Mengupas Makna ‘Damai’ ala Konstruksi Kompas : Moderat, Sekuler, Pluralisme

Oleh Syifaunsyah[1]
Media massa memiliki peranan penting dalam kebudayaan dewasa ini. Media massa tak sekadar menyampaikan berita, tetapi juga telah menjadi pelaku yang membangun kesadaran tertentu kepada pembacanya. Hal ini patut disadari, bahwa apa yang kita terima dari media massa perlu kita waspadai. Harian Kompas sebagai sebuah media massa memiliki pengaruh penting terhadap tumbuh kembang kebudayaan kita dewasa ini, cara berpikir sebagian dari kita, khususnya pembacanya. Pada 2011,Kompas memiliki tiras sebesar 500.000 eksemplar dan dibaca oleh 2,25 juta jiwa yang sebagian besar adalah umat Islam [2].
Menelaah Kompas dalam hal-hal tertentu menjadi penting untuk melihat bagaimana media ini membangun ide tertentu. Hal ini dilakukan bukan untuk mengembangkan kecurigaan, tetapi sebagai pembaca, kita berhak untuk menelaah dan bahkan mengkritisi sisi tertentu dari Kompas. Kita dapat bersepakat bahwa tidak ada yang bebas nilai dalam dunia akademik dan juga jurnalistik. Oleh karena itu,Kompas berhak memuat tulisan dengan cara-cara yang khas sesuai dengan pandangannya sebagaimana kami berhak melihat sisi-sisi tertentu dari Kompas dengan cara pandang kami.
Pada tulisan ini, kami akan menelaah kata damai dalam sudut pandang harian Kompas, khususnya dalam tulisan-tulisan Kompastentang agama dan kehidupan beragama di Indonesia. HarianKompas dalam kurun waktu Januari hingga Juli 2012 memuat 27 tulisan (baik artikel ataupun berita) tentang agama dan kehidupan beragama di Indonesia.
Berikut daftar tulisan yang kami maksud: 1. Presiden: Tradisi Tarekat Membantu Bangsa Ini (12 Januari 2012, hlm 3, rubrik politik & Hukum); 2. Aburizal Bakrie: Tegakkan Pancasila dan UUD 1945 (16 Januari 2012, hlm 5, rubrik Politik & Hukum); 3. Sumanto Al Qurtuby: Menjelajah Pengalaman Religiositas (28 Januari 2012, hlm 5, rubrik Politik & Hukum); 4. Memuat Hidup Damai, Memutus Rantai Dendam (2 Februari, hlm 25, rubrik Nusantara); 5. Hormati Perbedaan (6 Februari 2012, hlm 3, rubrik Politik & Hukum); 6. Tingkatkan Tanggung Jawab Sosial (9 Februari, hlm 4, rubrik Politik & Hukum); 7. Menikmati Harmoni Thai Pusam di Binjai (14 Februari 2012, hlm 23, rubrik Nusantara); 8. Damai dan Cintai Semu. (18 Februari, hlm 12, rubrik Pendidikan & Kebudayaan); 9. Kebangsaan NKRI jadi Tanggung Jawab Bersama (23 Februari, hlm 4, rubrik Politik & Hukum); 10. Demokrasi di Sulawesi Utara (bagian 5). (3 Maret 2012, hlm 5, rubrik Politik & Hukum); 11. Peringatan Maulid: Momen Membangun Kesadaran Nasionalisme (10 maret 2012, hlm 4, rubrik Politik & Hukum); 12. Polda Jabar Dalami Jaringan Indramayu (19 Maret 2012, hlm 22, rubrik Nusantara); 13. Menebar Damai di tengah Kekerasan (22 Maret 2012, hlm 1, Berita); 14. Demokrasi Beri Ruang untuk Perbedaan (11 April 2012, hlm 5, rubrik Politik & Hukum); 15. Museum Gong Diresmikan (18 April 2012, hlm 23, rubrik Nusantara); 16. Presiden: Kekerasan Tidak Boleh Terus Terjadi di Negeri (21 April 2012, hlm 4, rubrik Politik & Hukum); 17. Waisak dan Kekerasan (5 Mei 2012, hlm 6, rubrik Tajuk Rencana); 18. Budaya Multikultural Hadapi Tantangan (9 Mei 2012, hlm 12, rubrik Nusantara); 19. Semangat Kebangsaan Menjadi Inspirasi (18 Mei 2012, hlm 5, rubrik Politik & Hukum); 20. Kesadaran Toleransi Perlu Ditanamkan Sejak Kanak-Kanak (Hlm 5, rubrik Politik & Hukum); 21. Film “Soegija” Bangkitkan Nasionalisme (22 Mei 2012, hlm 12, rubrik Pendidikan & Kebudayaan); 22. (100 Tahun Seminari Mertoyudan) Bermati Raga, Semaikan Kerukunan. (Hlm 1, Berita); 23. (pesta Kesenian Bali xxxiv) Presiden: Selesaikan Konflik Melalui Jalan Damai (11 Juni 2012, hlm 3, rubrik Politik & Hukum); 24. Toleransi Jadi Isu Bersama: Media Lebih Efektif Sebarkan Nilai-nilai(16 Juni, hlm 4, rubrik Politik & Hukum); 25. Penting, Mereka Saling Menyayangi (27 Juni 2012, hlm 4, rubrik Politik & Hukum); 26. Pahami Agama Secara Arif (6 Juli 2012, hlm 4, rubrik Politik & Hukum); 27.Dakwah Dikemas dengan Budaya Lokal (16 Juli 2012. Hlm 5, rubrik Politik & Hukum).
Maka, 27 tulisan itulah yang menjadi landasan bagi kami menelusuri makna kata damai. Kami berusaha mencari bagaimana jaringan makna baru dari kata damai yang didapat pada tulisan-tulisan tentang agama dan kehidupan beragama di Indonesia dengan melihat jaringan pragmatiknya. Untuk itu, kami menggunakan rumus analisis struktur Teun Adrianus van Dijk sebagai alat bedah. Pendekatan ini berguna untuk melihat hubungan kata damai dengan jaringan kata dan kalimat lain yang berhubungan erat dengannya.[3]
Van Dijk menjelaskan bagaimana cara melihat jejaring makna dalam sebuah teks yang utuh. Ia menawarkan beberapa kaidah sebagai alat bantu: deletion-selection-construction. Van Dijk membagi tiga struktur wacana (teks berita): pertama struktur makro, yaitu struktur makna dari teks secara utuh; kedua struktur mikro, struktur makna yang ada dalam kalimat per kalimat; yang terakhir struktur meso, yaitu struktur baru yang didapat dari jejaring struktur mikro, Kemudian struktur makro yang didapat dari jejaring struktur meso. Makna struktur ini didapat dari kaidah-kaidah deletion-selection. Teks-teks (kalimat) yang tidak berhubungan dengan hal yang ingin dibahas dihapus. Dengannya, otomatis ia dikenakan kaidah selection. Kemudian dari kalimat/kata/frasa yang sudah diseleksi, dibuat sebuah proposisi baru (construction) yang selanjutnya proposisi ini yang akan dikaji keterikatannya dengan kata tertentu.
Kami berupaya menerapkan teori Van Dijk terhadap 27 tulisan di atas. Dari setiap artikel, kami mencoba mencari kata-kata apa saja yang melingkupi kata damai dan proposisi apa saja yang melingkupi katadamai dalam 27 tulisan di atas. Kemudian kami menyusun hubungan kata damai tersebut dengan kata-kata lain, membandingkannya dengan kamus dan tesaurus, dan terakhir menarik kesimpulan.
Berikut ringkasan hasil yang kami dapat dari proses di atas. Dalam 27 tulisan Kompas di atas, kata damai dihubungkan dengan kata/frasa:
1. toleransi
2. anti kekerasan
3. harmonis
4. moderat
5. saling menghargai
6. agama
7. dinamis, kemanusiaan, dan terbuka
8. pluralisme.
Sementara proposisi yang tercipta antara lain berikut ini.
1. Kedamaian terjadi jika manusia berpikiran terbuka, inovatif, dan toleran.
1. Damai jika kita menghargai/menghormati perbedaan dan keragaman.
2. Damai terjadi karena adanya keharmonisan, keselarasan, dan toleransi akibat adanya sikap welas asih.
3. Damai terjadi jika mengikuti sikap ajaran tarekat yang menyejukkan, tanpa kekerasan.
4. Damai adalah jika hak dan kesetaraan terjamin, intim, berdampingan, dan ada dialog.
5. Damai terjadi jika Islam di Indonesia moderat.
6. Damai tercipta jika bisa saling memaafkan, bertoleransi, memahami keyakinan orang lain, dan tidak fanatik terhadap agama.
7. Damai dapat terjadi jika pemahaman Islam dikemasi dalam bentuk damai dan mengajarkan perdamaian.
8. Aman, damai, dan kondusif terjadi jika anti terhadap terorisme, radikalisme, dan separatisme.
9. Damai terjadi jika agama dipahami dengan luwes dan sesuai dengan adat dan kepercayaan penduduk.
10. Sikap toleran, pluralis, dan saling menghargai seperti yang diajarkan Katolik membuat munculnya kedamaian.
11. Mengikuti ajaran Hindu membuat damai.
12. Damai tercipta jika berlandaskan kebangsaan dan kemanusiaan seperti apa yang diajarkan oleh Katolik.
13. Kristen Katolik dapat menyebarkan perdamaian sebagai contoh kemanusiaan dan relasi antar sesama.
14. Damai bisa terjadi jika nilai-nilai kemanusiaan di atas nilai-nilai formal agama.
15. Damai dapat tercipta jika pemahaman Islam mengajarkan perdamaian, kerukunan, dan persatuan, bersifat universal dengan mengikuti Pancasila sebagai asas.
16. Damai bisa terjadi jika nilai-nilai kemanusiaan di atas nilai-nilai ketuhanan (nilai formal agama).
17. Damai tercipta jika kita memahami bahwa setiap agama mengandung kebenaran, semua agama sejatinya sama, dan kita menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa kata damai, dalam 27 artikel Kompas tentang keagamaan dan kehidupan beragama di Indonesia, dikaitkan dengan kata-kata berikut: toleransi, anti kekerasan, harmonis, moderat, saling menghargai, agama, dinamis, kemanusiaan, terbuka, dan pluralisme. Kata-kata tersebut berhubungan/dikaitkan dengan kata damai melalui bermacam proposisi seperti yang diringkaskan di atas.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia 2008, kata damai memiliki makna sebagai berikut:
damai a 1 tak ada perang; aman; tidak ada kerusuhan: dl masa – perindustrian maju pesat; 2tenteram; tenang: betapa – hati kami; 3 keadaan tidak bermusuhan; rukun: keluarga itu selalu hidup dng –; pertikaian itu sudah diselesaikan secara –;
Turunan dari kata damai antara lain:
perdamaian n penghentian permusuhan (perselisihan dsb); perihal damai (berdamai);
pendamai n orang atau pihak yg mendamaikan;
kedamaian n keadaan damai; kehidupan yg aman tenteram.[4]
Sementara dari Tesaurus Bahasa Indonesia, kita akan mendapati:
damai a adem ayem, akur, aman, bahagia, baik, enak, guyub, harmoni, jenjam, kompak, nyaman, rukun, sakinah, salam, sejahtera, sentosa, syahdu, tenang, tenteram; ant kacau balau; rusuh
perdamaian n peleraian, pemufakatan, penyelesaian, perbaikan, persesuian, perundingan, rekonsiliasi; ant permusuhan
kedamaian n keamanan, kebahagiaan, keguyuban, kekompakan, kenyamanan, keragaman, kerukunan, kesakinahan, kesejahteraan, keselamatan, kesentosaan, kesyahduan, ketenangan, ketenteraman ant kekacauan[5]
Jika merujuk pada makna dalam kamus dan tesaurus di atas, kata moderat, sekuler, pluralisme, tidak fanatik, dan beberapa kata/frasa lainnya tidak berjaring makna dengan kata damai. Artinya, makna ini disusun berdasarkan pertimbangan lain, di luar kamus bahasa. Kompas melihat kata damai harus dihubungkan dengan kata-kata/frasa-frasa lain yang sesuai keinginannya. Seperti yang telah dikemukakan oleh Fairclough dan Van Dijk di atas, ideologi Kompas memiliki peran penting dalam menciptakan jejaring makna lain, yang baru, yang tidak ada di dalam kamus.
Dalam wacana berita media, ideologi tidak tercantum dengan jelas pada teks. Posisi ideologi media massa pada berita yang dibuatnya hadir di belakang teks. Teks sendiri, baik dalam bentuk kata, paragraf, hingga keseluruhan teks menjadi cermin dari hadirnya ideologi. Van Dijk menyatakan bahwa dalam teks, kita dapat melihat hadirnya ideologi dengan memeriksa posisi subjek, peran topik, struktur kalimat, pola sintaksis, pola semantik, kohesi, dan lain-lain[6].
Dari telaah di atas, terlihat jelas bahwa Kompas ingin menghadirkan makna kata damai dalam nuansa yang sekuler, antifundamentalisme, anti terorisme, dan harus menuju ke arah moderat. Ada kecenderungan untuk menghadapkan kata damai dengan sikap keberagamaan yang “keras”, khususnya kepada pihak Islam. Alur tulisan-tulisan di atas mengarah pada suatu bentuk Islam yang pro kedamaian yang harus dibela, dan suatu bentuk Islam yang berkecenderungan pada kekerasan yang harus dikikis. Sikap seperti ini patut ditelaah. Sebab, Islam memiliki sisi yang lembut tetapi memiliki pula sisi-sisi yang keras dan tegas.
________________________________________
[1] Artikel ini adalah ringkasan dari penelitian Komunitas NuuN yang berjudul Makna ‘Damai’ ala Kompas: Analisis Jaringan Makna Pragmatik Kata ‘Damai’ dalam Pemberitaan tentang Agama dan Kehidupan Beragama di Indonesia pada Harian Kompas Januari-Juli 2012. tidak diterbitkan.
[2] Harian ini bertiras hingga menembus angka 500.000 per hari (2004) bahkan Kompas edisi Minggu pada tahun yang sama malah mencapai 610.000 eksemplar (id.wikipedia.org/wiki/Kompas_(surat_kabar). Pada tahun 2011, Kompas cetak edisi digital memiliki sirkulasi oplah rata-rata 500.000 eksemplar (ibid). Jumlah pembaca harian ini berkisar pada angka 2,25 juta jiwa rata-rata per hari (ibid).
[3] Teun Adrianus van Dijk. Macrostructures: An Interdisciplinary Study of Global Structures in Discourse, Interaction, and Cognition. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc. 1980.
[4] Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008. Halaman 309.
[5] Ibid, halaman 309-310.
[6] Teun Adrianus van Dijk, News As Discourse. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers, 1988. Halaman 11-12.

Sumber: http://www.komunitasnuun.org/2014/04/mengupas-makna-damai-ala-konstruksi-kompas-moderat-sekuler-pluralisme/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: