Hamka, Mengenai Kerukunan Hidup Beragama

(Sumber: http://www.komunitasnuun.org/2014/05/mengenai-kerukunan-hidup-beragama/)

***

”Orang Islam cukup toleransi, demi mengingat kesatuan bangsa, demi mengingat dasar negara Pancasila. Kerukunan hidup beragama sudah lebih tinggi kedudukannya dalam kesadaran iman kaum Muslimin daripada anjuran pemerintah. Akhirnya lalulah kelindan dan kedengaran pula seruan bertubi-tubi agar kita bangsa Indonesia setia kepada dasar dan falsafah negara “Pancasila”, demi Ketuhanan Yang Maha Esa! Ditambah dengan bahasa jawa: “Agama meniko sami mawon!” (agama itu semuanya sama saja!). Timbullah pertanyaan: “Apa memang beginikah maksudnya kerukunan hidup beragama?””

***

Dalam banyak kasus kehidupan beragama di Indonesia, umat Islam kerap kali jadi tertuduh. Sedikit saja gesekan dengan kelompok lain dalam isu agama, umat Islam dengan mudah dicap tidak toleran. Logika yang dibangun para “komentator” itu selalu saja sama: soal pemaksaan mayoritas terhadap minoritas.

Namun, pandangan mereka sendiri kadang juga memaksakan diri. Para komentator itu gelap mata membela minoritas tanpa melihat akar persoalannya. Padahal, sikap demikian meniscayakan ketimpangan berpikir yang cukup berbahaya, yaitu bahwa pihak minoritas harus dilindungi dan diberi ruang apa pun kekeliruannya. Akibatnya, yang mayoritas harus manut saja meskipun benar.

pasar cerminan kerukunan umat beragama
ilustrasi pasar, cerminan kerukunan umat beragama

Sebenarnya jika kita bicara soal toleransi, umat Islam sudah tidak perlu diajari lagi. Sudah banyak contohnya di sepanjang sejarah. Dalam Islam terdapat petunjuk-petunjuk yang mengatur interaksi kita dengan penganut agama lain. Mulai dari tugas kita untuk melindungi hajat hidup mereka, tidak boleh mendakwahkan Islam (mengajak masuk Islam) kepada mereka yang sudah beragama, dan lain sebagainya. Ya, Islam mengajarkan kita untuk berinteraksi secara sehat dengan orang yang beragama lain. Sepanjang mereka tidak mengganggu kita, kita tidak boleh mengganggu mereka, bahkan wajib pula untuk melindungi mereka. Tidak tanggung-tanggung, itu tidak berlandaskan HAM, tetapi langsung dari wahyu, dari Tuhan melalui Nabi SAW. Artinya, soal kerukunan hidup beragama, kita yang Muslim ini paling mengerti.

Inti kehidupan bermasyarakat bukanlah soal siapa mayoritas dan siapa minoritas. Mayoritas bisa jadi benar, bisa jadi juga salah, dan begitu pula sebaliknya. Tapi kembali lagi, logika mayoritas-minoritas sering sedemikian serampangan diterapkan. Akibatnya, umat Islam yang ingin menjaga agamanya dari penistaan sekelompok kecil orang yang menyimpang bisa saja disebut “garis keras” atau “massa intoleran”.

Yang terjadi sebenarnya adalah mayoritas yang diprovokasi terus-menerus hingga terjadi gesekan. Fenomena semacam itu sebenarnya bukan barang baru. Umat Islam Indonesia di periode yang lalu-lalu pun menghadapi persoalan serupa, hanya berbeda bentuk dan kadarnya. Esai Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) dalam rubrik Dari Hati ke Hati, Panji Masyarakat, 23 Dzulqaidah 1399/15 Oktober 1979, Tahun XXI, hlm 6—8, memberikan ilustrasi itu. Dalam tulisannya, beliau mengungkap beberapa kasus mengenai arti kerukunan dan toleransi umat Islam yang disalahpahami pada masanya. Kasus-kasus itu begitu dahsyatnya hingga kegeraman Buya Hamka begitu terasa.

Bagi kita, data-data sejarah yang dihadirkan melalui tulisan-tulisan di masa lampau tentang kehidupan beragama adalah hal yang penting. Penting untuk melihat lebih jelas lagi dan lebih sempurna tentang tema ini di Indonesia. Semoga tulisan Buya Hamka ini bisa menjadi sarana refleksi mengenai kerukunan hidup beragama di Indonesia agar kita lebih adil dalam menilai persoalan. Berikut tulisan lengkapnya.

Kerukunan Hidup Beragama

Oleh Hamka

Tidak satu orang pun kaum Muslimin yang memegang agamanya dengan kesadaran, yang tidak menyetujui suatu gagasan yang selalu dianjurkan pemerintah, yaitu kerukunan hidup beragama.

Kerukunan hidup beragama sudah lebih tinggi kedudukannya dalam kesadaran iman kaum Muslimin daripada anjuran pemerintah. Ketika mula-mula Majelis Ulama Indonesia mendapat kehormatan menghadap Presiden pada pertengahan bulan September 1975, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia telah menjelaskan konsepsi umat Islam dalam soal kerukunan hidup beragama ini. Disaksikan oleh tidak kurang 30 orang ulama. Dijelaskan di hadapan Presiden bahwasanya pihak Islam tidak ada halangan sama sekali buat hidup rukun dengan saudaranya pemeluk agama yang lain dalam tanah air Indonesia tercinta ini. Al-Quran, surat ke-60, al-Mumtahanah ayat 8 yang berbunyi:

“Tidaklah Allah melarang akan kamu, terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam hal agama dan tidak pula mereka mengusir kamu dari kampung halaman kamu, bahwa kamu bersikap yang baik terhadap mereka dan berlaku adil kepada mereka. Sesungguhnya Allah adalah sangat suka kepada orang-orang yang berlaku adil.”

Dengan ini sudah ada pegangan teguh kaum Muslimin daripada Al-Quran sendiri, bahwa tidak ada halangannya sama sekali jika kaum Muslimin bersikap baik, bertetangga secara baik, hormat-menghormati, harga-menghargai dengan pemeluk agama lain, selama mereka tidak mencoba memerangi kaum Muslimin karena perbedaan agama, selama mereka pun tidak mendesak dan mengusir kaum Muslimin daripada kampung halaman kaum Muslimin sendiri.

Penafsiran dari ayat ini telah dapat dilihat dalam kehidupan Rasulullah SAW sendiri. Meskipun beliau telah mempunyai masyarakat Islam yang teguh dan berkuasa dalam Kota Madinah, maka mula-mula sekali Rasulullah itu pindah (hijrah) dari Mekah ke Madinah, yang lebih dahulu dibereskan ialah bertetangga baik ini dengan orang-orang Yahudi yang telah ada terlebih dahulu di Madinah. Dibuat perjanjian akan hidup berdamai, bertetangga secara baik, hormat-menghormati. Tersebut di dalam sebuah hadis yang dirawikan daripada Ibnu Umar bahwa pada suatu waktu Rasulullah menyembelih seekor kambing buat dimakannya bersama keluarga. Maka seketika kambing masih disembelih, Rasulullah telah memesankan kepada sahabatnya dan pembantu rumah tangganya, Anas bin Malik, menyuruh menghantarkan sebahagian dari daging itu ke rumah tetangganya seorang Yahudi.

Bahkan di dalam surat al-Maidah ayat 5 dijelaskan sampai terperinci bagaimana baiknya kerukunan beragama itu:

“Pada hari ini dihalalkan bagi kamu segala yang baik-baik; dan makanan orang-orang ahlul kitab halal bagi kamu dan makanan kamu halal bagi mereka dan perempuan-perempuan terhormat yang beriman dan perempuan-perempuan yang telah diberikan kitab sebelum kamu apabila kamu berikan mereka mas kawin mereka, yaitu perempuan baik-baik, bukan perempuan di luar nikah dan bukan pula mengambil piaraan.”

Dalam ayat ini dijelaskan bahwasanya kaum Muslimin hendaklah menganggap bahwa perempuan ahlul kitab itu sebagai perempuan kita kaum Muslimin juga, boleh dikawini meskipun mereka belum memeluk Islam, dibayar maharnya sebagaimana mahar perempuan Islam juga, dan perempuan terhormat bukan perempuan lacur dan bukan jadi perempuan piaraan, atau dalam bahasa kasarnya “gundik”.

Makanan pun demikian pula. Makanan mereka halal bagi kita dan makanan kita halal bagi mereka. Di dalam mazhab Syafi’i dijelaskan tentang binatang yang disembelih, yang hendaknya dibacakan Bismillah ketika menyembelih itu. Maka kalau ada sembelihan ahlul kitab, kita ragu apakah dia menyembelih dengan membaca Bismillah, Imam Syafi’I menjelaskan bahwa kalau hendak memakan sembelihan ahlul kitab itu, hendaklah kita membaca Bismillah lebih dahulu. Adapun kalau yang mereka hidangkan itu makanan yang haram kita makan, umpama daging babi, tentu saja tidak boleh kita makan. Walaupun orang Islam sendiri yang menghadiahkan makanan itu, haram juga kita makan!

Demikianlah perlakuan kita dalam pergaulan dengan ahlul kitab. Supaya nyata kebesaran jiwa kita dan kesanggupan kita bergaul. Sehingga dengan demikian itu dapat kita memberikan kepastian bahwa kerukunan hidup beragama itu telah ada dalam ajaran agama kita sendiri, telah ada konsepsinya yang asli, bukan dibuat-buat bukan “politik”, melainkan ajaran yang tersebut di dalam Quran sendiri. Tegas-tegas Al-Quran memberikan tuntunan bahwa tidak mengapa kita bergaul secara demikian, diberikan pokok garis besarnya di dalam surat al-Mumtahanah dan diperikan perinciannya dalam surat al-Maidah, keduanya surat Madinah.

Tetapi di dalam ayat 9, sambungan dari ayat 8 surat al-Mumtahanah tadi tertulis pula dengan jelas:

“Cuma yang dilarang kamu oleh Allah ialah terhadap orang-orang yang memerangi kamu pada agama, dan mereka keluarkan kamu dari kampung halaman kamu dan membantu orang lain mengusirmu. Maka barang siapa yang berkawan dengan mereka, maka itulah orang-orang yang aniaya.”

Inilah yang telah terjadi sejak Indonesia merdeka. Orang Islam cukup toleransi, demi mengingat kesatuan bangsa, demi mengingat dasar negara Pancasila. Maka mulailah sejak tahun revolusi 1945, tanah-tanah kerajaan di Serdang diduduki oleh saudara-saudara kita dari tanah Batak, pemeluk agama Kristen yang agresif, menduduki tanah-tanah yang luas yang sultannya tidak berkuasa lagi. Mulailah pula mereka menyelusup menduduki tanah pusaka adat Minangkabau di Rimba Panti, Sumatra Barat. Dan menjalar pulalah pendudukan tanah itu ke bahagian tanah Serdang yang luas dan sultannya tidak berkuasa lagi.

Cara pendudukan itu hebat sekali. Mula menduduki, yang lebih dahulu diaktifkan ialah melepas babi-babi peliharaan ke tanah yang diduduki. Penduduk Melayu asli pada tanah itu terpaksa mundur. Ada dua sebab yang menjadikan mereka mundur. Pertama karena rasa jijik menghadapi babi. Kedua, karena menyangka bahwa yang menduduki tanah-tanah itu termasuk “Revolusi” juga! Sehingga tidak berani menanyakan dan mengurusnya kepada yang lebih tinggi.

Dalam keragu-raguan dan ketakutan itu, selain dari babi yang berkeliaran ialah berdirinya gereja dengan megahnya. Si Melayu bertambah mundur dan menjauh, lalu menyerahkan diri saja kepada nasib. Bertambah takut membuka dan mengurusnya kepada yang lebih atas karena takut dituduh “Kontra Revolusi”. Akhirnya lalulah jarum dan lalulah kelindan dan kedengaran pula seruan bertubi-tubi agar kita bangsa Indonesia setia kepada dasar dan falsafah negara “Pancasila”, demi Ketuhanan Yang Maha Esa! Ditambah dengan bahasa jawa: “Agama meniko sami mawon!” (agama itu semuanya sama saja!).

Namun dalam hati mereka yang lemah itu timbullah pertanyaan: “Apa memang beginikah maksudnya kerukunan hidup beragama?” Kalau pemeluk agama lain dengan leluasa melepaskan babinya, mendirikan gerejanya tidak boleh dihalangi, sedangkan mendirikan masjid di tanah air dan kampung halaman sendiri lagi susah, sekarang gereja-gereja berdiri dengan ramai, sebagaimana juga ramainya babi-babi! Maka bagi si Melayu yang lemah larilah mereka kepada ajaran tasawuf dan zuhud. Menyisih ke tepi, bersabar dan bertawakal, menunggu perbaikan nasib dari langit, moga-moga datanglah Imam Mahdi memperbaiki nasib dari langit!

Rupanya hal ini tidak akan berlaku lama. Umat Islam “yang bodoh” yang “nrimo” dan “pasrah” itu terbuka matanya. Ketika saya datang ke PT Arun di Lhokseumawe tahun 1978, di sanalah saya mendengar bahwa di daerah mereka telah dicobakan pula melepaskan babi, yang kelak kemudian hari akan sama banyaknya dengan gereja pula. Tetapi maksud itu gagal! Sebab sedang babi mulai berkeliaran, sebelum gereja dikeluarkan pula, penduduk asli kampung itu telah bertindak: babi-babi itu tergelimpang satu demi satu di jalan-jalan! Menurut penyelidikan, babi itu telah pada mati karena termakan racun!

Mungkin hal itu diributkan pula ke seluruh dunia bahwa umat Islam fanatik dan kejam karena membunuh babi. Dan tidak akan pernah tersiar di seluruh dunia bahwa tanah orang dirampas, diduduki sesuka hati, dan babi dilepaskan supaya orang lari karena jijik.

Sekarang terdengarlah berita bahwa cara ini telah dilakukan pula di negeri Simpang Kanan. Bangsa Melayu yang hidup di antara daerah Melayu (Langkat dan sekitarnya) dengan Aceh! 6000 lebih yang pindah ke sana; gereja berdiri puluhan banyaknya dan babi dilepaskan! Penduduk di sana rupanya bukan sebagai Melayu Serdang, Asahan, atau “nan tak lekang di panas, tak lapuk di hujan” di Rimbo Panti!

Maka terjadilah hal yang menyedihkan! 6000 penduduk Sumatra Utara (umumnya pemeluk Kristen dan Toba) masuk ke daerah Simpang Kanan itu, 6000 lebih berkeliaran babi dan mereka hendak bersikeras mendirikan gereja. Rupanya penduduk Simpang Kanan tidak mau menerima hal itu. Mereka merasa bahwasanya kalau mereka masih berdiam, perhatian tidak akan ada! Benarlah pepatah Minangkabau tua: “Melihat tuah kepada yang menang, melihat celaka kepada yang kalah!” Penduduk Simpang Kanan memprotes dengan cara-cara yang legal melalui DPRD dan saluran-saluran resmi, tapi pihak pendatang tak mau menghargai adat istiadat dan nilai-nilai penduduk asli, mengabaikan semuanya bahkan mereka menuduh umat Islam sebagai DI (DI/TII—penyunting) dan ucapan-ucapan lain yang menyakitkan, sampai terjadi perkelahian hebat! Akhirnya? Penduduk pendatang itu terpaksa keluar dari daerah itu! Dan penduduk asli bersedia menerima mereka kembali bukan dengan muka manis, budi bahasa baik, tetapi dengan lading dan rencong! Untuk berkelahi!

Syukurlah hal ini dapat diurus dan didamaikan oleh pemerintah pusat dengan bijaksana! Diadakanlah perdamaian menurut adat yang terpakai pada seluruh bangsa Indonesia, “kusut diselesaikan, keruh dijernihkan”, demi kerukunan hidup beragama. Dan pemerintah kita pun dapatlah memberikan nasihat bahwa memajukan suatu agama tidaklah boleh dengan kekerasan dan tidaklah boleh tanah orang dikuasai dengan menyebarkan babi banyak-banyak lalu kemudian mendirikan gereja. Pemerintah pun mengakui memang banyak tanah yang perlu dibangun, hasil buminya dikeluarkan, tetapi hendaklah “berkata ber ia, berjalan bermolah, berbudi yang datang, berbahasa yang menanti”. Kalau akan datang juga orang Sumatra Utara dan menjadi transmigrasi di tempat itu, hendaklah babinya dikurung, jangan dilepasliarkan!

Bilamana kita menegakkan negara kita ini masih berdasarkan kepada kepribadian Indonesia, niscaya orang akan maklum, walau suku bangsa apa dia, bahwa ada di sana suatu hal yang dipikirkan bersama, yaitu menenggang orang lain dan menghargai perasaannya. Sebab itu tidaklah layak dilepaskan babi besar-besaran di daerah yanag baru saja diduduki, padahal penduduk negeri itu yang asli mengharamkan babi!

Di India berpuluh tahun lamanya berkelahi mati-matian di antara Hindu dan Muslim, karena orang Islam memakan sapi, sedang orang Hindu menuhankan sapi! Akhirnya karena “Tuhan sapi” dan “makan sapi” ini sukar buat didamaikan, kedua bagian bangsa India itu terpaksa berpisah, menjadi negara India dan Pakistan.

Di tanah air kita tidaklah akan kejadian demikian. Orang Islam telah mengorbankan cita-citanya hendak mendirikan negara Islam, demi persatuan bangsa. Sebagaimana selalu diucapkan oleh Menteri Agama Haji Alamsyah Ratuperwiranegara. Dan dalam soal pertikaian di Simpang Kanan ini Presiden Soeharto telah menyampaikan anjuran perdamaiannya, yaitu bagi penduduk yang ingin mendiami tumpak tanah itu, sedang babi adalah kesayangannya, simpanlah babi itu dalam kandangnya, jangan sampai dibikin “demonstrasi babi” untuk mengusir orang Islam, untuk kemudian mempertunjukkan “demonstrasi gereja”.

Umat Islam akan tetap menjunjung tinggi kerukunan hidup beragama dalam negara Pancasila ini, dan sudi berkorban buat itu. Tetapi kalau ajaran “kerukunan” itu hendak diartikan lain, sehingga yang dijadikan objek untuk penyebaran Agama Kristen ialah umat Islam sendiri, dengan secara halus dan secara kasar, tentu umat Islam tidak akan dapat menerimanya. Dan kalau dia terima juga berarti dia menjadi “dayyuts”, kehilangan gairah! Padahal hadis Nabinya sendiri telah menyatakan:

“Barang siapa yang berjuang untuk kepentingan agamanya, jika ia mati adalah matinya itu syahid”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: