Mencari Indonesia di Sudut-Sudut Hotel Bintang Lima

“Jika kita gagal dan gagap mengikuti cara-cara itu, ada tuduhan tak resmi bahwa kita tak berbudaya dan kurang pergaulan. Kampungan. Hotel dan keindonesiaan kita memang tidak mudah. Ini bisa jadi sederhana, tapi bisa juga dibuat menjadi rumit. Apanya yang Indonesia di hotel-hotel itu?”

***

Oleh Tri Shubhi Abdillah

Banyak orang telhotel mewahah menjadikan hotel bukan hanya sebagai tempat huni sementara. Hotel bukan cuma tempat singgah ketika berkunjung ke suatu tempat. Lebih dari itu, hotel untuk sebagian orang telah menjadi lambang gengsi. Menikah di hotel, menyelenggarakan seminar di hotel, pengajian di hotel, dan lain sebagainya dianggap lebih tinggi derajatnya daripada di tempat lain. Hotel telah menjadi lambang kemewahan yang mahal dan (dianggap) berwibawa.

Tak ada yang salah dengan hal itu. Bahwa sebuah tempat bernama hotel memang memberikan gengsi tersendiri, toh setiap tempat ada kedudukan dan fungsinya. Makan di pinggir jalan atau warung tegal tetap dinamai makan sebagaimana kita makan di rumah makan mahal bertaraf internasional. Sama-sama makan, sama-sama bayar. Hanya saja yang satu mahal, yang satu murah. Hanya yang satu lebih bergengsi dari yang lain. Dapat jadi, yang satu hanya sekadar makan, yang lain bukan sekadar makan. Ada nilai-nilai yang dikandungi dalam perkara makan itu. Makan di warteg berbeda nilai dengan makan di rumah makan mewah. Selain harganya tentu saja.

Pun halnya dengan tidur. Tidur di rumah atau kamar kos-kosan berbeda dengan tidur di hotel. Tidur di hotel meniscayakan biaya yang lumayan. Beda dengan tidur di rumah dan atau di jalanan. Apa yang disebut tidur tentu sama-sama sebuah proses ketika mata kita terpejam dan kesadaran kita melesap ke dalam lelap. Meskipun sama-sama tidur, tidur di hotel (apalagi hotel mewah) tetap tak bisa disama-samakan dengan tidur di kamar rumah.

Kita tidak memungkiri, sebuah kebudayaan memang memerlukan tempat-tempat tertentu yang bermutu untuk menyelenggarakan acara tertentu. Hotel bisa jadi salah satunya. Ketika dalam perjalanan pun kita memerlukan tempat tinggal sementara yang baik dan nyaman, dan itu tersedia di hotel.

Namun jika kita pergi ke hotel, kita akan menemukan banyak hal yang berbeda dan berlainan dengan kebiasaan sehari-hari masyarakat kita. Dapat dikata, hotel mencerap cara kaum tertentu dalam kegiatan sehari-hari. Mari mulai dari kamar mandi.

Bangsa kita memang mengalami persoalan yang agak rumit dengan kamar mandi. Di beberapa daerah, kamar mandi ada di luar rumah. Juga di beberapa kos-kosan, kamar mandi ada di luar kamar. Itu meniscayakan suatu pola tertentu dalam proses-proses tertentu. Kita tak dapat mandi lama-lama dan sepuas-puasnya jika itu adalah kamar mandi umum.

Berbeda dengan di hotel. Kamar mandi ada di kamar samping pintu masuk. Di dalamnya tertata bermacam peralatan dan perlengkapan mandi. Tentu kita akan sulit menemukan benda bernama gayung. Ada kemungkinan gayung itu bagian dari budaya manual yang (dianggap) merepotkan dan tidak praktis. Kamar mandi hotel sedapat mungkin menghindari benda-benda macam itu.

Hal ini baik adanya, tetapi sering kali menjadi masalah untuk beberapa orang. Banyak orang Indonesia yang pertama kali ke hotel kesulitan untuk mencerap cara mandi entah dari mana itu. Beberapa orang bahkan kesulitan menyalakan keran. Tata cara menggunakan keran ini memang tidak mudah. Kita akan menemukan keran mandi dengan bentuk yang khas. Keran itu memiliki dua pancuran air. Pancuran atas dengan saringan yang membuat air keluar menderas rintik seperti hujan, sedangkan satu pancuran lagi kedudukannya setara perut orang dewasa. Pancuran yang kedua menggelontorkan air wajar adanya. Banyak cerita dari mereka yang agak rikuh menyalakan keran macam begini. Setelah diutak-atik, pancuran bagian atas yang seperti hujan itu tak mengeluarkan air, sementara pancuran yang setara perut orang dewasa menggelontorkan air dengan deras. Beberapa tak dapat menunggu, mereka mandi sambil jongkok. Dalam perkara keran ini masih ada persoalan suhu air yang memang dapat diatur. Tapi bagi mereka yang rikuh dengan urusan suhu ini, sering terpaksa pula mandi dengan air yang cukup panas.

Sebagian dari kita amat terbiasa buang air besar sambil jongkok. Hotel menyediakan WC duduk. Percaya atau tidak, ada orang-orang tertentu yang tak biasa dan tak menikmati posisi duduk itu. Buktinya, di beberapa toilet saya sering kali melihat tapak sepatu di WC duduk. Dan soal tisu, atau yang di beberapa kebudayaan disebut tissue, ini perkara yang memang serius. Ini benar-benar perbedaan budaya. Bangsa ini tak lazim dengan tisu, biasa langsung dengan air. Satu lagi, tak ada gayung, hanya ada sebuah selang yang memang bisa mengeluarkan (lebih tepatnya menyemprotkan) air dengan tuas tekan yang aneh. Takaran semprotnya nampak kurang pas dengan kebiasaan orang Indonesia. Beberapa terkaget dan bermasalah dengan semprotannya yang tidak seimbang dengan pola penggunaan gayung. Terlalu kencang dan … begitulah.

Serbaotomatis ialah istilah lain dari membingungkan. Beberapa orang punya persoalan dengan lampu, AC, televisi, dan lain-lain yang serbaotomatis dan menampilkan keunggulan teknologi itu. Seorang kawan pernah tidur di bawah kasur di atas lantai berkarpet karena tak tahan dengan semburan dingin dari AC. Tak ada pula kunci pintu atau gembok. Kita dipaksa menyerahkan rasa aman kepada selembar benda mirip KTP yang nampak tidak kokoh. Beberapa kawan menyatakan rasa waswas akan kemampuan benda mirip KTP itu dalam menutup rapat pintu kamar hotel. Ini bukan perkara tingkat teknologi dan keamanan, ini perkara kebiasaan. Aman bagi sebagian besar dari kita ialah kunci, engsel, gembok, atau kalau perlu rantai yang digembok. Ini persoalan batin. Terlalu membingungkan menyerahkan rasa aman pada selembar benda mirip KTP itu.

Perkara makan juga bukan perkara mudah, apalagi untuk para pemula. Sendok, garpu, pisau, dan tidak ada kobokan. Ada tata cara makan yang entah berasal dari budaya mana yang mau tak mau harus kita ikuti yang itu amat berbeda dengan kebiasaan di kampung sana. Jujur, kadang ini menyiksa. Saya pernah terkesima ketika di sebuah hotel disuguhi menu berupa seiris daging, beberapa potong kentang, seonggok sayuran, dua helai kubis, dan sekuntum brokoli dengan beberapa tetes saus berwarna cokelat. Piringnya besar dengan peralatan di kiri kanan berupa garpu, sendok, tisu, semacam kain serbet, dan lain-lain. Pokok yang musti kita makan itu ialah seiris daging tadi. Ya Allah, makan gini aja repot amat. Tentu protes dan keluh kesah hanya akan menunjukkan betapa tak berbudayanya kita.

Tata menu berupa makanan pembuka (appetizer), menu utama (main course), sampai penutup (dessert) jelas tak ramah dengan kebiasaan kita. Dalam perkara makan, kita ini bangsa yang to the point. Langsung nasi. Untuk apa tata makan yang panjang begitu jika yang pokok cuma seiris daging yang ditemani dua helai kubis. Mahal pula.

Maka untuk sebagian orang, tinggal di hotel ialah merasa tidak aman, kedinginan ketika tidur, kerepotan ketika mandi dan buang air, serta merasa tersiksa ketika makan.

Hotelnya di Indonesia, kita orang Indonesia, namun ketika masuk ke dalamnya, tinggal di dalamnya dengan membayar, kita merasa asing. Apanya yang Indonesia di sana?

Cara tidur, cara makan, cara mandi, semuanya serbaasing dan aneh. Jika kita gagal dan gagap mengikuti cara-cara itu, ada tuduhan tak resmi bahwa kita tak berbudaya dan kurang pergaulan. Kampungan. Sementara yang dapat mengikutinya seolah berbudaya tinggi dan memiliki kemampuan bergaul yang luas. Kenapa di hotel-hotel harus orang Indonesia yang mengikuti cara-cara yang asing, bukan orang asing mengikuti cara-cara orang Indonesia?

Sebagian dari kita merasa naik derajat bila tinggal di hotel dan mengikuti tata cara mereka. Jangan-jangan ini sebuah sikap batin yang sama, seperti mana orang yang menenggak minuman ringan ala luar negeri. Ketika meminum minuman bersoda itu, sebagian orang bukan cuma menginginkan rasa dari minuman itu, atau hendak menghilangkan dahaga, tetapi juga merasa gengsinya melonjak beberapa derajat. Juga seperti orang merokok yang ketika menghisap rokok itu merasa menjadi gembala sapi di Amerika.

Hotel dan keindonesiaan kita memang tidak mudah. Ini bisa jadi sederhana, tapi bisa juga dibuat menjadi rumit. Apanya yang Indonesia di hotel-hotel itu?

Tentu saja ada batik di sana: menjadi aksen yang kecil di ujung seprei. Juga ada gamelan sebagai penghias ruangan. Ada pula wayang kulit yang ditempel di dinding. Atau apa pun yang asli dan dianggap asli Indonesia di hotel-hotel itu. Tapi apa Indonesia cuma itu? Cuma penghias kecil begitu itu dan tidak terlalu penting?

Dalam keadaan masuk angin dan agak lapar, saya melangkah keluar dari sebuah hotel. Ada sedikit gumam dalam hati: Jika kita tidak mampu bersikap di atas pandangan kita sendiri, Indonesia hanya akan menjadi aksen yang tidak penting dalam pergaulan internasional, yang bisa diganti dengan aksen lain. Sebagaimana aksen batik di seprei tempat tidur yang baru saja saya pakai.

 

Sumber: http://www.komunitasnuun.org/2014/05/mencari-indonesia-di-sudut-sudut-hotel-bintang-lima/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: