Sebuah Pengingat untuk Mahasiswa Muslim

Oleh Tri Shubhi Abdillah

Islam merupakan satu-satunya jalan kebenaran, tiada jalan kebenaran lain selain Islam. Barang siapa menapaki tuntunan Islam maka ia merupakan orang yang beruntung, yang mendapat jaminan keselamatan dunia dan akhirat dari Tuhan Semesta Alam, Allah SWT.

Hari ini, akidah umat Islam dilanda permasalahan yang sangat pelik. Tipuan pemikiran yang dengan halus merasuk ke dalam tubuh umat dengan keindahan kata dan teori yang memukau akal. Kebenaran Islam diragukan, kesucian Al-Quran digugat, dan pelaksanaan hukum-hukum Allah SWT ditolak. Islam kemudian direduksi menjadi sekadar agama yang berada pada wilayah pribadi. Rangkaian kata-kata yang halus licik tersebut tersebar di berbagai media. Dalam buku, kata-kata cendekiawan, mahasiswa, bahkan dosen-dosen agama Islam.

suasana pendidikan IslamDi perguruan-perguruan tinggi negeri ini pemikiran-pemikiran tersebut berseliweran hingga menghunjam masuk dalam kurikulum pendidikan. Sekularisme pendidikan di dalam pendidikan sekuler telah nyata menghasilkan manusia-manusia setengah robot yang hampir tak memiliki nurani. Akal menjadi sandaran satu-satunya. Dunia (yang seharusnya menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah SWT) menjadi tujuan. Kebahagiaan terukur pada batas-batas sempit materi.

Tantangan pemikiran bagi umat Islam hari ini telah nyata. Umat berhadapan dengan kesalahan cara pandang terhadap alam, terhadap semesta. Hari ini, umat Islam berhadapan dengan ilmu-ilmu yang berlandaskan pada pandangan kaum relativis yang menolak kebenaran mutlak. Harus ada upaya menanggulangi hal-hal tersebut.

Allah telah menuntun umat Islam untuk saling menasihati dalam kebenaran dan sabar. Buya Hamka menafsirkan ayat ketiga surat al-Ashr (dan berpesan-pesanan dalam kebenaran) sebagai berikut:

Karena nyatalah sudah bahwa hidup yang bahagia itu adalah hidup yang bermasyarakat. Hidup nafsi-nafsi adalah hidup yang sangat rugi. Maka hubungkanlah tali kasih-sayang dengan sesama manusia, beri-memberi ingat apa yang benar. Supaya yang benar itu dapat dijunjung tinggi bersama. Ingat-mengingatkan pula mana yang salah, supaya yang salah itu sama-sama dijauhi.

Dengan demikian beruntunglah masa hidup. Tidak akan merasa rugi. Karena setiap pribadi merasakan bahwa dirinya tidaklah terlepas dari ikatan bersama. Bertemulah pepatah yang terkenal: “Duduk seorang bersempit-sempit, duduk ramai berlapang-lapang.” Dan rugilah orang yang menyendiri, yang menganggap kebenaran hanya untuk dirinya seorang.[1]

Dengan semangat saling mengingatkan dalam kebenaran seperti dalam tafsir Buya Hamka tersebut, kami, Komunitas Nuun, menulis risalah singkat ini. Semoga risalah singkat ini berguna bagi kita semua.

Masalah Pemikiran dan Realita Umat

Kondisi umat Islam saat ini sangatlah memprihatinkan. Merdeka secara politik, tetapi terjajah hampir dalam semua bidang. Kualitas sumber daya manusianya memprihatinkan, dan sumber daya alamnya dikuras oleh perusahaan-perusahaan asing. Dapat dikata, umat Islam saat ini sangat terbelakang dan peradaban Islam mundur, berada dalam hegemoni peradaban Barat yang sekuler-liberal.

Syed Naquib Al-Attas merumuskan penyebab kemunduran umat Islam saat ini adalah karena ketiadaan adab (the loss of adab). Ketiadaan adab dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan, yang selanjutnya menciptakan:

2. Ketiadaan adab dalam masyarakat. Akibat yang timbul dari poin pertama dan kedua adalah:

3. Munculnya pemimpin yang bukan saja tidak layak memimpin umat, melainkan juga tidak memiliki akhlak yang luhur dan kapasitas intelektual dan spiritual mencukupi, yang sangat diperlukan dalam kepemimpinan Islam. Mereka akan mempertahankan kondisi yang disebut dalam poin pertama di atas dan akan terus mengontrol permasalahan-permasalahan sosial-kemasyarakatan melalui tangan para pemimpin lain yang berwatak sama dengan mereka dan mendominasi berbagai sektor kehidupan.[2]

Kekacauan pandangan terhadap ilmu pengetahuan merupakan sebab yang sangat mendasar dalam ketiadaan adab. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus diakukan adalah memeriksa dan kemudian memperbaiki pandangan yang salah tersebut serta menjelaskannya.

Salah satu pandangan dunia yang salah adalah pandangan para sofis. Syed Al-Attas membagi kaum sofis ini ke dalam tiga bagian.

Yang pertama disebut dengan kelompok al-la adriyyah atau gnostik, karena selalu mengatakan tidak tahu (la adri, yaitu ‘saya tidak tahu’) atau selalu ragu-ragu mengenai keberadaan sesuatu sehingga menolak posibilitas ilmu pengetahuan. Orang yang seperti ini pada gilirannya juga akan meragukan sikapnya yang serba meragukan segala sesuatu.

Kelompok yang kedua ialah kelompok al-indiyyah, yaitu mereka yang selalu bersikap subjektif. Berbeda dari kelompok pertama, kelompok ini menerima posibilitas ilmu pengetahuan dan kebenaran, tetapi menolak objektivitas ilmu pengetahuan dan kebenaran. Bagi mereka, objektivitas ilmu pengetahuan dan kebenaran adalah subjektif (indi, yaitu ‘menurut saya’), bergantung pada pendapat masing-masing.

Kelompok yang ketiga adalah kelompok al-inadiyyah, yaitu mereka yang keras kepala, yang menafikan realitas segala sesuatu (haqa’iq al-asyya) dan menganggapnya sebagai fantasi (auham) dan khayalan semata. Kelompok terakhir ini lebih mirip dengan kelompok kedua. Para sofis tidak bisa dan tidak akan pernah menjelaskan kedudukan mereka. Kalaupun bisa, satu-satunya kedudukan yang sesuai untuk mereka adalah mendekonstruksi setiap wacana keilmuan.[3]

Dalam wacana keilmuan hari ini, para pemikir Barat sekuler-liberal telah dengan nyata meragukan keberadaan kebenaran. Nama-nama semacam Jacques Derrida menjadi nabi baru tanpa kitab suci yang coba menghancurkan banyak hal yang telah mapan. Pemikiran mereka kemudian menembus jantung pendidikan umat Islam melalui nama-nama semacam Muhammed Arkoun, Nasr Hamd Abu Zayd, Abu Abid Al Jabiri, dan lainnya.

Pluralisme agama, menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan metode sekuler (hermeneutika), penolakan terhadap penerapan syariat Islam, mendudukkan Islam sebagai agama sejarah, dan yang semacamnya merupakan contoh-contoh tipuan halus mereka untuk umat Islam. Semua itu nyata dan jelas (senyata dan sejelas minyak dalam air) telah merusak akidah umat Islam hari ini.

Sayangnya, bentuk-bentuk pemikiran seperti itu mendapat apresiasi dari kaum muda kita di banyak perguruan tinggi. Saudara-saudara kita banyak yang terjebak dalam hegemoni pemikiran ini. Benar dan salah menjadi kabur. Baik dan buruk kehilangan batas. Moral dan nilai tercampakkan sia-sia. Kehancuran kaum muda kita, dalam buaian kesalahan berpikir dan kerusakan moral, berada pada titik sangat memprihatinkan. Apa yang disebut sebagai ketiadaan adab benar-benar terasa dalam kehidupan nyata umat Islam hari ini.

Inti dari ketiadaan adab ini sesungguhnya adalah kebodohan yang nyata. Ada dua jenis kebodohan yang bisa dialami oleh manusia. Pertama adalah kebodohan yang ringan, yaitu kurangnya ilmu mengenai apa yang seharusnya diketahui. Kedua adalah kebodohan yang berat, yaitu keyakinan yang salah yang bertentangan dengan fakta ataupun realitas, meyakini sesuatu yang berbeda dari sesuatu itu sendiri, ataupun melakukan sesuatu dengan cara-cara yang berbeda dari bagaimana sesuatu itu dilakukan.[4]

Dua kejahilan ini memang sama-sama berbahaya. Akan tetapi, kebodohan yang kedua sangat penting untuk diperbaiki. Sebab, kebodohan pertama cukup disembuhkan dengan jalan menambah ilmu. Akan tetapi, kebodohan yang kedua harus diperbaiki dengan jalan membuka tabir keyakinan yang salah itu dengan ilmu yang pasti kemudian menjelaskan apa yang benar dengan sejelas-jelasnya tanpa keraguan.

Menggali kembali khazanah keilmuan Islam, mempelajarinya, mendakwahkannya, dan melaksanakannya dalam kehidupan adalah salah satu jalan menuju penghapusan kebodohan ini. Mempelajari secara sungguh-sungguh cara pandang Islam terhadap semesta (ru`yatul al Islam li al wujud) dan mempelajari cara pandang Barat sekuler-liberal untuk kemudian menjelaskan kesalahannya dan menggantikannya (bagi kaum muslim) dengan cara pandang yang benar merupakan cara yang harus dilakukan oleh umat Islam untuk menjawab berbagai kebingungan yang ada hari ini.

Pada akhir risalah ini, kami mengajak saudara-saudara sesama Muslim untuk senantiasa meningkatkan keimanan kepada Allah SWT, memajukan keilmuan Islam, mempelajari bahasa Arab sebagai pintu menuju khazanah keilmuan Islam, menggali dan menerapkan ilmu-ilmu Islam (ulumuddin), senantiasa awas dan waspada terhadap cara pandang sekuler-liberal yang beredar di antara kita, dan senantiasa saling mengingatkan dalam kebenaran dan sabar.

Catatan Akhir:

Prof. Dr. Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz XXX, PT Pustaka Panjimas, Jakarta, 1982, hlm 259.

Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Syed M. Naquib Al-Attas (terj), Penerbit Mizan, Bandung, 2003, hlm 117—118.

[3] Ibid. hlm 127

[4] Ibid. hlm 121

*Tulisan ini pernah dimuat buletin AtTafakur edisi 13/6 Rhamadlan 1428

(Sumber: http://www.komunitasnuun.org/2014/05/sebuah-pengingat-untuk-mahasiswa-muslim/)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: