PT Indonesia Raya Tbk

Ini bukan tentang sebuah perusahaan atau jawatan. Ini tentang cara berpikir yang menggandrung di beberapa kalangan akhir-akhir ini. Di dunia politik, sepak bola, pendidikan, ekonomi, sastra, dan lain sebagainya. Ini tentang merajalelanya cara berpikir yang berpokok pada uang sebagai ukuran terakhir untuk segala hal. Atau tentang cara berpikir yang landasan-landasannya adalah angka dan hitungan semata-mata.

Ada baiknya saya paparkan beberapa cerita yang berasal dari beberapa obrolan dan pengalaman untuk menengarai apa yang saya sebutkan di paragraf pertama itu. Ini beberapa cerita itu.

Pada tahun 2001, almarhum Harry Roesli pernah bilang bahwa musiknya Sheila on 7 itu adalah musik yang tidak akan bertahan lebih dari dua tahun. Saat itu Sheila sedang berada di puncak keterkenalan. Banyak yang heran dengan perkataan almarhum. Tapi kemudian itu terbukti. Sheila on 7 sekarang sudah masuk ke dalam kenangan banyak orang. Padahal para penggawanya masih hidup semua.

Beberapa tahun lalu, ketika Kangen Band hadir di belantika musik tanah air, suara-suara semacam yang diucapkan Harry Roesli itu muncul lagi. Bahkan lebih keras. Seorang teman menyebut itu sebagai sesuatu yang “easy listening but stupid culture”. Lalu muncul gerombolan pemusik lelaki yang kenes-kenes. Sikap keperempuan-perempuanan kaum adam menjamur menemani bermacam acara hiburan. Juga perayaan segala sesuatu yang tampak dipaksakan. Orang-orang beramai memagari giginya sendiri. Warna merah muda tiba-tiba merajalela. Dan teriakan juga kegembiraan yang seperti tanpa alasan ada di mana-mana.

Pada tahun 2010 saya menjumpai seorang pelajar SMA di angkot jurusan Kebon Kalapa-Dago (di Bandung) mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Itu adalah cermin. Pelajar itu membedaki mukanya di dalam angkot. Dan itu adalah pelajar laki-laki. Saat itulah dunia kreatif muncul begitu lembut. Yang bawah tanah macam anak-anak punk berdampingan dengan yang berbedak itu. Yang jalanan dan yang resmi makin kabur. Sebab setahun kemudian, di Kalibata, di pinggiran Taman Makam Pahlawan, saya bertemu anak punk yang mabuk anggur merah. Itu sore-sore, bukan malam hari. Dia mabuk karena patah hati. Anak punk patah hati adalah sebuah persekongkolan aneh semacam “rocker juga manusia”. Sisi yang sekian lama dianggap berseberangan itu berkongsi. Jadi paduan yang awalnya agak sulit dipercaya tetapi kemudian membiasa, mewabah dan jadilah sebuah keadaan baru. Lelaki bertato, berbadan kekar tetapi lemah gemulai keperempuan-perempuanan menjadi sesuatu yang mewajar dan akhirnya berterima.

Pamflet-pamflet dan poster mahasiswa juga menjadi lebih ceria dan segar. Sulit menemukan seruan semacam “Kenakan jaket kuningmu, tegakkan keadilan, songsong hari-hari penuh perjuangan!” Apalagi yang semacam “Hanya ada satu kata: Lawan!” Berganti dengan seruan asik semacam “Jadi mahasiswa gak harus susah, ikuti pelatihan entrepreneurship bersama …!” Atau lawakan-lawakan tentang kesepian dan kesendirianan. Anda tahu Izzatul Islam? Atau Arruhul Jadid? Itu dua kelompok nasyid yang 10 atau 15 tahun lalu syair-syairnya begitu memberi semangat pada gerakan mahasiswa Muslim yang sekarang lagu-lagunya kalah tenar dari bermacam seruan seminar pranikah atau buku-buku cara cepat masuk surga.

Zaman memang berubah. Kita sedang menempuh jalan baru. Kita sedang bergerak meninggalkan slogan-slogan perjuangan yang menggugah semangat menuju foto ceria sambil melompat yang diunggah ke jejaring sosial. Tak ada lagi kata “Lawan!” milik Wiji Thukul, berganti dengan semangat “Cieee.., cieee..,” milik para pencemburu yang terpaksa bilang “Da aku mah apah atuh” ketika yang dicintai memilih orang lain. Inilah zamannya ketika kepal tangan di demonstrasi yang berakhir bentrok berganti dengan perlombaan tanda pagar antara dedek-dedek mahasiswi yang lucu, polisi-polisi cantik, para politisi, mantan Presiden RI dan Presiden RI.

..,

“BEM dan organ-organ ekstra itu udah gak kuat lagi sekarang. Semua orang bisa kok berorganisasi tanpa harus masuk BEM, HMI, KAMMI, PMII, LDK. Sekarang dua atau tiga orang bisa berkumpul, bikin kegiatan antikorupsi, penyuluhan ke SD-SD, bikin beritanya, bikin videonya, tampilin di Youtube, di Facebook, di Twitter, bikin blog atau web, Lu udah jadi aktivis. Pake Bahasa Inggris, bikin aliansi sama mahasiswa di Eropa atau Amerika, udah. Sekarang kreativitas yang penting ….”

Itu pendapat seseorang yang dulunya aktivis mahasiswa. Saya tanya: Lalu bagaimana dengan ideologi atau semangat kebangsaan?

”Sekarang itu yang penting brand. Kita harus branding prodak-prodak kita. Batik misalnya. Kita harus kreatif, harus ngebrand batik sehingga dapat bersaing di pasar dunia. Yang penting kita terus menghasilkan prodak dan kreatif. Indonesia ini kaya. Ada batik, kopi, teh dan lainnya. Kita bisa pasarkan itu ke seluruh dunia, asal kita kreatif dan mampu bersaing. Transparansi harus. Birokrasi dibenerin. Akses dibuka sebesar-besarnya.”

Lalu bagaimana dengan ideologi atau semangat kebangsaan?

“Lu liat sekarang, mana partai politik yang ideologis? Semuanya udah jualan, Bos. Siapa yang bisa ngebrand, dia yang menang!”

Saya masih mendebat. Bahwa batik yang terlalu dijerumuskan ke dalam semangat perdagangan adalah batik yang digerusi nilai-nilai filosofisnya. Bahwa batik yang dijadikan sepatu adalah penghinaan terhadap makna batik itu sendiri.

“Ya itu pilihan kalau mau bertahan. Kalau lu tetep keukeuh dengan nilai-nilai filsafat dan rumit, ya jelas susah diterima zaman ini. Lu gak bakal bisa bersaing. Sekarang kita perlu yang bisa bersaing di pasar dunia dan gak ribet”.

Termasuk agama dan filsafat?

“Ya kalau agama dan filsafat mau bertahan, lu harus branding biar laku di pasar dunia. Biar ada yang minat dan bisa menghasilkan kesejahteraan bagi penganutnya”.

Duh Gusti, agamamu apa iya musti dibranding juga?

..,

Asia Tenggara, khususnya Indonesia, adalah pasar yang menarik bagi apa saja. Bagi kesebelasan sepak bola, perusahaan motor, sampai pabrik celana dalam semuanya perlu Indonesia. Indonesia adalah area luas, yang pasarnya sangat fanatik dan loyal. Maka Juventus, Inter Milan, AC Milan, Arsenal, Chelsea, Liverpool datang ke Indonesia untuk meluaskan pasar. Di motor Honda Marc Marquez yang dia pakai untuk balapan MotoGP ada tulisan “Satu Hati”. Di motor Yamaha Valentino Rossi ada tulisan “Selalu di Depan”.

Bahasa Indonesia tampil di muka pagelaran antarbangsa. Bukan karena bahasa Indonesia itu mereka anggap bagus, tapi karena masyarakat Indonesia adalah pasar paling menggemaskan untuk dihisap sebanyak-banyaknya demi keuntungan. Itu soal niaga semata-mata, bukan soal penghargaan untuk sebuah bahasa, sebab Yamaha dan Honda tidak memuat sajak Rendra atau Sutardji di motor mereka.

..,

Pada suatu waktu, sebuah rapat pergerakan mahasiswa dilangsungkan di sebuah warung minuman bernama 7-Eleven di kawasan Kemang. Beberapa aktivis mahasiswa berkumpul di sana. Mereka akan menyelenggarakan sebuah seminar penting tentang “Jadi diri sendiri itu asyik!!!” Di satu pojok, seorang remaja putri begitu khawatir dengan lelakinya yang tampak mabuk. “Udah, kamu jangan minum lagi …,” ujarnya antara hendak menangis dan manja. Kemudian keduanya pergi. Sang lelaki terhuyung dipapah perempuannya. Lelaki muda itu baru saja menenggak sebotol Mix Max. Seorang mahasiswi berjilbab peserta rapat yang melihat kejadian itu tampak prihatin. “Anak zaman sekarang, masih SMA udah mabuk-mabukan ….”

Di ujung hidup yang lain, seorang yang lebih layak disebut CEO sebuah jurnal sajak berdiri dengan angkuh setelah sebuah operasi politik dan uang mengantarkannya menjadi salah satu dari 33 tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia ini. Namanya berjejer bersama Chairil Anwar, Amir Hamzah, Rendra, Taufik Ismail, dan lainnya. Padahal, selama ini dia dikenal sebagai tukang jual jasa perbedakgincuan demokrasi.

..,

Yang susah-susah dan rumit itu memang sudah (dianggap) susah bersaing di zaman ketika ada pelajar lelaki menggunakan maskara. Cara berpikir kaum tukang berniaga sudah hampir menang. Dalam politik, jelas brand yang baik lebih penting dari ideologi. Perilaku seorang pendukung fanatik Manchester United yang tidak pernah ke Inggris tampak tak berbeda jauh dengan seorang awam pendukung tokoh politik tertentu. Semuanya telah menjadi fanatik, loyal, menabikan apa yang diloyali dan difanatiki, dan jelas susah diajak bicara menggunakan hukum-hukum akal sehat.

Bagi pendukung MU, selamanya Liverpool adalah musuh. Bagi pendukung Juventus, Inter Milan adalahmerda! MU dan Liverpool selalu butuh para fanatik yang tak menganuti hukum-hukum akal sehat macam itu agar tentakel-tentakel industri sepak bola mereka dapat terus menghisap keuntungan dari setiap pojok bumi yang dapat mengakses internet. Pun dengan para politisi. Seorang presiden sangat membutuhkan sebanyak mungkin, seberjuta-juta mungkin, orang-orang yang enggan menggunakan akal sehatnya. Sebab brand dan branding adalah sebuah operasi yang lebih sering mengkhianati nalar.

Maka, agama yang ada dituntut pula untuk tidak terlalu rumit dan berat-berat. Para penganut agama adalah pasar paling loyal serta fanatik yang melandaskan keloyalan dan kefanatikannya pada iman. Apa saja yang dijual berdasarkan agama dan disesuaikan dengan kehendak pasar tentu akan laku keras. Kekayaan umat bisa dihisap sekuat-kuatnya oleh mesin industri apa pun bermerek agama. Yang susah-susah dan tak laku jual tak perlulah ikut serta dalam dunia niaga macam ini. Biar yang ringan dan mudah dicerna yang turut serta. Celakanya jika yang (dianggap) tak laku dan rumit itu ialah sumsumnya agama.

Dalam Islam, yang dianggap tidak laku dan yang dianggap rumit dan filosofis itulah yang justru dapat menapis cara berpikir industri itu. Itulah lawan kapitalisme dan segala ketidakadilan. Berpikir ilmiah, kebijaksanaan, hikmah, ilmu, adab, dan segala sesuatu yang memerlukan perenungan dan penghayatan memang tidak dapat direngkuh dengan instan dan tak pula bisa dibeli di warung-warung. Dan itu ialah yang dapat menarik garis keras perlawanan pada keserakahan dan angkara jenis apa pun. Kita tidak dapat membeli takwa dan sabar di tokobagus.com. Kita harus merengkuhnya dengan perjalanan, dengan belajar dan mengamalkan kebersihan batin.

..,

Ada endapan yang memang cukup dalam ketika bangsa ini dipimpin oleh sebuah birokrasi yang rusak. Ketidakefektifan, ketidakefisienan, serbalambat, tata kelola yang buruk, serbasulit, dan ribet. Lalu pengurusan segala sesuatu menjadi lumrah dengan cara-cara semacam “semua bisa diatur” atau “tahu sama tahu”. SIM, KTP, STNK, surat nikah, pengurusan haji, jual beli rumah, pendirian perusahaan, dan sebagainya terjebak dalam keadaan itu. Masuk akademi polisi, masuk akademi militer, jadi pegawai negeri sipil, tidak lepas dari keguyuban di mana koneksi dan sistem kekeluargaan menjadi penting. Kita kemudian bersama-sama muak dan tidak percaya bahwa ada sesuatu yang bisa benar dilakukan di negeri ini.

Keadaan begitu itu telah menghadirkan titik tidak percaya yang luar biasa dari sebagian kita bahwa orang baik masih ada. Apalagi dalam politik. Orang baik menjadi semacam mitos yang tidak ada di kenyataan. Ada yang hilang di dalam masyarakat kita. Kita tidak percaya bahwa kita satu sama lain masih bisa berbagi dan kebaikan itu mungkin dilakukan. Bahkan para agamawan dan partai-partai Islam. Kita melihat semuanya serbamunafik dan penuh penipuan. Kita kehilangan kepercayaan pada kewibawaan dan kita selalu curiga pada siapa saja, pada apa saja. Kita ada di titik ketidakpercayaan pada banyak hal karena terlalu lama dikecewakan oleh ketidakteraturan dan kecurangan.

Dalam keadaan macam itu, hadir sebuah tata berpikir baru. Bahwa kita harus profesional, harus efektif dan harus efisien. Harus kreatif. Apa yang baik dan apa yang bersih kemudian diserahkan pada diri masing-masing sembari dihadirkan nilai-nilai tanpa agama dan bersifat nisbi. Semua serbaterserah. Ketika mahasiswa tidak percaya pada organisasi-organisasi besar yang ada, mereka bisa berorganisasi sendiri tanpa perlu terikat dengan cara-cara lama yang telah mengakar dalam budaya organisasi mahasiswa. Orang-orang bisa berpolitik sendiri, mendukung tokoh-tokoh yang terlihat baik tanpa perlu masuk partai atau jadi kaum politik. Dan jika kita tidak percaya pada dunia pendidikan, kita bisa membuat pendidikan sendiri. Kalau kita kecewa pada suatu organisasi keagamaan, kita bisa mendirikan organisasi keagamaan sendiri.

Maka merebaklah nilai-nilai baru yang sedikit banyak dipengaruhi cara pengurusan sebuah perusahaan. Orang-orang ramai berbicara tentang profesionalitas, transparansi, branding, public relation, pengawasan, akuntabilitas, efektivitas, dan juga efisiensi. Dakwah mesti profesional, efektif, efisien, akuntabel, dan terkomunikasikan berdasarkan bermacam segmen. Pendidikan pun begitu. Media dan bahkan sepak bola tak lepas dari sergapan kata-kata semacam itu.

Ada baiknya hal itu dilakukan karena kemudian semua berjalan seperti lebih baik. Tapi sebagaimana ketika pabrik-pabrik didirikan di Inggris sana pada masa revolusi industri, ada kemanusiaan yang dipertaruhkan. Profesionalitas, efektivitas, dan efisiensi tidak membuka banyak ruang bagi cinta, kasih sayang, saling memahami, berbagi, dan hal-hal lainnya. Tak ada perhitungan kewibawaan. Semua diperlakukan sama serta setara berdasarkan kedudukan, peran, dan fungsi yang telah ditandatangani dalam sebuah perjanjian. Jika perhatian itu ada, jika kemauan untuk berbagi juga masih harus ada, maka itu perlu diatur dalam sebuah program basa-basi bernama corporate social responsibility, sementara keramahan telah diatur dalam sebuah SOP bagaimana cara menyapa dan tersenyum yang benar terhadap pelanggan dan relasi. Keramahan diperlukan karena orang-orang yang diramahi adalah pasar yang akan dihisap sekuat mungkin demi tumpukan kapital yang tak pernah kenyang. Sebab tidak ada SOP untuk ketulusan dan kejujuran. Cinta tak bisa distrukturkan. Dan kasih sayang, kerelaan untuk berkorban, kemauan untuk berbagi tidak dapat diukur dengan angka-angka atau diletakkan dalam kerangka untung dan rugi.

Ini bukan sekadar gejala yang muncul satu dua, tapi ini aliran yang keras di kehidupan kita menjadi fenomena yang tak terbantahkan. Menderas melimpahi cara berpikir orang-orang yang mewabah menjalar kepada siapa saja.

Hubungan antara pemimpin dan rakyat seharusnya adalah sebuah hubungan batin bernama cinta. Bukan sebuah perjanjian politik yang dilingkupi saling tuntut dan bermacam intrik kecurigaan. Hubungan seorang guru dan murid, dosen dan mahasiswa, seharusnya adalah sebuah hubungan batin penuh ketulusan di mana guru membimbing ruhani sang murid. Itulah pendidikan. Bukan sebuah hubungan jual beli pengetahuan semacam seseorang yang membayar seorang supir untuk mengajarinya cara mengendarai mobil. Hubungan ulama dan umat harusnya adalah sebuah hubungan batin yang dilandasi kasih sayang dan kebenaran, bukan sebuah jual beli jasa konsultasi mengatasi kekeringan ruhani.

Cara berpikir yang begitu perusahaan memang telah mengalirkan banyak hal yang dulu mampet. Yang lambat menjadi cepat. Yang tak efektif menjadi lancar. Yang penuh sogakan menjadi lurus. Yang tertutup menjadi terang. Tapi, seperti mesin-mesin industri di Manchester dan Bristol zaman Marx dulu, cara berpikir ini pun telah merampas banyak hal: cinta, puisi, kasih sayang, semangat berbagi, ketulusan, dan hal-hal batin lainnya. Diganti dengan kompetisi dan kontestasi yang tak sudah-sudah, yang memaksa setiap orang untuk terus berlari mencari pencapaian-pencapaian entah apa maknanya. Tanpa henti. Tanpa jeda. Tanpa sunyi.

..,

Suatu tata pendidikan yang telah dilandasi semangat industri, di mana seorang rektor malah tampak sebagai seorang CEO, akan menyepikan ruang-ruang bagi puisi dan filsafat. Yang dihasilkan pun adalah tenaga terpelajar yang dapat diserap oleh yang serbaindustri. Penelitian-penelitian akan diarahkan untuk menelaah selera pasar dan bagaimana cara pemenangan pasar. Para pemikir akan dikerahkan untuk mencari cara bagaimana sebuah barang dagangan dapat laku di pasaran. Para aktivis dapat dibayari untuk program-program corporate social responsibility sehingga perusahaan tambang yang membuang merkuri sekalipun akan tetap tampak baik hati.

Suatu negara yang gemar mengundang investasi dari negara-negara asing dan menyediakan rakyatnya sebagai buruh tidak memerlukan musik yang baik dan ruang kesenian juga kebenaran agama atau kebijaksanaan. Presidennya akan mempromosikan seluruh wilayah negeri sebagai penghasil sekian banyak barang dagangan. Para menteri akan bergiat dan bekerja tiga kali setiap membuat warung-warung apa saja bagi pasar dunia. Dan pengentasan kemiskinan, jaminan kesehatan, atau pendidikan akan menjadi semacam program corporate social responsibility agar negara tetap tampak baik hati meskipun menyia-nyiakan rakyatnya dan menjual bangsanya. Semua industri telah belajar dari pabrik gula. Memberikan beberapa butir permen kepada rakyat sebagai upah atas ribuan hektare tebu yang telah dirampas dengan harga murah.

Pendidikan dan negara dengan cara berpikir industri akan terus-menerus mengoceh tentang kesejahteraan. Senantiasa menumbuhkan jiwa serakah kepada orang-orang bahwa tujuan hidup yang hakiki adalah menjadi kaya dan memiliki benda-benda.

Dalam keadaan begini ada sastrawan yang terpaksa jualan mi ayam dan lembaga kebudayaan yang buka warung makanan. Semua yang tetap berdiri berseberang cara berpikir industri terus bertahan dengan cara apa saja yang mungkin dilakukan. Banyak kesedihan yang datang. Seorang penyair tergeletak kelaparan, tak makan berhari-hari dan tak banyak yang peduli. Tapi kerja-kerja budaya tak bisa digilas kemiskinan atau kesengsaraan. Popor bedil dan kekerasan tak pernah bisa menang melawan puisi dan kejernihan nurani.

Dalam kesengsaraan macam apa pun, akan terus ada orang-orang yang merawat Indonesia. Sebab NKRI bukan PT Indonesia Raya Tbk.

sumber: http://www.komunitasnuun.org/2014/12/pt-indonesia-raya-tbk/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: