Mengenal Sikap Juang Kasman Singodimedjo

(Sumber: http://www.komunitasnuun.org/2014/12/mengenal-sikap-juang-kasman-singodimedjo/)

Pada masa kini, perjuangan atas cita-cita bersama sering kali dianggap sebuah sesuatu yang sangat jauh. Di zaman serbacuriga, merasai dan mengenal ada orang yang tulus berjuang bagi keyakinan-keyakinannya seperti sesuatu yang tak mungkin. Bahwa ada manusia yang berpolitik demi kepentingan pikiran-pikiran dan cita-cita tampaknya hanya ada di negeri dongeng.

Hal itu terjadi karena memang serbacuriga dan keraguan merupakan cara berpikir yang lumrah di masa yang disebut pascamodern ini. Di sebalik segala tindak, khususnya tindak politik, senantiasa ditengarai ada maksud-maksud yang tersembunyi. Maka tugas para pemikir ialah mencurigai maksud-maksud tersembunyi itu dan tentu saja berupaya membuktikannya.

Ketika seorang politisi membawa nilai-nilai agama ke gelanggang kekuasaan, berbondong orang mencurigainya sebagai “menjual agama demi kekuasaan”. Tentu kita tidak menampik bahwa memang ada orang-orang yang menjual agama demi kekuasaan. Yang tidak kita sepakati ialah pandangan bahwa setiap tindakan membawa nilai-nilai agama ke dalam politik adalah seluruhnya bermakna menjual agama. Atau lebih jauh kemudian lahir penilaian bahwa politik dan agama harus dipisahkan, tidak boleh membawa agama ke dalam politik sebab agama suci dan politik itu kotor. Membawa agama ke dalam politik hanya akan mengotori agama itu sendiri. Pandangan sekuler semacam ini jelas kita tolak. Kita sebagai Muslim tak mungkin menaruh Islam di dalam lemari ketika berpolitik, wajib bagi setiap Muslim untuk menimbang dan meneroka segala sesuatu dengan cara pandang Islam. Termasuk politik.

Kisah nyata mengenai Kasman Singodimedjo di bawah ini setidaknya memberi beberapa pandangan bagi kita. Bahwa keyakinan Islam dalam politik ialah wajar dan memang harus dilakukan. Kemudian perjuangan tidak akan sepi dari onak dan duri. Dalam memperjuangkan Islam, hal-hal manusiawi dan alami tentu dapat terjadi.

Sebagai manusia biasa, seorang politikus tidak perlu menjadi malaikat, dan mungkin saja pernah keliru. Akan tetapi bukan berarti kebenaran yang mutlak itu tidak pernah ada dan manusia tidak mungkin mencapai kebenaran yang mutlak. Bukan berarti beberapa kekeliruan membatalkan seluruh kebenaran. Itu pandangan yang keliru, yang berakar pada keraguan dan paham kenisbian. Kelemahan dan kedaifan manusia tidak serta-merta bermakna bahwa kebenaran yang mutlak itu tidak ada, atau paling kurang tidak mungkin dipahami oleh manusia,termasuk dalam politik. Kekeliruan, persengketaan, perebutan, dan marah ialah sikap manusiawi yang jika ia diletakkan dalam cara pandang Islam maka ia akan menjadi indah tertata dengan baik.

Sosok Kasman Singodimedjo mewakili keteguhan itu. Perjalanan politik Pak Kasman menunjukkan kepada kita bagaimana pandangan-pandangan beliau yang berlandasan Islam hadir meneroka bermacam keadaan dan peristiwa. Tindak-tindak politik Pak Kasman tidak dapat dimungkiri adalah berlandaskan cara pandang Islam yang beliau anut. Pak Kasman ialah sosok yang penting untuk dikenal dan dihadirkan pada masa kini. Bahwa ketulusan dalam memperjuangkan cita politik Islam itu ada dan terjadi dalam sejarah bangsa kita. Bahwa paham relativisme yang serbamencurigai agama sebagai sesuatu yang hipokrit dalam politik tidak dapat diterapkan kepada seorang Kasman Singodimedjo. Dan bahwa agama tidak selalunya menjadi cemar ketika berkecimpung di medan politik.

Tulisan di bawah ini ditulis oleh Lukman Harun, seseorang yang bersama-sama dengan Pak Kasman menjadi pengurus PP Muhammadiyah. Tulisan ini dimuat dalam buku Hidup Itu Berjuang Kasman Singodimedjo 75 Tahun. Memang, dalam buku ini, selain riwayat hidup Pak Kasman juga dimuat pandangan tokoh-tokoh bangsa mengenai Pak Kasman.

Berikut tulisan lengkap Lukman Harun tersebut.

Pak Kasman dan Pengesahan UUD 1945

sumber foto: insistnet.com
sumber foto: insistnet.com

Mempelajari perjuangan Prof Dr Mr RH Kasman Singodimedjo atau yang dikenal dengan Pak Kasman sungguh merupakan hal yang menarik. Tidak sedikit andil beliau dalam perjuangan kemerdekaan dan tidak sedikit pula jasa-jasa beliau untuk negara dan bangsa. Perjuangan beliau untuk Islam merupakan fakta sejarah. Sampai sekarang dalam perjuangan untuk kepentingan Islam, untuk kepentingan negara dan bangsa beliau tidak pernah berhenti dan bahkan tidak pernah beristirahat. Suatu perjuangan yang sangat panjang dan sangat berliku-liku serta penuh dengan suka dan dukanya. Pak Kasman adalah seorang pemimpin, politikus, seorang pejuang, seorang yuris, seorang pengusaha, guru besar, dan lain sebagainya. Beliau dikenal sangat tegas dalam pendirian, berani, konsekuen, ulet, gigih, dan penuh semangat menyala-nyala. Sehingga ada orang yang mengatakan Pak Kasman dengan sebutan “Singa di Mana-mana”.

Kalau Pak Kasman berpidato tentu selalu bersemangat, dan biasanya memakan waktu yang lama, satu jam, dua jam, tiga jam, dan kadang-kadang lebih. Beliau sanggup berpidato berjam-jam di pagi hari, berjam-jam lagi di siang hari yang sama, dan dilanjutkan lagi berjam-jam malamnya. Sungguh luar biasa. Pak Kasman tidak kelihatan lelah, malah pendengar yang letih.

Kalau diundang untuk memberi ceramah, kalau beliau belum mempunyai acara lain, tentu akan memenuhi undangan tersebut. Beliau tidak pandang jauh dan dekat. Untuk mencapai suatu daerah beliau bersedia naik kendaraan apa pun. Naik mobil ya boleh, naik truk pun tidak ada halangan,naik motor bergoncengan sudah biasa, bahkan kalau perlu jalan kaki. Banyak atau sedikitnya pendengar, tingkat ranting atau tingkat nasional, beliau akan berpidato dengan nada yang sama dan tetap bersemangat. Di mana-mana berada beliau akan mengatakan, “Manfaatkanlah Kasman.” Tampaknya berpidato buat Kasman di samping ibadah juga merupakan “hobi”.

Walaupun Pak Kasman selalu bersemangat, tapi pada suatu kali saya terheran-heran, karena dalam suatu rapat beliau kelihatan sedih dan pilu, bahkan mengeluarkan air mata. Pada waktu itu kita sedang membicarakan Rencana Undang-Undang Perkawinan. Sebagaimana biasa, Pak Kasman mulai berbicara dengan penuh semangat dengan mengemukakan segala argumentasi di bidang hukum. Tetapi tiba-tiba suara beliau merendah. Dengan penuh kepiluan dan berhiba-hiba beliau menceritakan peranan beliau waktu mengesahkan UUD 1945. Menurut Pak Kasman, pada waktu Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia akan mengesahkan UUD 1945, timbul masalah mengenai perkataan: “… dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Pemimpin-pemimpin Islam mula-mula tetap menghendaki supaya tujuh kata tersebut, yang terdapat dalam Piagam Jakarta, dicantumkan pula dalam UUD 1945. Di antaranya yang paling gigih ialah almarhum Ki Bagus Hadikusumo. Beberapa anggota non-Islam berkeberatan. Bung Karno berusaha melunakkan sikap para pemimpin Islam tersebut supaya tidak dicantumkan tujuh kata tersebut dalam UUD 1945. Tetapi Bung Karno tidak berhasilkan meyakinkan Ki Bagus Hadikusumo karena beliau berpendapat hal tersebut sangat prinsipil sekali. Menurut Pak Kasman, Bung Karno telah minta bantuan Tengku Moh Hasan yang berasal dari Aceh, tetapi juga tidak berhasil mengubah pendirian Ki Bagus, dan begitu juga dengan pemimpin-pemimpin lainnya juga tidak berhasil mengubah pendirian Ki Bagus Hadikusumo. Akhirnya Bung Karno meminta bantuan Pak Kasman, karena sama-sama Muhammadiyah.

Pak Kasman, sesuai dengan permintaan Bung Karno, berusaha meyakinkan Ki Bagus supaya tujuh kata tersebut dihilangkan saja dari UUD 1945. Pak Kasman meyakinkan bahwa UUD tersebut hanya bersifat sementara dan dalam waktu enam bulan dapat diperbaharui lagi. Di samping itu, kata Pak Kasman kepada Ki Bagus, kita memerlukan persatuan dalam menghadapi musuh.

Karena yang meyakinkan Ki Bagus adalah seorang tokoh Muhammadiyah dan lagi pula seorang yuris, maka akhirnya Ki Bagus Hadikusumo bersedia untuk tidak mencantumkan perkataan “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dalam UUD 1945. Dengan demikian, diterima oleh semua pihak UUD 1945 tersebut pada tanggal 18 Agustus 1945. Dengan sedih Pak Kasman mengatakan: “Sayalah yang ikut bertanggungjawab dalam masalah ini, dan semoga Allah mengampuni dosa saya.” Pak Kasman sungguh-sungguh sedih dan meneteskan air mata. Ceritera ini diulang lagi oleh Pak Kasman dalam beberapa kesempatan lainnya.

Pak Kasman sebenarnya juga seorang pengusaha yang berpandangan jauh. Waktu masih menjadi mahasiswa, beliau telah membeli tanah di daerah Cempaka Putih, Jakarta, yang sekarang dikenal sebagai daerah elite. Tentu saja pada waktu itu Cempaka Putih masih belukar dan rawa-rawa. Pada waktu daerah Cempaka Putih dibuka dan dijadikan daerah perumahan, harga tanah terus menjadi mahal, dan tentu tanah-tanah Pak Kasman juga menjadi mahal. Di daerah Cempaka Putih itulah Pak Kasman sekarang bertempat tinggal. Beliau adalah juga seorang industrialis karena beliau pernah juga mempunyai pabrik. Dan juga mempunyai beberapa usaha lainnya.

Dengan demikian, sebenarnya di bidang materil Pak Kasman tergolong orang yang mampu. Tetapi kelihatannya dalam cara hidup sehari-hari beliau sangat sederhana, kalau tidak akan dikatakan sangat hemat. Banyak orang yang tidak memahami cara hidup Pak Kasman yang demikian itu.

Pernah saya bersama istri saya berlebaran ke rumah Pak Kasman. Dalam ngobrol-ngobrol beliau menanyakan apakah rumah yang kami tempati sekarang ini telah dibeli. Isteri saya menjawab belum. Beliau menceritakan semua anak-anaknya telah tamat studinya dan masing-masing telah diberi rumah. Beliau menganjurkan kepada kami supaya dalam berjuang juga memikirkan masalah anak-anak, termasuk sekolahnya. Suatu anjuran yang sangat baik dari Pak Kasman kepada setiap orang yang aktif dalam organisasi.

Pak Kasman termasuk salah seorang yang tampaknya selalu sehat atau jarang sekali beliau sakit. Walaupun kesibukan beliau tidak pernah berhenti dari pagi sampai malam. Beliau mengatakan, dalam penjara pun tetap sehat walaupun makan nasi yang bercampur-campur. Kalaupun akhir-akhir ini Pak Kasman pernah sakit dan dirawat di rumah sakit, maka beliau akan selalu ingat soal rapat, soal-soal Muhammadiyah, ceramah, kuliah, soal-soal politik, dan lain-lain. Kalau keadaan memungkinkan, Pak Kasman akan cuti sebentar dari rumah sakit untuk pergi rapat.

Pak Kasman mengatakan dirinya penjaga warung PP Muhammadiyah. Memang beliaulah yang paling rajin datang ke kantor PP Muhammadiyah. Beliaulah yang melayani serta memberi nasihat-nasihat dan pentunjuk-petunjuk kepada para tamu tersebut mengenai berbagai hal. Beliau jugalah yang paling sering memberikan briefing kepada para pemuda.

Tentu tidak selamanya orang-orang sependapat dengan Pak Kasman dalam memecahkan berbagai hal-hal, termasuk masalah politik. Baik dalam rapat-rapat PP Muhammadiyah maupun Tanwir dan tempat-tempat lain, perbedaan pendapat dengan beliau sering terjadi. Saya termasuk yang sering berbeda pendapat dengan beliau, terutama dalam rapat-rapat PP Muhammadiyah. Kadang-kadang perbedaan pendapat tersebut agak hebat dan lalu Pak Kasman marah. Dalam keadaan seperti itu saya lalu meninggalkan rapat. Memang dalam hal ini beliau bertindak sebagai seorang bapak, hal-hal seperti itu cepat sekali dilupakannya. Beliau tidak pernah mempunyai perasaan dendam.

Dalam usia beliau mencapai 75 tahun ini kita mengucapkan banyak terima kasih atas segala pengorbanan dan perjuangan beliau.

Kita semua tetap membutuhkan Pak Kasman.

Jakarta, November 1978.

(Dikutip dari buku Hidup Itu Berjuang Kasman Singodimedjo 75 Tahun, Panitia Peringatan 75 Tahun Kasman, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1982. Hlm 278-281)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: