Menelusuri Masuknya Islam di Indonesia dari Jejak Pengembara

***

“Umumnya, tidaklah dicatat di dalam sejarah-sejarah Islam yang besar mengenai permulaan masuknya Islam ke Nusantara. Sebab, pengembara Muslim yang datang ke Indonesia itu bukanlah ekspedisi resmi dari khalifah di Damaskus atau di Baghdad.”

***

Perdebatan mengenai kapan masuknya Islam ke Nusantara ialah perdebatan yang selalu menarik. Bermacam teori telah disampaikan oleh para peneliti. Bantah membantah diiringi uraian fakta dan telaah datang silih berganti. Tentu satu teori dengan teori lain ada yang saling menguatkan dan ada pula yang saling bertentangan.

Namun halnya demikian, penelusuran yang serius mengenai persoalan ini amatlah penting. Bukan hanya untuk memastikan tahun atau tokoh pemula pembawa ajaran Nabi Muhammad ke negeri ini, tetapi sebagai bangsa yang sadar akan sejarah, penting bagi kita untuk menelaah hal ini. Sejarah adalah hal mendasar bagi kedirian bangsa, maka menelusuri sejarah tentu baik bagi batin kita.

pengembara Arab PertamaHaji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang kita kenal dengan nama singkat Hamka, telah pula memberikan sumbangan pemikirannya mengenai hal ini. Buya telah memberikan jangka yang jauh bagi kehadiran Islam di negeri kita. Bukan abad ke-11 atau ke-12 seperti mana umum diketahui, Buya bahkan menyatakan kehadiran Islam di Nusantara pada abad-abad yang sangat dekat dengan masa hidup Nabi: Buya mencanangkan abad ketujuh sebagai permulaan datangnya orang-orang Islam ke Nusantara, khususnya Jawa. Tentu saja ini pendapat yang berani. Dalam buku Dari Perbendaharaan Lama, beliau menuliskan gagasannya itu dengan tajuk “Pengembara Arab yang Pertama”.

Apa yang telah dinyatakan oleh Buya, selain penting bagi penelitian sejarah, juga penting untuk membangun kebatinan bangsa kita. Sebagai sebuah penelaahan sejarah, fakta, data, dan cara-gaya yang ditampilkan Buya tentu masih bisa diperdebatkan. Hanya saja, sebagai sebuah upaya membangun kesadaran sejarah umat Islam, atas ikhtiar Buya Hamka ini kita patut mengucapkan syukur. Syukur yang baik ialah dengan mempelajarinya dan kemudian mempertajam apa yang telah dilakukan Buya Hamka dalam penelitian sejarah ini.

Sebab, mempelajari sejarah bukan hanya bergaul-gumul dengan data-data dan uraian fakta serta macam-macam telaah dengan berbagai cara gaya. Menelusuri sejarah juga membangun kesadaran keumatan, wawasan kebangsaan, dan pada akhirnya pengenalan akan diri. Mengenal sejarah tentu adalah jalan menuju pengenalan diri. Siapa kita, dari mana kita ber-Islam, dan bagaimana kita hari ini merupakan hal yang penting ditelaah.

Penelusuran sejarah penting bagi pembangunan pribadi-pribadi Muslim sehingga kesadaran akan diri kita menjadi terang dan jelas—bahwa Umat Islam telah lama menyejarah di bumi pertiwi ini. Islam di Nusantara telah bergaul rupa dalam waktu yang panjang. Cahaya Islam telah menerangi berbagai laku peristiwa orang-orang kita dan, pada akhirnya, Islam telah menjadi darah daging kehidupan bangsa kita. Sehingga bangsa kita ialah bangsa Islam, bukan bangsa Hindu, Buddha, atau lainnya. Kita adalah Islam.

Berikut tulisan lengkap Hamka:

Pengembara Arab yang Pertama

Di dalam catatan sejarah Tiongkok disebutkan bahwa pada pertengahan abad ketujuh, terdapat sebuah kerajaan bernama Holing, dan sebuah negeri bernama Chô-p’o. Ketika itu yang menjadi rajanya ialah seorang perempuan bernama Si-mo.

Penulis sejarah bangsa Tionghoa itu menceritakan bagaimana aman dan makmurnya negeri Chô-p’o di bawah perintah Ratu Perempuan itu. Tanahnya subur dan padinya menjadi. Upacara-upacara kerajaan berjalan dengan lancar. Ratu dikawal atau diiringkan oleh para dayang yang mengipasinya dengan kipas dari bulu merak. Singgasana tempat baginda duduk semacam berbalutkan emas. Keris dan pedang kerajaan pun bersalutkan emas dan bertakhtakan ratna mutu manikam.

Agama yang dipeluk ialah agama Buddha. Kerja sama antara I Tsing, seorang pengembara Tionghoa, dengan Jnabadhra, yang dalam bahasa Tionghoa ditulis Joh-na-poh-t’o-lo, disalinlah buku-buku agama Buddha ke dalam bahasa anak negeri.

Holing adalah negeri yang aman dan makmur. Kabar tentang hal tersebut, kata pencatat sejarah, sampai juga ke Ta-Cheh, sehingga tertariklah hati pengembara-pengembara bangsa Ta-Cheh itu untuk mengunjungi Holing. Selain itu, para pengembara itu juga hendak berhubungan dengan Ratu Simo, supaya perniagaan di antara kedua negeri menjadi ramai. Pada kurun waktu antara tahun 674—675, sampailah satu utusan bangsa Ta-Cheh ke Holing.

Utusan Ta-Cheh sangat kagum melihat bagaimana amannya negeri Holing di bawah perintah Ratu Simo, sehingga suatu ketika Raja Ta-Cheh mencoba mencecerkan emas di tengah jalan. Akan tetapi, tidak ada satu orang pun yang sudi mengambilnya. Pundi-pundi emas itu tercecer begitu saja di tengah jalan sampai tiga tahun. Suatu ketika, lewatlah Putra Mahkota Kerajaan Holing di tempat itu. Saat ia melihat pundi-pundi emas itu tercecer di tengah jalan, ia pun menyepaknya, sehingga pecahlah pundi-pundi itu dan tersembullah emas dari dalamnya.

Perbuatan putra mahkota itu rupanya dipandang sebagai suatu kesalahan besar oleh Ratu Simo, ibunya. Ratu amatlah murka setelah mengetahui kesalahan anaknya. Ratu menganggap putra mahkota telah mempermalukan Kerajaan Holing di hadapan kerajaan bangsa asing, yang datang karena hendak menyaksikan keamanan dan kemakmuran negeri. Putra mahkota dipandang telah melanggar keluhuran budi. Oleh sebab itu, ia pun dihukum; kaki yang menyepak pundi-pundi wajib dipotong. Bagaimana pun, para menteri membujuk agar baginda ratu mengurungkan niatnya melakukan hukuman, namun ratu tidak mau mundur. Kaki putera mahkota pun dipotong.

Demikianlah cerita yang terekam dalam catatan sejarah Tiongkok, yang menjadi bahan penyelidikan dari masa ke masa oleh peminat sejarah, hingga sekarang. Hasil penyelidikan tersebut ialah bahwa Chô-p’o itu adalah tanah “Djowo”, Pulau Jawa kita ini.

Kerajaan Holing ialah Kerajaan Kalinga yang berdiri pada pertengahan abad ketujuh, yang menurut sebagian peneliti terletak di Jawa Tengah, atau di Jawa timur, kata sebagian peneliti lain. Selain itu, diketahui pula bahwa ada seorang ratu bernama Sima atau Simo yang memimpin Kerajaan tersebut.

Raja Tacheh yang menjatuhkan pundi-pundi emas di tengah jalan itu ialah seorang Raja Arab. Sebab, Tacheh itu ialah nama yang diberikan orang Tiongkok pada bangsa Arab pada zaman-zaman itu.

Peristiwa tersebut terjadi pada tahun tahun 674 M atau tahun 51 H, yaitu 42 tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat (w. 632 M/ 51 H). Ketika itu, khalifah yang memerintah ialah Yazid bin Muawiyah, khalifah Bani Umayah yang kedua.

Penyelidik-penyelidik sejarah yang mengorek sejarah tersebut dan mencari kecocokan di sana sini menyatakan “tidak tahu” siapakah yang disebut raja Arab yang mencecerkan pundi-pundi di tengah jalan dalam negeri Holing itu. Akan tetapi, bagi kita yang menyelami sejarah dan ketentuan-ketentuan istiadat bangsa Arab atau kaum Islam, tidaklah akan mengatakan tidak tahu siapa raja itu.

Nabi Muhammad SAW telah memberikan peraturan bahwa apabila seseorang melakukan perjalanan jauh, hendaklah mereka memilih seseorang di antara mereka, yang lebih tua usianya, banyak pengalamannya, atau yang gagah berani walaupun usianya lebih muda, yang lidahnya fasih berkata-kata, dan terutama dapat dijadikan imam ketika salat. Itulah dia kepala rombongan yang disebut dalam bahasa Arab sebagai “’amir” dalam perjalanan, merangkap juga menjadi “imam” dalam salat. Amir dapat juga diartikan sebagai ”raja”.

Seorang pencatat sejarah Tiongkok yang lain, yang mengembara pada tahun 674 M di pesisir barat Pulau Sumatra, telah mendapati pula satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung di tepi pantai.

Catatan inilah yang mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam ke tanah air kita. Kebanyakan catatan tentang masuknya Islam ke tanah air kita menyebutkan bahwa masuknya agama Islam dimulai pada abad-abad 11 M. Akan tetapi, sekarang telah dinaikkan empat abad lagi, yaitu abad ke-7 M.

Umumnya, tidaklah dicatat di dalam sejarah-sejarah Islam yang besar mengenai permulaan masuknya Islam ke Nusantara. Sebab, pengembara Muslim yang datang ke Indonesia itu bukanlah ekspedisi resmi dari khalifah di Damaskus atau di Baghdad. Pengembaranya pun bukanlah orang yang membawa senjata, melainkan orang yang berniaga dan berdagang. Mereka datang ke tanah air kita dengan sukarela.

Saat itu, kerajaan Hindu atau Buddha masih kuat dan teguh. Kerajaan Sriwijaya di Sumatra, Kerajaan Kalinga di tanah Jawa, dan kerajaan Hindu masih dalam keadaan yang sangat kuat kuasanya. Oleh karena itu, para pengembara yang pertama itu belumlah dapat dengan leluasa menyampaikan dakwahnya kepada penduduk.

Pelajaran “ke bawah angin” ini masih sukar dilakukan. Akan tetapi, orang Arab, atau orang Islam itu masih tetap meramaikan pelajaran dan perniagaan melalui Selat Malaka sehingga sampai ke Tiongkok. Di Kanton pernah berdiri sebuah markas perdagangan orang Arab. Oleh sebab itu, tersebutlah nama pulau-pulau di negeri kita ini di dalam catatan al-Idrisi dan al-Mas’udi, dan kemudian lebih jelas lagi pada tulisan Ibnu Bathutah. Bahkan menjadi cerita khayal yang indah dalam cerita “Sinbad Orang Laut” yang berlayar sampai ke Pulau Waq-Waq (Fak-Fak), di daerah Irian Barat.

Tambahan lagi, saat itu kedudukan pengembara-pengembara itu belum begitu populer di kalangan anak negeri. Mereka dihormati, tetapi belum diikuti. Mereka dihormati karena kebersihannya, yaitu mencuci muka sekurang-kurangnya lima kali sehari dan mandi sekurang-kurangnya dua kali sehari. Namun demikian, mereka belum diikuti, sebab raja masih dipandang Tuhan.

Menilik kepada sejarah itu, dapatlah kita menentukan letak sejarah bahwa Islam masuk ke Indonesia sejak berabad-abad yang pertama. Pencatat sejarah dunia Islam dari Princeton University di Amerika sudah memegang teguh ketentuan ini dan mencatatkan bahwa masuknya Islam kemari ialah di abad ketujuh.

Akan tetapi, seorang ulama tua yang berminat besar kepada sejarah Islam di tanah air kita, Indonesia dan Semenanjung Tanah Melayu, yaitu Mufti Kerajaan Johor Said Alwi bin Taher al-Hadad, menganut pendapat bahwa sebelum zaman Khalifah Yazid bin Muawiyah, sudah pernah datang pengembara Islam, yaitu di zaman Khalifah Utsman bin Affan. Beliau menunjukkan nomor-nomor sumber buku bacaannya dalam Museum Jakarta, sehingga Za’Ba, sarjana dan ahli bahasa Melayu yang terkenal itu, pada tahun 1956, dengan sengaja datang ke Jawa dan mencari buku tersebut di museum. Namun sayang, tidak beliau jumpai.

Dalam buku-buku sejarah berbahasa Arab sendiri belum juga ditemukan isyarat ke arah sana. Hanya tertulis tentang masuknya ekspedisi Amru bin Ash ke Mesir, Ukbah bin Nafi’ ke Afrika, Thariq bin Ziyad ke Andalusia (Spanyol), Mohammad bin Kasim ke Sind (India), sebab mereka adalah utusan resmi khalifah. Catatan itu ada pada pencatat orang Tionghoa.

Kalau demikian, mungkinlah telah ada sahabat-sahabat nabi, walaupun bukan dari golongan Kubbarish-shahabah (pernah bertemu Rasul) yang telah menginjak bumi tanah air kita, dan lebih mungkin ada tabi’in, yaitu generasi umat Islam yang berjumpa dengan sahabat nabi. Akan tetapi, rupanya tidak ada di antara mereka yang meninggal dunia di negeri kita; mereka hanya singgah dan kembali lagi. Kalau saja ada, baik di Barus atau Pariaman (Sumatra), di Kudus, Jepara, atau yang lain, niscaya akan menjadi pusat ziarah yang ramai.

Tahun (abad XIII), perebutan pengaruh terakhir

Barulah di akhir abad ketiga belas, terjadi perebutan pengaruh yang menentukan antara anutan yang lama dengan yang baru. Tahun 1292 adalah tahun mangkatnya Kartanagara, Prabu Majapahit yang pertama, baginda yang berusaha menggabungkan agama Shiwa dengan agama Buddha menjadi agama kerajaan.

Prabu Wangi, Prabu Niskalawastu, Prabu Dawaniskala memerintah bergantian pada Kerajaan Galuh (Jawa Barat) dalam keaadaan tidak tenteram lagi.

Akan tetapi, pada 1292 itu pulalah kepala kampung di negeri Samudra Pasai (Aceh), yang bernama Marah Silu, memaklumkan dirinya menjadi sultan yang pertama dari kerajaan Islam yang pertama di bumi kita.

Pada abad kelima belas, saat sejarah kerajaan bercorak Hindu kian muram, dan Islam kian naik, berhaklah “abad ketiga belas” dihitung sebagai permulaan bersyiarnya Islam, sebagai suatu paham yang akan menentukan nasib Indonesia di belakang harinya.

Sumber: http://www.komunitasnuun.org/2014/05/menelusuri-masuknya-islam-di-indonesia-dari-jejak-pengembara/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: