sebagian atau seluruhnya
    5. a. Fase Menggali 1
    Informasi yang tersimpan dalam ingatan 1. Guru memberikan pertanyaan yang terarah untuk menggali memori di LTM
    jangka panjang digali dan dimasukkan ke dalam (seperti nomor 3). Hal ini juga dapat dilakukan dalam rangka belajar topik
    ingatan jangka pendek. Informasi ini dikaitkan baru nanti.
    dengan informasi baru atau dikaitkan dengan 2. Guru membantu untuk siswa menggali hasil yang baru saja diperoleh dari LTM dan
    sesuatu di luar lingkup bidang studi yang mengaitkannya dengan sesuatu diluar lingkup pelajaran yang bersangkutan
    bersangkutan (ditransfer). Dimasukkan kembali (transfer belajar).
    dalam LTM. 3. Guru membantu siswa mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian yang mencangkup
    beberapa pokok bahasan dengan memberikan pelajaran repetisi (review)
    b. Fase Menggali 2
    Siswa menggali informasi yang tersimpan di LTM Guru memberikan petunjuk tentang bentuk prestasi yang diharapkan, misalnya dalam
    dan mempersiapkannya sebagai masukan bagi bentuk uraian tertulis, lisan, diagram, gambar, atau demonstrasi. Guru memberikan
    fase prestasi. Langsung atau melalui STM petunjuk kapan prestasi harus diberikan pada waktu ulangan harian atau ulangan
    umum.
    6. Fase Prestasi
    Informasi yang digali digunakan untuk unjuk Guru memberikan petunjuk tentang bentuk prestasi yang sedang diberikan. Guru
    kerja/prestasi yang menampakkan hasil belajar memberikan instruksi yang jelas apakah prestasi itu akan dicapai dalam bentuk
    tertulis, lisan, ataukah perbuatan.
    7. Fase umpan balik
    Siswa mendapat konfirmasi sejauhmana prestasinya Guru memberikan umpan balik segera sesudah prestasi diberikan dalam bentuk
    tepat perbuatan/demonstrasi atau uraian lisan. Guru juga memberikan umpan balik sesegera
    mungkin setelah uraian tertulis diperiksa.
    Sumber : Drs. H. Baharuddin, M. Pd. I, Esa Nur Wahyuni, M. Pd.
    Teori Belajar dan Pembelajaran, 2008

    I. KOGNITIF

    Adalah Benyamin Bloom, David Krathwohl, dan Anita Harow yang menjadi pencetus taksonomi pendidikan berupa kerangka objektif dalam tiga cakupan: kognitif, afektif, dan psikomotorik (Jos Daniel Parera, 1993). Ketiga cakupan ini merupakan satu susunan hirarkis atau klasifikasi dari kelompok-kelompok objektif yang saling berhubungan.

    A. ELEMEN-ELEMEN ASPEK KOGNITIF
    Sesuai dengan judul makalah ini, maka Bab ini hanya akan membahas aspek kognitif. Cakupan aspek kognitif meliputi:
    1. Pengetahuan.
    Pengetahuan merupakan ingatan akan fakta-fakta khusus dan konsep-konsep universal, struktur-struktur, pola-pola dan sebagainya. Pengetahuan terdiri atas :
    1) Pengetahuan akan hal-hal khusus: pengetahuan tertentu akan informasi ; umpamanya, nama pengarang buku.
    2) Pengetahuan terminologi: pengetahuan akan lambang-lambang khusus atau istilah ; umpamanya lambang matematika (=, +, – ) atau makna kata-kata
    3) Pengetahuan akan fakta-fakta khusus: pengetahuan tentang tanggal, nama orang, dan tempat ; umpamanya ibukota sebuah negara
    4) Pengetahuan akan cara dan alat yang berhubungan dengan hal-hal khusus. Pengetahuan tentang khronologis, ciri-ciri dan prinsip-prinsip, pola organisasi ; umpamanya, topik dan subtopik dari sebuah bagan topik (topical outline).
    5) Pengetahuan akan kebiasaan-kebiasaan: pengetahuan tentang cara-cara konvensional yang berhubungan dengan gagasan, ide; umpamanya, kaidah gramatikal.
    6) Pengetahuan akan kecenderungan dan urutan: pengetahuan tentang arah dari sebuah perubahan dalam satu jangka waktu; umpamanya, kecenderungan pengembangan dalam satu perekonomian nasional.
    7) Pengetahuan tentang klasifikasi tentang kategori: pengetahuan tentang sistem atau klasifikasi dalam satu bidang khusus; umpamanya, sistem klasifikasi biologi tanaman dan binatang:
    8) Pengetahuan akan kriteria: pengetahuan tentang kriteria yang dipakai untuk menilai faktor-faktor, prinsip-prinsip dan sebagainya; umpamanya kriteria untuk menilai satu produksi musik.
    9) Pengetahuan akan metodologi: pengetahuan tentang metode penelitian, atau penyelesaian masalah, metode penelitian mengenai satu bidang ilmu; umpamanya, langkah-langkah dalam metode ilmiah penelitian.
    10) Pengetahuan akan hal umum dan abstraksi dari satu bidang. Pengetahuan tentang ide dan gagasan utama/besar, rencana dan pola-pola yang dengannya satu gejala atau ide diatur dalam satu bidang.
    11) Pengetahuan akan prinsip-prinsip dan Generalisasi Pengetahuan tenatang abstraksi yang merangkumkan satu hasil penelitian tentang satu gejala; umpamanya, tentang hukum gaya berat/daya tarik.
    12) Pengetahuan tenteng teori dan Struktur: pengetahuan tentang satu perangkat prinsip-prinsip yang memberikan satu pandangan sistematik tentang satu masalah yang komleks; umpamanya tentang struktur trias politika sebuah pemerintahan.
    2. Komprehensi/Pemahaman
    Aspek ini merupakan aspek dominan dalam pengajaran (pembelajaran !) Bidang ini mencakup pengertian hubungan baik secara lisan maupun secara tertulis dalam bentuk verbal dan simbolik. Tujuan khusus dari bidang ini ialah: sisiwa dapat memahami, mengungkapkan dengan kata-kata sendiri, menterjemahkan, mentafsirkan dan sebagainya.
    1) Terjemahan: mencakup penterjemahan pengetahuan atau gagasan dari bentuk abstrak ke bentuk konkrit atau sebaliknya; umpamanya, mengubah atau membuat parafrasis sebuah puisi yang panjang ke dalam bentuk prosa yang sederhana.
    2) Interpretasi, yaitu siswa menunjukkan kemampuan mereka untuk mencirikan dan merangkumkan pikiran utama dari satu gagasan atau wacana atau dokumen; umpamanya, memberikan penjelasan mengenai salah satu pasal UUD 45.
    3) Ekstrapolasi: merupakan kemampuan siswa untuk menterjemahkan dan mengartikan dengan maksud untuk memperluaskannya dalam satu proyek atau arah perkembangan; umpamanya, memproyeksikan satu biaya hidup untuk satu tahun.
    4) Aplikasi, diartikan dengan kemampuan penyelesaian masalah yang mempergunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan pengertian. Aplikasi menuntut satu penerapan eksternal dari situasi belajar dalam kelas kedalam situasi baru di luar kelas. Aplikasi menuntut pengalihan dari situasi dalam sekolah ke situasi luar sekolah.
    5) Analisis, adalah suatu kemampuan untuk memecahkan satu bahan ke dalam satuan-satuan yang lebih kecil dan menentukan hubungan antara sesamanya dan mengatur prinsip-prinsip di antara bagian-bagian tersebut. Tujuan khusus dari analisis biasanya dinyatakan dalam verbum membedakan, menganalisis, menceraikan dan mengambil kesimpulan.
    6) Analisis Unsur, merupakan kemampuan untuk menyimpulkan asumsi yang tersirat, menentukan ciri-ciri utama, membedakan antara yang nyata dan pernyataan-pernyataan nilai, umpamanya, siswa dapat membedakan antara fakta dan pernyataan yang tersirat dalam sebuah iklan mobil.
    7) Analisis Hubungan, adalah keterampilan dalam menentukan hubungan antara unsur-unsur, sistem dan hipotesis, umpamanya, membedakan antara fakta yang relevan dan tidak relevan dalam sebuah debat atau diskusi dan kelak menghubungkannya dalam sebuah argumen.
    8) Analisis prinsip-prinsip yang terorganisasi: merupakan kemampuan untuk menganalisis atau menyimpulkan apa yang terkandung dalam sebuah wacana, umpamanya, menentukan filosofi sorang pengarang berdasarkan tulisan/karangannya.
    9) Sintesis: adalah suatu kemampuan untuk menyatukan bagian-bagian atau satuan-satuan dalam satu kelengkapan dan keutuhan. Ia menuntut kemampuan menyusun kembali unsur-unsur dalam satu kesatuan yang logis.
    10) Perumusan wacana unik: adalah suatu kemampuan untuk mewacanakan satu gagasan dalam bentuk karya tulis , bicara, komposisi musik dan sebagainya.
    11) Perumusan rencana: adalah suatu kemampuan untuk menghasilkan satu rencana atau rancangan pelaksanaan, umpamanya, rencana kampanye keluarga berencana.
    12) Perumusan hubungan abstrak: kemampuan untuk mengambil kesimpulan dan merumuskan satu hipotesis berdasarkan gejala atau fakta yang diteliti.
    13) Evaluasi: adalah kemampuan siswa untuk menilai dan memberikan pertimbangan satu gagasan, hasil, dokumen, gambar, musik dan sebagainya.
    14) Penilaian berdasarkan kenyataan internal: tujuan khusus dari kemampuan ini ialah memberikan penilaian terhadap sebuah hasil karya, umpamanya, memberikan penilaian terhadap sebuah novel.
    15) Penilaian berdasarkan kenyataan eksternal: tujuan khusus penilaian ini memberikan penilaian dan membuat satu teori atau generalisasi, umpamanya, menentukan kriteria-kriteria penilaian tentang sesuatu neraca dan sebagainya.
    B. VERBUM KHUSUS TINGKAH LAKU
    Verbum khusus tingkah laku terdiri dari: jenjang pengetahuan, jenjang pemahaman, jenjang aplikasi, jenjang analisis, jenjang sistesis, dan jenjang evaluasi.
    1. Verbum tingkah laku jenjang Pengetahuan
    1) Mendefinisikan (define)
    2) Memberikan (describe)
    3) Mengidentifikasi (identify)
    4) Memberi nama (label)
    5) Menyusun daftar (list)
    6) Mencocokkan (matche)
    7) Menamakan (name)
    8) Membuat garis besar (outline)
    9) Menyatakan kembali (reproduce)
    10) Memilih (select)
    11) Menyatakan (state)
    2. Verbum tingkah laku jenjang Pemahaman
    1) Mengubah (convert)
    2) Mempertahankan (defend)
    3) Membedakan (ditinguish)
    4) Memperkirakan (estimate)
    5) Menjelaskan (explain)
    6) Menyatakan secara luas (extend)
    7) Menarik kesimpulan umum (generalize)
    8) Memberi contoh (give examples)
    9) Menarik kesimpulan (infer)
    10) Melukiskan dengan kata-kata sendiri (paraphrase)
    11) Meramalkan (predict)
    12) Menuliskan kembali (re-write)
    13) Menyimpan (summarize)
    3. Verbum tingkah laku jenjang Aplikasi
    1) Mengubah (change)
    2) Menghitung (compute)
    3) Mendemontrasikan (demonstrate)
    4) Mengungkapkan (discover)
    5) Mengerjakan dengan teliti (manipulate)
    6) Membuat modifikasi (modifie)
    7) Menjelaskan (operate)
    8) Meramalkan (predict)
    9) Menghubungkan (relate)
    10) Menunjukkan (show)
    11) Memecahkkan (solve)
    12) Menggunakan (use)
    4. Verbum tingkah laku jenjang Analisis
    1) Memecahkan, mengurai (break down)
    2) Membuat diagram (diagram)
    3) Membeda-bedakan (differentiate)
    4) Memisah-misahkan (discriminate)
    5) Membedakan (distinguish)
    6) Mengidentifikasi (identify)
    7) Menggambarkan kesimpulan (infer)
    8) Membuat garis besar (outline)
    9) Menunjuk (point out)
    10) Menghubungkan (relate)
    11) Memilih (select)
    12) Memisahkan (separate)
    13) Memperinci (subdivide)
    5. Verbum tingkah laku jenjang Sintesis
    1) Menggolong-golongkan (categories)
    2) Menggabungkan (combine)
    3) Menghimpun (comply)
    4) Menyusun (compose)
    5) Mencipta (creaties)
    6) Mencipta rencana (divise)
    7) Merancang (design)
    8) Menjelaskan (explain)
    9) Membangkitkan (generate)
    10) Membuat modifikasi (modify)
    11) Mengorganisir (organize)
    12) Merencanakan (plan)
    13) Menyusun kembali (rearrange)
    14) Mengkontruksi kembali (reconstruct)
    15) Menghubungkan (relate)
    16) Mengorganisir kembali (reorganize)
    17) Merevifi (revise)
    18) Menulis kembali (re-write)
    19) Menyimpulkan (summarize)
    20) Menceritakan (tell)
    21) Menulis (write)
    6. Verbum tingkah laku jenjang Evaluasi
    1) Menilai (appraise)
    2) Memperbandingkan (compare)
    3) Menyimpulkan (conclude)
    4) Mempertentangkan (contras)
    5) Mengkeritik (criticise)
    6) Memberikan (describe)
    7) Membeda-bedakan (discriminate)
    8) Menjelaskan (explain)
    9) Mempertimbangkan kebenaran (justify)
    10) Menginterpretasi (interpret)
    11) Menghubungkan (relate)
    12) Menyimpulkan (summarize)
    13) Menyokong (support)

    C. BELAJAR MENURUT ISLAM

    Sebagai agama rahmah li al-a’min, Islam mewajibkan umatnya untuk selalu belajar. Ayat Al-Quran yang pertama turun pun berupa perintah kepada Muhammad SAW untuk membaca yang tidak lain secara implisit merupakan perintah untuk belajar. Dalam arti luas, dengan iqra’ pula manusia dapat mengembangkan pengetahuan dan memperbaiki kehidupannya. Dalam Al-Quran Allah SWT menjanjikan untuk meningkatkan derajat orang yang belajar.
    A. BELAJAR MENURUT AL-QURAN DAN HADIS
    Dari aneka macam makhluk ciptaan Allah SWT, hanya manusia yang mendapat karunia berupa kemampuan untuk belajar. Manusia mendapatkan anugerah berupa akal sebagai alat untuk belajar, sehingga mampu menjadi pemimpin di muka bumi.
    Aktivitas belajar sangat terkait dengan pencarian ilmu. Al-Quran dan Hadis mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang yang berpengetahuan pada derajat yang lebih tinggi.
    Di dalam Al-Quran, kata al-ilm dan kata-kata turunannya digunakan lebih dari 780 kali. Surat pertama yang diwahyukan kepada Rosulullah, menyebutkan pentingnya membaca, pena, dan ajaran untuk manusia.
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, da Tuhanmu lah Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantara kalang. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS Al-‘Alaq [96]: 1-5).
    Menurut Quraish Shihab (1997), iqra’ berasal dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari penghimpunan inilah lahir aneka makna, seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui cir-cir sesuatu, dan membaca teks tertulis maupun tidak. Berbagai makna yang muncul dari kata tersebut sebenarnya secara tersirat menunjukkan perintah untuk melakukan kegiatan belajar, karena dalam belajar juga mengandung kegiatan-kegiatan seperti mendalami, meneliti, membaca, dan lain sebagainya.
    Selanjutnya menurut Quraish Shihab, wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang dibaca, karena Al-Quran menghendaki umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut dengan nama Allah dan didasarkan kepada Allah (bismi rabbik), dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau.
    Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini bukan sekadar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan diperoleh kecuali mengulang-ulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi hal itu mengisyaratkan mengulang-ulang bacaan bismi rabbik akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru.
    Selain Al-Quran, hadis Nabi Muhammad SAW juga memuji pentingnya ilmu dan orang-orang yang terdidik. Beberapa hadis tentang pentingnya belajar dan menuntut ilmu antara lain: mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim; carilah ilmu walaupun sampai di negeri Cina; carilah ilmu sejak dalam buaian hingga ke liang lahat; para ulama itu adalah pewaris para Nabi; pada hari kiamat ditimbanglah tinta ulama dengan darah syuhada, maka tinta ulama dilebihkan dari darah syuhada.
    B. ARTI PENTING BELAJAR MENURUT AL-QURAN
    Islam mewajibkan setiap orang yang beriman untuk belajar. Sebagaimana diketahui setiap apa yang diperintahkan Allah untuk dikerjakan, pasti dibaliknya terkandung hikmah atau sesuatu yang penting bagi manusia.
    1. Bahwa orang yang belajar akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupan. Kita diajak Allah untuk merenungkan, mengamati, dan membandingkan antara orang-orang yang memiliki pengetahuan dan tidak, sebagaimana firman Allah berikut.
    (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS Al-Zumar[39]: 9)
    2. Allah melarang manusia untuk tidak mengetahui segala sesuatu yang manusia lakukan. Dengan belajar manusia akan memiliki ilmu pengetahuan dan terhindar dari taqlid buta, karena setiap yang kita perbuat akan dimintai pertanggungan jawab oleh Allah: Dan janganlah kamu membiasakan diri pada apa yang kamu tidak ketahui, karena sesungguhnya penglihtan, pendengaran, dan daya nalar pasti akan ditanyai tentang hal itu (QS Al-Isra’[17]: 36). Hanya orang-orang yang belajarlah yang mampu memahami: Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya, kecuali orang-orang yang beriman (Qs Al’-Ankabut [29]: 43). Dan hanya orang-orang yang berilmulah yang takut kepada Allah: Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…(QS Fathir [35]: 28)
    3. Dengan ilmu yang dimiliki manusia melalui proses belajar, maka Allah akan memberikan derajat yang lebih tinggi kepada hambanya:… niscaya Allah akan meniggikan beberapa derajat kepada orang-orang yang beriman dan berilmu (QS Mujadalah [58]: 11). Ilmu, dalam hal ini, bukan hanya pengetahuan tentang agama saja, tetapi juga ilmu non agama yang relevan dengan tuntutan kemajuan zaman. Selain itu, ilmu tersebut juga harus bermanfaat bagi kehidupan orang banyak dan diri orang yang menuntut ilmu.
    C. SARANA BELAJAR
    Manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan tidak berpengetahuan, namun Allah telah membekali manusia dengan sarana-sarana baik fisik maupun psikis agar manusia dapat menggunakannya untuk belajar dan mengembangkan ilmu serta teknologi untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia.
    Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan daya nalar agar kamu bersyukur (QS Al-Nahl [16]: 78)
    Ayat tersebut mengungkapkan bahwa dalam proses belajar manusia adalah diberi sarana fisik berupa indra eksternal, yaitu mata dan telinga, serta sarana psikis berupa daya nalar atau intelektual.
    1. Sarana Fisik. Dalam Al-Quran di antara indra-indra eksternal, hanya mata dan telinga yang sering disebut. Keduanya merupakan alat-alat utaama yang membantu seseorang untuk melakukan kegitan belajar. Meskipun demikian, bukan berarti indra eksternallainnya seperti penciuman, peraba, dan perasa tidak mempunyai fungsi penting dalam kegiatan belajar, karena adakalanya indra-indra tersebut membantu manusia untuk lebih mudah memahami apa yang mereka pelajari. Beberapa ayat membicarakan tentang kegunaan indra perasa, peraba, dan penciuman untuk memberikan informasi dalam proses belajar, antara lain:
    Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang kafir itu berkata: “Ini tidaklain adalah sihir yang nyata” (QS Al-An’am [6]: 7)
    Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir), ayah mereka berkata: “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku). (QS Yusuf [12]: 94)
    2. Sarana Psikis. (1) akal yaitu daya fikir atau potensi inteligensi. Akal sebagai sarana psikis belajar, dijelaskan dalam surat An-Nahl ayat 78 dengan kata af’idah. Menurut Quraish Shihab (1992), af’idah berarti daya nalar, yaitu potensi/kemampuan berpikir logis, kata lain akal. Sedangkan dalam tafsir Ibnu Katsir, af’idah itu berarti akal yang menurut sebagian orang tempatnya berada dalam jantung (qalb), sedangkan sebagian lainnya menyatakan bahwa af’idah itu terdapat dalam otak. Dalam konteks yang terakhir ini, akal identik dengan daya pikir otak yang mengantarkan pada pemikiran yang logis dan rasional.
    Arti penting daya nalar dan berpikir logis-rasional dikisahkannya saat para penghuni Neraka enggan menngunakan akal mereka untuk memikirkan peringatan Tuhan. Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan dan memikirkan (peringatan Tuhan), niscaya kami tidak termasuk para penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS Al-Mulk [67]: 10).
    (2) Qalb (Qalbu) mempunyai dua arti yaitu fisik dan metafisik. Qalbu dalam arti fisik adalah jantung (heart), berupa segumpal daging berbentuk lonjong, terletak di dalam rongga dada sebelah kiri. Sedangkan dalam arti metafisik, Qalb dinyatakan sebagai karunia Tuhan yang halus (lathifah), bersifat ruhaniah dan ketuhanan (rabbani), yang ada hubungannya dengan jantung. Qalbu yang halus inilah hakekat kemanusiaan yang mengenal dan mengetahui segalanya serta menjadi sasaran perintah, cela, hukuman, dan tuntutan Tuhan.
    Qalb dapat digunakan sebagai alat untuk memahami realitas ciptaan Tuhan, Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hari, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang lalai. (QS Al-A’raf [7]: 179)
    D. KONSEP BELAJAR MENURUT AL-GHAZALI
    Al-Ghazali merupakan satu di antara tokoh-tokoh islam yang memberikan sumbangan pemikiran tentang aktivitas belajar. Al-Ghazali merupakan filosof yang mempunyai perhatian terhadap konsep pendidikan menurut Islam. Berkaitan dengan ilmu, Al-Ghazali berpendapat bahwa ilmu dapat dipandang dari dua segi yaitu ilmu sebagai proses dan ilmu sebagai objek.
    Sebagai proses Al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu menjadi tiga: (1) ilmu hissiyah, yaitu ilmu yang didapat melalui pengindraan, (2) ilmu aqliah, yaitu ilmu yang diperoleh melalui kegiatan berpikir (akal), (3) ilmu ladunni, yaitu ilmu yang diperoleh dari Allah tanpa melalui proses pengindraan atau berpikir (nalar), melainkan melalui hati dalam bentuk ilham.
    Sebagai Objek, Al-Ghazali membagi ilmu menjadi tiga macam: (1) ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak, baik sedikit maupun banyak, seperti sihir. (2) ilmu pengetahuan yang terpuji baik sedikit maupun banyak. (3) ilmu pengetahuan yang dalam kadar tertentu terpuji, tetapi bila mendalaminya tercela, seperi ilmu ketuhanan, cabang ilmu filsafat. Bila ilmu-ilmu tersebut. Diperdalam akan menimbulkan kekufuran dan inkar (sesuai dengan hadis Nabi yang melarang memikirkan zat Allah SWT).
    Menurut Al-Ghazali, ilmu terdiri dari dua jenis, yaitu ilmu kasbi (hushuli) dan ilmu ladunni (hudhuri). Ilmu kasbi adalah cara berpikir sistematik dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahap melalui proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan. Sedangkan ilmu ladunni adalah ilmu yang diperoleh orang-orang tertentu tanpa melalui proses perolehan ilmu pada umumnya, aka tetapi melalui proses pencerahan oleh hadirnya cahaya Ilahi dalam Qalb. Dengan hadirnya cahaya Ilahi itu, semua pintu ilmu terbuka menerangi kebenaran, terpecah dengan jelas dan terserap dalam kesadaran intelek, seakan-akan orang tersebut memperoleh ilmu secara langsung dari Tuhan. Hal demikian dapat terjadi dengan melakukan penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) hingga bersih seperti bayi baru lahir. Maka cahaya Ilahi akan datang dan menyinari dengan pengetahuan-pengetahuan Allah.

    IV. PEMBELAJARAN

    A. PARADIGMA BARU MENGAJAR
    Sepanjang yang penulis ingat dan ketahui, Paulo Freire (tahun 1970-an) yang pertama sekali menggugat model pendidikan yang menempatkan guru sebagai sumber ilmu. Metode belajar demikian dia sebut sebagai banking concept learning (pembelajaran model bank). Akhirnya dalam 2 dasawarsa terakhir, sejumlah ahli berpendapat bahwa mengajar sebagai transformasi ilmu pengetahuan dari guru (dosen) kepada murid (mahasiswa) sudah tidak bisa dipertahankan lagi, dengan argumentasi yang kuat:
    1. Peserta didik merupakan organisme yang sedang berkembang tidak dapat dianggap sebagai obyek penerima informasi belaka. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi, memungkinkan setiap siswa mendapatkan akses terhadap berbagai sumber informasi (pengetahuan). Fungsi guru bukan lagi sebagai sumber belajar, akan tetapi tugas dan tanggung jawab guru justru semakin kompleks. Guru tidak lagi cukup menggali informasi untuk ditransformasikan, akan tetapi dituntut untuk mampu menyeleksi informasi yang sangat beragam, sehingga dapat mengarahkan kepada siswa informasi yang dianggap perlu dan penting untuk kehidupan mereka. Guru harus menjaga siswa agar tidak terpengaruh oleh berbagai informasi yang berpotensi menyesatkan dan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mereka. Tugas guru sama sekali bukan lagi sebagai penyebar informasi, akan tetapi berperan sebagai pengelola sumber-sumber belajar yang betul-betul bermanfaat bagi siswa.
    2. Pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami kemajuan yang luar biasa, sehingga hampir mustahil setiap orang mengasai setiap cabang keilmuan. Implikasinya, belajar tidak lagi sekadar menghafal informasi ataupun rumus-rumus, tetapi bagaimana menggunakan informasi dan pengetahuan itu untuk mengasah kemampuan berpikir.
    3. Adanya temuan bidang psikologi terbaru terhadap konsep perubahan tingkah laku manusia. Dewasa ini anggapan bahwa manusia sebagai organisme pasif yang perilakunya dapat ditentukan oleh lingkungan seperti dijelaskan dalam aliran behavioristik, sudah banyak ditinggalkan. Orang sekarang lebih percaya bahwa manusia adalah organisme yang memiliki potensi seperti yang dikembangkan oleh aliran kognitif holistik. Penentu perilaku manusia adalah potensi yang dimilikinya. Itu sebabya, proses pendidikan bukanlah memberikan stimulus, sebagamana anjuran kaum behavioristik, akan tetapi berupa usaha untuk mengembangkan potensi. Siswa memperoleh posisi sebagai subjek belajar yang harus mencari dan mengkonstruksi pengetahuan sendiri. Pengetahuan tidak diberikan (ditransfer), akan tetapi dibangun oleh siswa.
    Mengajar tidak lagi bisa diartikan memberikan stimulus sebanyak-banyaknya dengan materi bahan ajar, akan tetapi sebagai proses mengatur lingkungan agar siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.
    Pembelajaran (instruction) banyak dipakai dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Istilah ini bersumber dari aliran psikologi kognitif holistik yang menempatkan siswa sebagai sumber dari kegiatan. Apabila pengajaran (teaching) menempatkan guru sebagai pemeran utama pemberi informasi, maka dalam pembelajaran guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator untuk mengelola berbagai sumber dan fasilitas untuk dipelajari siswa.
    Peran guru dalam konteks pembelajaran tidak bisa direduksi. Mengajar-belajar merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Menurut Dewey, keterkaitan antara mengajar dan belajar analog dengan “menjual” dan “membeli” – Teaching is to Learning as Selling is to Buying.
    Pembelajaran sama sekali tidak memperbesar peranan siswa di satu pihak dan memperkecil peranan guru di pihak lain. Perbedaan dominan terletak pada perbedaan tugas-tugas atau perlakuan guru dan siswa terhadap materi dan proses belajar.
    B. PRINSIP-PRINSIP PROSES PEMBELAJARAN
    Pertama, proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif siswa. Tujuan pengaturan lingkungan ini dimaksudkan untuk menyediakan pengalaman belajar yang memberi latihan-latihan penggunaan fakta-fakta. Menurut Piaget, struktur kognitif akan tumbuh manakala siswa memiliki pengalama belajar. Oleh karena itu, proses pembelajaran menuntut aktivitas siswa secara penuh untuk mencari dan menemukan sendiri.
    Kedua, berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang harus dipelajari. Ada tiga tipe pengetahuan yang masing-masing memerlukan situasi yang berbeda dalam mempelajarinya, yaitu: pengetahuan fisis, sosial, dan logika. Pengetahuan fisis adalah pengetahuan akan sifat-sifat fisis dari suatu objek atau kejadian seperti bentuk, besar, berat, serta bagaimana objek itu berinteraksi satu dengan yang lainnya. Pengetahuan fisis diperoleh melalui pengalaman indra secara langsung. Dari tindakan langsung itulah anak membentuk struktur kognitif.
    Pengetahuan sosial berhubungan dengan perilaku individu dalam suatu sistem sosial atau hubungan antara manusia yang dapat mempengaruhi interaksi sosial. Contoh pengetahuan tentang aturan hukum, moral, nilai, bahasa, dan lain sebagainya. Pengetahuan sosial senantiasa muncul dalam budaya tertentu, sehingga dapat berbeda antara kelompok yang satu dengan yang lain. Proses terbentuknya pengetahuan sosial bukan dari interaksi dari seseorang terhadap suatu objek, akan tetapi melalui interaksi seseorang dengan orang lain. Ketika siswa melakukan interaksi dengan temannya, maka kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan sosial dapat berkembang (Wadsworth, 1989).
    Pengetahuan logika berhubungan dengan berpikir matematis, yaitu pengetahuan yang dibentuk berdasarkan pengalaman dengan suatu objek dan kejadian tertentu. Pengetahuan ini didapatkan dari abstraksi berdasrkan koordinasi relasi atau penggunaan objek. Pengetahuan logis hanya akan berkembang manakala anak berhubungan dan bertindak dengan suatu objek, walaupun objek yang dipelajarinya tidak memberikan informasi atau tidak menciptakan pengetahuan matematis. Pengetahuan ini diciptakan dan dibentuk oleh pikiran individu itu sendiri, sedangkan objek yang dipejarinya hanya bertindak sebagi media saja.
    Ketiga, dalam proses pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan sosial. Untuk mendapatkan pengetahuan logika dan sosial, lebih baik melalui pergaulan dan hubungan sosial. Hal demikian akan lebih efektif apabila dibandingkan dengan belajar yang menjauhkan dari hubungan sosial. Semakin tinggi intensitas kontak sosial dalam bentuk komunikasi dan interaksi, berbagi pengalaman dan lain sebagainya, dapat mendorong mereka berkembang secara wajar.

    C. MAKNA PROSES PEMBELAJARAN
    Selama kehidupannya, manusia memiliki tujuan. Untuk mencapai apa yang menjadi tujuan, manusia akan dihadapkan pada rintangan-rintangan. Bahkan manakala suatu rintangan dapat diatasi, akan muncul rintangan lain yang mungkin lebih berat. Salah satu siklus rutin kehidupan akan terus demikian. Manusia yang berkualitas dan sukses, hanyalah yang punya kemampuan mengatasi setiap tantangan dan hambatan. Perubahan zaman yang serba cepat tidak “ramah” terhadap mereka yang kurang mampu melewati rintangan.
    Dinamika perubahan zaman menuntut proses pembelajaran agar mengarah supaya siswa mampu mengatasi setiap tantangan dan rintangan kehidupan melalui sejumlah kompetensi yang harus dimiliki, antara lain: kompetensi akademik, kompetensi okupasional, kompetensi kultural, dan juga kompetensi temporal. Esensi belajar bukan hanya mendorong anak agar mampu menguasai sejumlah materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka memiliki sejumlah kompetensi untuk mampu menghadapi rintangan yang muncul seiring dengan perubahan pola kehidupan masyarakat. Dengan demikian makna proses pembelajaran adalah :
    1. Pembelajaran adalah proses berpikir. Asumsi dari pembelajaran berpikir: pengetahuan bukan datang dari luar, akan tetapi dibentuk oleh individu itu sendiri dalam struktur kognitif yang dimilikinya. Pembelajaran berpikir beranggapan bahwa mengajar sama sekali bukan memindahkan pengetahuan dari guru pada siswa, akan tetapi suatu kegiatan yang memungkinkan siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya. Menurut Bettencourt (1985) mengajar dalam pembelajaran berpikir adalah berpartisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi.
    Dalam proswes pembelajaran La Costa (1985) mengklasifikasikan mengajar berpikir menjadi tiga: teaching of thinking, teaching for thinking, teaching aboat thingking. Teaching of thinking merupakan proses pembelajaran yang diarahkan untuk pembentukan keterampilan mental tertentu, seperti: berpikir kritis, berpikir kreatif, dan lain sebagainya. Pembelajaran jenis ini lebih menekankan kepada aspek tujuan pembelajaran. Teaching for thinking merupakan proses pembelajaran yang diarahkan pada usaha menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendorong terhadap pengembangan kognitif. Jenis pembelajaran ini lebih menitikberatkan kepada proses menciptakan suasana keterbukaan yang demokratis, menciptakan iklim yang menyenangkan guna mengoptimalkan perkembangan siswa. Teaching aboat thinking adalah pembelajaran yang diarahkan pada upaya untuk membantu agar siswa lebih sadar terhadap proses berpikirnya. Dengan demikian, menekankan kepada metodologi yang digunakan dalam proses pembelajaran.
    2. Proses pembelajaran adalah memanfaatkan potensi otak. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Menurut beberapa ahli, otak manusia terdiri dari dua bagian : otak kanan dan otak kiri. Masing-masing bagian memiliki spesialisasi dalam kemampuan-kemampuan tertentu. Proses berpikir otak kiri bersifat: logis, sekuensial, linear, dan rasional. Sisi ini serba teratur. Cara berpikirnya sesuai untuk tugas-tugas teratur ekspresi verbal, membaca, menulis, asosiasi auditorial, menempatkan detail dan fakta, fonetik serta simbilis.
    Sedang cara kerja otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif dan holistik. Cara berfikirnya lebih sesuai untuk mengetahuai yang bersifat non verbal seperti perasaan dan emosi, kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreatifitas, dan visualisasi.
    Kedua belahan otak perlu dikembangkan secara optimal dan seimbang. Belajar yang hanya cenderung memanfaatkan otak belahan kiri, misalnya dengan memaksa anak untuk berpikir logis dan rasional akan mengkondisikan anak menjadi “kering dan hampa”.
    Pendapat ahli lain tentang otak adalah teori Otak Triune (=three in one). Berdasarkan teori ini, otak manusia terdiri dari tiga bagian: otak reptil, sistem limbik, dan neo kortek. Otak reptil adalah otak paling sederhana. Tugas utamanya mempertahankan diri. Otak ini menguasai fungsi-fungsi organ yang bekerja otomatis seperti degupan jantung dan sistem peredaran darah. Di sinilah pusat dari perilaku naluriah yang cenderung mengikuti contoh dan rutinitas secara membuta. Otak reptil diyakini sebagai otak hewan yang berfungsi untuk mengejar kekuasaan. Ia akan berbuat apapun demi mencapai tujuan yang diinginkannya dengan dalih pertahanan diri.
    Sistem limbik adalah otak tengah yang memainkan peranan besar dalam hubungan manusia dan dalam emosi. Fungsi otak ini bersifat sosial dan dan emosional. Dalam otak ini terkandung sarana untuk mengingat jangka panjang.
    Neokortek adalah otak paling tinggi tingkatannya. Otak ini memiliki fungsi tingkat tinggi, seperti: mengembangkan kemampuan berbahasa, berpikir abstrak, memecahkan masalah, merencanakan ke depan, ataupun berkreasi. Otak ini yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lain ciptaan Tuhan.
    Jika proses pembelajaran mampu mencapai otak neokortek, dengan sendirinya otak reptil dan sistem limbik akan terkembangkan; akan tetapi sebaliknya, pembelajaran yang hanya menyentuh otak limbik dan otak reptil belum tentu neokortek akan terkembangkan. Dengan demikian, setiap pembelajaran idealnya mengembangkan kemaampuan-kemampuan yang berhubungan dengan fungsi neokortek melalui pengembangan berbahasa, memecahkan masalah, dan membangun kreasi.
    3. Pembelajaran berlangsung sepanjang hayat. Belajar adalah suatu proses terus-menerus, tidak pernah berhenti, dan tidak terbatas di ruang kelas. UNESCO merumuskan empat pilar pendidikan universal (1996), yaitu: learning to know yang juga berarti learning to think, learning to do, learning to be, dan learning to live together.
    Learning to know mengandung pengertian bahwa belajar itu pada dasarnya tidak hanya berorientasi kepada produk atau hasil belajar, akan tetapi juga pada proses belajar. Dengan proses belajar, siswa akan memiliki kesadaran dan kemampuan bagaimana cara mempelajari dari setiap objek yang harus dipelajari itu. Dengan kemampuan demikian, proses belajar akan berlanjut meskipun sudah berada di luar kelas. Ini merupakan hakekat belajar sepanjang hayat. Jika hal ini dimiliki siswa, maka learning sociaty (masyarakat belajar) sebagai salah satu dambaan masyarakat informasi akan terbentuk. Oleh sebab itu, dalam konteks learning to know juga bermakna learning to think, sebab setiap individu akan terus belajar manakala dalam dirinya tumbuh kemampuan dan kemauan untuk berpikir.
    Learning to do mengandung pengertian bahwa belajar itu bukan hanya sekadar mendengar dan melihat dengan maksud akumulasi pengetahuan, tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan akhir penguasaan kompetensi yang diperlukan dalam era persaingan global. Siswa akan memiliki kompetensi manakala mendapat kesempatan melakukan sesuatu. Dengan demikian learning to do juga berarti proses pembelajaran berorientasi kepada pengalaman (learn by experiences).
    Learning to be mengandung pengertian bahwa belajar adalah membentuk manusia yang “menjadi dirinya sendiri”. Dengan kata lain, belajar untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu dengan kepribadian yang memiliki tanggung jawab sebagai manusia dalam kapasitasnya sebagai khalifah di muka bumi dengan menyadari segala kelebihan dan kekurang/kelemahannya.
    Learning to live together adalah belajar untuk bekerjasama. Tuntutan kebutuhan masyarakat global, manusia baik secara individu atau kelompok tidak mungkin hidup sendiri atau mengasingkan diri bersama kelompoknya. Dalam konteks ini termasuk juga pembentukan masyarakat demokratis yang sepenuhnya memahami dan menyadari akan adanya perbedaan pandangan antar individu dan kelompok.

    V. INTELIGENSI GANDA
    Inteligensi Ganda (mutiple intelligence) ditemukan dan dekembangkan oleh Howard Gardner, seorang psikolog perkembangan dan profesor pendidikan dari Graduate School of Education, Harvard University Amerika Serikat. Gardner mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata.
    Berdasakan pengertian ini, dapat dipahami bahwa inteligensi bukanlah kemampuan seseorang untuk menjawab soal-soal tes IQ dalam ruang tertutup yang terlepas dari lingkungannya. Akan tetapi, inteligensi memuat kemampuan seseorang untuk memecahkan persoalan yang nyata dan dalam situasi yang bermacam-macam. Dalam pandangan Gardner seseorang dapat dianggap memiliki kemampuan inteligensi yang tinggi bila ia dapat menyelesaikan persoalan hidup yang kongkrit, bukan hanya dalam teori. Semakin seseorang terampil dan mampu menyelesaikan persoalan kehidupan yang situasinya semakin kompleks, semakin tinggi inteligensinya.
    Pengertian inteligensi Gardner ini sama sekali berbeda dengan pengertian yang dipahami sebelumnya. Sebelum ada teori Gardner ini, pengukuran inteligensi seseorang hanya didasarkan pada tes IQ, yang hanya mengukur kecerdasan matematis-logis dan linguistik. Menurut Gardner, pengukuran inteligensi yang hanya menekankan pada kemampuan matematis-logis dan linguistik tersebut telah menafikan kecerdasan-kecerdasan yang lain.
    Penemuan Gardner tentang inteligensi seseorang telah mengubah konsep kecerdasan. Bagi Gardner, suatu kemampuan bisa disebut inteligensi bila menunjukkan suatu kemahiran dan keterampilan seseorang untuk memecahkan masalah dan kesulitan yang ditemukan dalam hidupnya. Selanjutnya, kemahiran tersebut dapat menciptakan suatu produk baru tanpa menimbulkan persoalan berikutnya. Melalui suatu penelitian yang intensif guna mengidentifikasi beragam kecerdasan yang dimiliki manusia, akhirnya Gardner membagi kecerdasan ke dalam 9 kategori:
    1. Inteligensi linguistik (linguistic intelligence) seseorang dalam menggunakan kata-kata (lisan-tulisan), untuk mengekspresikan gagasan-gagasan yang dimilikinya. Kemampuan ini berkaitan dengan pengembangan bahasa secara umum. Orang yang mempunyai kecerdasan linguistik tinggi akan berbahasa lancar, baik, dan lengkap.
    2. Inteligensi matematis-logis (logic-mathematical intelligence), merupakan kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan penggunaan bilangan dan logika secara efektif, seperti yang dimiliki matematikawan, saintis, dan programer. Termasuk dalam kecerdasan ini adalah kepekaan pada pola logika, abstraksi, kategorisasi, dan perhitungan. Orang yang memiliki kecerdasan ini sangat mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi dalam pemikiran serta cara kerja.
    3. Inteligesi ruang (spatial intelligence), merupakan kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat, seperti yang dimiliki oleh para navigator, dekorator, pemburu, dan arsitek. Termasuk dalam kecerdasan ini adalah kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat, melakukan perubahan bentuk benda dalam pikiran dan mengenali perubahan tersebut, menggambarkan suatu hal dalam pikiran dan mengubahnya dalam bentuk nyata, serta mengungkapkan data dalam suatu grafik. Juga kepekaan terhadap keseimbangan, relasi, warna, garis, bentuk, dan ruang.
    4. Inteligensi kinestetik-badani (bodily-kinesthetic intelligence), merupakan kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan masalah. Orang yang mempunyai kecerdasan ini dengan mudah dapat mengungkapkan diri dengan gerak tubuh mereka. Apa yang mereka pikirkan dan rasakan dapat mereka ekspresikan dengan gerak tubuh, mimik, drama, dan peran.
    5. Inteligensi musikal (musical intelligensi), merupakan kemampuan untuk mengembangkan dan mengekspresikan, menikmati bentuk-bentuk musik dan suara, peka terhadap ritme, melodi dan intonasi, serta kemampuan memainkan alat musik, menyanyi, menciptakan lagu, menikmati lagu, musik, dan nyanyian.
    6. Inteligesi interpersonal (interpersonal intelligence), merupakan kemampuan seseorang untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak, dan temparemen yang lain. Kepekaan akan ekspresi wajah, suara, dan juga isyarat dari orang lain. Inteligensi ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menjalin relasi dan komunikasi dengan berbagai orang. Kecerdasan ini banyak dimiliki oleh komunikator, fasilitator, dan penggerak massa. Seseorang yang memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi mudah bergaul dan berteman sehingga dengan mudah dapat masuk dalam kelompok. Siswa yang memiliki kecerdasan ini lebih menyukai belajar bersama dan mudah berempati.
    7. Inteligensi intrapersonal (intrapersonal intelligence), yaitu berupa kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan tentang diri sendiri dan mampu bertindak secara adaptif berdasarkan pengenalan diri. Termasuk dalam kecerdasan ini adalah kemampuan berefleksi dan menyeimbangkan diri, mempunyai kesadaran tinggi akan gagasan-gagasan, mempunyai kemampuan mengambil keputusan pribadi, sadar akan tujuan hidup, dapat mengendalikan emosi, sehingga akan kelihatan sangat tenang. Orang dengan inteligensi ini akan dapat berkonsentrasi dengan baik, pengenalan terhadap diri sendiri mendalam dan seimbang, memiliki kesadaran realitas, suka bekerja sendirian, pendiam, dan kurang tertarik bekerjasama.
    8. Inteligensi lingkungan /natural (natural intelligence). Menurut Gardner, orang yang memiliki kecerdasan lingkungan atau natural ini memiliki kemampuan mengerti flora dan fauna dengan baik, dapat memahami dan menikmati alam dan menggunakannya secara produktif dalam bertani, berburu dan mengembangkan pengetahuan akan alam. Orang yang memiliki kecerdasan natural memiliki kemampuan untuk tinggal di luar rumah, dapat berhubungan dan berkawan dengan alam secara baik, memiliki kemampuan mengenal dan mengklasifikasikan tanaman, hewan, bebatuan dan lain sebagainya. Siswa yang memiliki kecerdasan natural tinggi akan senang bila belajar dilakukan di luar sekolah, misalkan dengan berkemah, observasi di lapangan karena akan memberikan kesempatan bagi mereka untuk menikmati alam.
    9. Inteligensi eksistensial (existential intelligence). Inteligensi ini lebih menyangkut kepekaan dan kemampuan seseorang dan menjawab persoalan-persoalan terdalam mengenai eksistensi manusia. Orang berinteligensi ini mencoba menyadari dan mencari jawaban yang terdalam.pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah mengapa aku ada, mengapa aku mati, apa makna dari hidup ini, bagaimana manusia sampai ke tujuan hidup.
    Kemampuan-Kemampuan yang Terkait dengan Kecerdasan Ganda
    Inteligensi Kemampuan menonjol terkait Menonjol pada fungsi Contoh
    Linguistik verbal Mengerti urutan dan arti kata-kata.
    Menjelaskan, mengajar, bercerita, berdebat,.
    Humor
    Mengingat dan menghafal
    Analisis linguistik
    Menulis dan berbicara
    Main drama, berpuisi, berpidato
    Mahir dalam perbendaharaan kata Dramawan, editor, pengarang, jurnalis, sastrawan, orator, ahli sastra, novelis W.S. Rendra, Sukarno, Marthin Luther, Zoetmoelder, Motinggo Busye, Pramudya, Gunawan, Mohammad, Jhon Paul II.
    Matematis-logis Logika
    Reasoning, pola sebab akibat
    Klasifikasi dan kategorisasi
    Abstraksi, simboli- sasi
    Pemikiran induktif dan deduktif
    Menghitung dan bermain angka
    Pemikiran ilmiah
    Problem solving
    Silogisme Logikus, matematikus, saintis, programer, negosiatir. Einstein, Stephen Hawking, Jhon Dewey, Russell, Andi Hakim Nasution
    Ruang-visual Mengenal relasi benda-benda dalam ruang dengan cepat
    Mempunyai persepsi yang tepat dari berbagai sudut
    Representatif grafik
    Manipulasi gambar, menggambar
    Mudah menemukan jalan dalam ruang
    Imajinasi aktif
    Peka terhadap warna, garis, bentuk. Pemburu, arsitek, dekorasi, navigator, ahli peta, pelukis, pemahat, penggambar, pemain catur Pablo Picasso, Affandi, Sidharta, Gary Kasparov, Michaelangelo
    Kinestetik-badani Mudah berekspresi dengan tubuh
    Mengkaitkan pikiran dan tubuh
    Kemampuan main mimik
    Main drama, main peran
    Aktif bergerak, olahraga, menari
    Koordinasi dan fleksibilitas tubuh tinggi Aktor, atlet, penari, pemahat, ahli bedah, olahragawan. Mohammad Ali, Sidartha, Rudi Hartono, Agassi, Charlie Chaplin, Kristi Yamaguchi, Dustin Hoffman
    Musikal Kepekaan terhadap suara dan musik
    Tahu struktur musik dengan baik
    Mudah menangkap musik
    Mencipta melodi
    Peka dengan intonasi, ritmik
    Menyanyi, pentas musik
    Mencipta musik
    Pemain alat musik Musikus, penyanyi, pemain opra, komponis, dirigen, pemain musik Mozart, Bach, Beethoven
    Interpersonal Mudah kerjasama dengan teman
    Mudah mengenal dan membedakan
    Perasaan dan pribadi teman
    Komunikasi verbal dan nonverbal
    Peka terhadap teman, empati
    Suka memberikan feedback Komunikator, fasilitator, peggerak massa, pemersatu Bunda theresa, Mahatma Ghandi, Reagan
    Intrapersonal Dapat berkonsentrasi dengan baik
    Kesadaran dan ekspresi perasaan-perasaan yang berbeda
    Pengenalan diri yang dalam
    Keseimbangan diri
    Kesadaran akan realitas spiritual
    Reflektif, suka kerja sendiri Pendoa batin, spiritual yang mendalam, pendamai Freud, Thomas Merton, Harry Truman
    Lingkungan/natural Mengenal flora dan fauna
    Mengklasifikasikan dan identifikasi tumbuhan, binatang, suka pada alam, hidup di luar rumah
    Botanis, anatomis Darwin
    Eksistensial Kepekaan dan kemampuan untuk menjawab persoalan eksistensi manusia, apa makna hidup ini, mengapa kita lahir dan mati Filosof, berefleksi tentang keberadaan Plato, Socrates, Thomas Aquinas, Kant, Nietzche
    Sumber: Baharudin, Esa Nurwahyuni, Teori Belajar dan
    Pembelajaran

    VI. KECERDASAN EMOSIONAL DAN
    SPIRITUAL

    A. PARADIGMA BARU KECERDASAN: EMOSIONAL DAN SPIRITUAL
    Melalui suatu pengamatan yang seksama Daniel Goleman, seorang pikolog dari Harvard University Amerika Serikat, menemukan inkonsistensi korelasi antara IQ (kecerdasasan intelektual) dan keberhasilan dalam kehidupannya. Setelah hampir satu abad seluruh dunia mendewakan IQ sebagai satu-satunya faktor penentu keberhasilan seseorang, pada tahun 1995 Daniel Goleman memaparkan fakta baru bahwasannya asumsi tersebut tidaklah sepenuhnya benar.
    Dalam temuannya, tingkat inteligen yang tinggi tidak menjamin gengsi, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kesuksesan hidup. Daniel Goleman berpendapat ada aspek kecerdasan lain yang sama pentingnya guna meraih sukses yaitu kecerdasan emosional.
    Kecerdasan emosional menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk mengendalikan, mengorganisasi, dan mempergunakan emosi ke arah kegiatan yang mendatangkan hasil optimal. Emosi yang dikendalikan ini merupakan dasar bagi otak untuk dapat berfungsi dengan baik. Dengan demikian, kecerdasan emosi tidak mengabaikan kecerdasan intelektual, tetapi melengkapinya agar menjadi satu kekuatan inhern dalam diri seseorang.
    Selanjutnya Danah Zohar (Harvard University)dan Ian Marshal (Oxford University) setelah melalui riset yang komprehensif mengajukan pandangan adanya “Q” ketiga, yaitu Spiritual Intelligence sebagai faktor determinan yang sangat penting bahkan merupakan kecerdasan puncak.
    Wolf Singer ahli syaraf Austria pada era 1990-an (Ary Ginanjar Aguatian, 2002) juga menemukan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita, suatu jaringan syaraf yang secara literal “mengikat” pengalaman ki


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: