Pendahuluan
Tulisan singkat ini, akan membahas seputar hati, penyakit-penyakit hati, obat-obat penyakit hati agar menjadi lembut, dan menata hati dalam mencapai kebahagiaan dan keindahan hidup. Topik ini begitu penting, apalagi di tengah zaman globalisasi sekarang ini, dimana tidak sedikit pribadi mengalami kegersangan hidup, kehilangan ketenangan bathin, dan tenggelam dalam kesedihan. Padahal, secara materi, ia merupakan seorang “raja” yang telah berhasil membangun dunia materinya.
Pengertian Hati
Hati merupakan karunia Allah kepada manusia. Seorang manusia yang ‘berakal’ tentu tahu apa itu hati. Dan setiap manusia pasti memiliki hati. Jika tidak, pasti bukan manusia namanya. Artinya, orang yang tidak punya hati pada hakekatnya bukanlah manusia. Jadi mungkin semua orang diberi hati, akan tetapi banyak orang yang tidak punya hati yang hakiki.
Di dalam Al-Quran, hati dikaitkan dengan kedalaman pemahaman, sumber penalaran, tempat pertimbangan, tumbuhnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, taubat dan keras kepala, ketenangan dan kegoncangan. Bahkan hati akan diminta pertanggungjawaban nanti oleh Allah, bersama dengan fungsi pendengaran dan penglihatan. Rasulullah saw, menyatakan bahwa hati adalah sesuatu yang mempengaruhi baik-buruknya manusia. Lebih lanjut, beberapa ulama berpendapat, hati mengandung dua pengertian yang derivative, bahwa ia bisa berupa sesuatu yang berlambang fisik, namun lebih cenderung ke arah psikis-mental.
Secara Fisik, hati adalah jantungnya manusia. Ia merupakan organ penting yang memastikan bahwa setiap tetes darah yang mengalir ke seluruh tubuh, harus melewati organ ini. Dengan kata lain, jantung merupakan “terminal pusat” yang mengatur kedatangan dan keberangkatan setiap tetes darah dari dan sebelum pergi menuju organ-organ tubuh yang menjadi tujuannya. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi jika ia hanya menjalankan fungsi ‘kedatangan’ saja, dan tidak menjalankan fungsi ‘keberangkatan’, tentu saja akan ‘menghentikan’ aktivitas kehidupan manusia. Akhirnya, muncul pernyataan bahwa seorang manusia tidak akan bahagia, apabila ia tidak meniru cara kerja (hati) “jantung” nya sendiri.
Selanjutnya, secara psikis-mental (non-fisik), hati merupakan ‘rasa’ keberagamaan manusia. Menutur Imam Ghazali, hati adalah hakikat manusia yang dengan segala pengertian yang berpengetahuan, membuat orang arif dalam tindakannya, yaitu manusia yang menjadi sasaran perintah dan larangan Allah, yang akan disiksa, dicela dan dituntut segala amal perbuatannya. Hati menjadi sumber kekuatan, motivasi, bahkan pendorong manusia untuk berbuat apa saja. Hati bisa mendorong manusia untuk berbuat baik, namun dapat pula menerbangkan manusia untuk berbuat jahat. Ini mengandung pengertian, bahwa hati-lah yang mengendalikan seluruh perbuatan manusia.
Sehubungan dengan itu, Allah bersumpah (Al Quran, 91: ayat 7-8), bahwa di dalam diri manusia terdapat dua ‘kekuatan’, yaitu kekuatan yang mendorong kepada kebaikan dan juga kekuatan yang cenderung kepada keburukan. Jadi, secara umum dapat dikatakan, tidak ada manusia yang bersih dari kesalahan dan tidak pula ada manusia yang ‘full’ dengan kebaikan, tanpa kesalahan. Makanya, ada pernyataan yang berbunyi bahwa manusia merupakan sumber dari kesalahan. Akan tetapi, adalah mungkin apabila ada orang yang kebaikannya lebih banyak dari kesalahannya. Dan sebaliknya, ada pula orang yang kesalahannya lebih banyak daripada kebaikannya. Nah, di sinilah fungsi agama memberikan ‘pemahaman’ kepada manusia, sehingga kekuatan jahat dapat di-reduce, sedangkan kekuatan baik disuburkan. Inilah sebabnya mengapa kita beribadah, membaca Al-Quran dan berzikir agar hati yang bergejolak dapat ditekan. Masalahnya adalah, bagaimana cara menyuburkan kekuatan baik dan mem-press kekuatan jahat di dalam hati?
Nabi kita yang mulia, mengajarkan kepada umatnya agar selalu berlindung kepada Allah, dan memohon agar menetapkan hati kita untuk senantiasa beribadah kepada-Nya. Secara harfiah, hati adalah sesuatu yang berubah-ubah. Contohnya, sometimes ada something yang kita suka, namun di lain waktu tidak kita sukai. Bahkan ada seseorang yang kita sukai, pada saat bersamaan bencinya setengah mati. Boleh jadi, seseorang mencintai suatu ibadah, tetapi pada saat lain ia justru malas dan tidak peduli. Nah, oleh karena hati gampang sekali berubah, maka Rasulullah mengajar Doa, yang artinya kurang lebih: ” Wahai yang membolak-balikkan hati, kukuhkan hatiku dalam agama-Mu dan kuatkan hatiku untuk selalu taat dalam menjalankan ibadah kepada-Mu”
Me-manage hati, bukanlah urusan yang gampang. Karena kadangkala pada suatu waktu hati amat keras dorongannya, sehingga membuat orang lupa. Oleh sebagaian kita hal tersebut, dikatakan Hawa Nafsu. Di awal Juz 13 di Al-Quran, dikatakan bahwa sesungguhnya hawa nafsu itu selalu punya kecenderungan kepada keburukan. Artinya, ada semacam konotasi negative bahwa memang nafsu akan membawa orang untuk berbuat yang ‘dilarang’ oleh agama, walaupun ada pengecualian pada ayat itu, tentang peluang nafsu yang ‘dirahmati’ Allah. Nafsu yang dirahmati inilah yang menjadi inti akhir surah Al-Fajr, yang digambarkan kembali dengan penuh ridho dari Tuhannya.
Penyakit-penyakit Hati
Adalah suatu keharusan, mengetahui dan memahami penyakit-penyakit hati. Ini seperti keharusan bagi kita memahami penyakit-penyakit fisik, agar bisa dicegah dan kalau bisa tidak terjadi pada diri kita. Sebenarnya banyak sekali penyakit hati, beberapa di antaranya yaitu syirik, kufur, sombong, nifak, iri, dendam, khianat, kikir, tamak, ria, dan kufur nikmat. Seorang muslim atau pun muslimah, mungkin bisa ‘demawan yang hebat’, akan tetapi tidak ada jaminan bagi dia untuk bebas dari sombong dan ria. Atau, bisa jadi, ia adalah orang yang taat beribadah, namun tidak menghindarkan ia dari perbuatan syirik seperti menyembah pohon besar yang ‘angker’ dan berdoa dengan perantaan keris.
Berikut adalah beberapa dari penyakit-penyakit hati:
- Kafir adalah pengingkaran terhadap adanya Allah. Kalau seseorang sudah mengakui adanya Allah, berarti ia sudah tidak kafir lagi.
- Syirik adalah keyakinan tentang adanya sesuatu yang berkuasa selain Allah swt. Orang syirik boleh jadi mengakui Allah, tetapi mengakui juga kekuatan lain selain Allah.
- Nifak (nifâq) merupakan sikap mendua di dalam diri seseorang. Sesekali ia mengatakan ”ya”, tetapi di tempat lain ia mengatakan ”tidak”. Nifak sering terjadi di mana-mana, terutama pada suasana tertentu yang mendorong terjadinya nifak, misalnya menjelang pemilu. Dalam bahasa Indonesia, istilah nifak menggunakan istilah munafik (orang yang melakukan nifak). Nifak sangat berbahaya, karena seorang yang munafik bisa menjadi sumber adu domba antara satu dengan yang lain. Menurut pengertian bahasanya, istilah nifak berarti ”terowongan”. Sebab, orang yang munafik sama seperti orang yang ada di terowongan yang gelap, sehingga orang lain tidak mengetahui apa yang dilakukannya. Istilah nifak juga mempunyai akar kata yang sama dengan istilah infak (infâq). Dalam pengertian bahasanya, infak adalah sesuatu yang dikeluarkan seseorang tanpa diketahui siapapun. Bahkan kata Rasul, infak (shadâqah) adalah, mengeluarkan dengan tangan kanan tanpa diketahui oleh tangan kiri.
- Takabbur adalah sikap menganggap diri besar, padahal sesungguhnya dirinya tidak besar. Dalam hadis sering dijumpai istilah kibrun (sombong). Di dunia ini tidak satupun alasan untuk bersikap takabbur, karena kita tidak pernah besar dan hebat. Sifat-sifat buruk yang ada pada diri manusia menjadi penghias bagi kekuatan buruk manusia. Persoalannya, manusia harus mampu mengendalikan dirinya. Ketika ia memperoleh sesuatu yang lebih, ia tidak boleh menganggap apa yang ada pada dirinya lebih daripada yang lain. Kalau seseorang lupa beribadah kepada Allah karena harta bendanya, maka nanti akan dibawakan Nabi Sulaiman sebagai perbandingannya. Kalau seseorang tidak beribadah karena sakit, maka akan dibawakan Nabi Ayyub sebagai perbandingannya. Tidak ada yang patut kita sombongkan, karena apa yang kita miliki semuanya adalah nikmat Allah swt. yang diberikan kepada kita. Ketika kita kembali kepada Allah, maka yang kita bawa adalah yang kita bawa pulang. Dulu kita dilahirkan dalam keadaan telanjang, dan kelak akan pulang dalam keadaan tertutup kain kafan. Yang kita bawa ketika sudah meninggal hanyalah amal kebaikan. Kalau seseorang bisa merasa kecil pada saat mendapat yang besar, maka siapapun tidak akan frustasi ketika ia turun dari yang besar itu. Ketika ada seseorang mendapatkan harta yang banyak dan merasa kecil dengan apa yang dimilikinya, maka ketika ia jatuh miskin, ia tidak akan frustasi dengan kemiskinannya. Takabbur adalah sifat yang sangat berbahaya. Ketika seseorang bersikap takabbur, maka yang pertama kali dilupakannya adalah dirinya sendiri, kemudian melupakan orang lain di hadapannya, dan pada puncaknya melupakan Allah. Dikatakan lupa diri karena ia hanya menceritakan kebaikan-kebaikannya. Ketika bercerita kebaikan kepada orang lain, ia melupakan kelebihan orang di hadapannya. Dan pada akhirnya akan menggiring seseorang untuk melupakan Allah, dengan menganggap apa yang dimilikinya adalah hasil usahanya sendiri, terlepas dari ketentuan Allah. Oleh karenanya, Rasulullah saw. menganjurkan, kalau ada orang yang sombong, maka berilah sedekah kepadanya dengan bersikap sombong di hadapannya. Dalam hadis dikatakan, ”Sombong di hadapan orang sombong itu sedekah.” Dikatakan besedekah agar orang yang sombong itu tidak melupakan dirinya, tidak melupakan orang lain, dan tidak melupakan Allah. Maksudnya, kita dianjurkan untuk menghentikan kesombongan orang yang sombong, karena pada hakikatnya manusia tidak ada apa-apanya, dan bukanlah apa-apa di hadapan Allah swt.
- Iri disebabkan karena pengaruh objek yang kita lihat, sedang dendam adalah pengaruh dari suatu objek yang pernah menerpa kita. Seseorang iri kepada orang lain, misalnya kerena ilmu, harta, jabatan, dan sebagainya. Singkatnya, iri terjadi pada seseorang karena pada orang lain terdapat kelebihan. Iri adalah penyakit laten yang tidak dapat dilihat. Seseorang yang iri atau dengki pada hakikatnya akan menimbulkan pesimisme dalam dirinya, dan permusuhan dengan orang lain. Sebab, orang yang iri akan selalu mencari cara agar orang lain tersebut jatuh. Ketika orang yang didengkinya sudah jatuh, ia merasa senang. Sementara dendam disebabkan karena ada perilaku orang lain terhadapnya, sehingga ia dendam terhadapnya, misalnya karena menyakiti. Rasulullah saw. bersabda, ”Jauhilah iri (hasad) kepada orang lain, karena sesungguhnya iri akan menghabiskan kebajikan-kebajikan yang kita lakukan, seperti api yang melalap (membakar) kayu bakar.” Persoalannya, bagaimana agar kita terhindar dari iri? Rasulullah saw. dalam hal ini memberikan petunjuknya. Kita harus mempunyai sikap, ketika posisinya berada di bawah orang lain, kita berucap alhamdulillah, karena masih bisa seperti ini, karena di luar sana masih banyak orang di bawah saya.” Rasulullah saw. bersabda, ”Jangan pandang ke atas, tetapi pandanglah ke bawah.”
- Khianat adalah penyimpangan dalam menjalankan amanah. Seseorang yang diberi jabatan, lalu ia menggunakan jabatannya itu untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya itulah khianat.
- Kikir atau pelit adalah sikap tidak mau memberi. Kikir adalah, ketika ada sesuatu pada diri kita yang disimpan, tetapi tidak mau dikeluarkan. Sedangkan tamak adalah, sikap yang selalu ingin menerima dari orang lain dengan tak ada rasa puasnya. Jadi, tamak dan kikir adalah dua sifat yang saling melengkapi. Kalau kikir tidak mau mengeluarkan, sedang tamak adalah sikap ingin selalu menerima dari orang lain. Orang yang tidak mau bersedekah disebabkan karena ada sifat kikir dalam dirinya. Sedangkan orang yang mau mengambil hak orang lain disebabkan karena ada sifat tamak dalam dirinya.
- Ria adalah ketika seseorang melakukan sesuatu, ia ingin menunjukkannya kepada orang lain. Orang yang punya sifat ria tidak akan melakukan sedekah, kalau ia tidak dipandang oleh orang lain. Sifat ria hampir sama dengan sum’ah. Seorang yang memiliki sifat sum’ah akan melakukan suatu kebaikan, jika ingin mendapatkan perhatian dan pujian dari orang lain. Ia merasa bangga ketika orang lain menganggapnya hebat.
- Kufur nikmat adalah sikap yang mengingkari nikmat Allah. Orang yang kufur nikmat biasanya tidak suka bersedekah. Nikmat harta yang dia miliki tidak digunakan untuk bersedekah. Nikmat kesehatan yang dimiliki tidak diginakan untuk beribadah. Nikmat jabatan yang dimiliki tidak digunakan untuk kemaslahatan umat. Mereka itulah orang-orang yang kufur nikmat. Jika penyakit-penyakit hati tersebut ada pada diri seseorang, maka tak ada sedikitpun kebaikan pada dirinya.
Obat Penyakit Hati
Beberapa penyakit hati tersebut di atas, dan penyakit hati lainnya, dapat diobati dengan tujuh resep. Pertama, belajar. Dengan memahami penyakit hati, seseorang akan mengobati dirinya. Kedua, beribadah kepada Allah. Tekanan potensi buruk akan dapat ditekan bila potensi kebaikan dikuatkan. Oleh karenanya, orang yang banyak ibadah kemungkinan besar potensi jahatnya dapat terdominasi oleh potensi baik. Ketiga, berdzikir. Berdzikir dilakukan dengan menyebut nama Allah (asma al-husna), atau dzikir lainnya, termasuk juga memperbanyak ingat terhadap kematian. Kata Nabi, obat yang paling mujarab untuk seseorang yang hatinya keras adalah, seringlah mengingat kematian dan diajak untuk melihat proses kematian. Keempat, memperbanyak istighfar. Kelima, memperbanyak berdo’a. Keenam, memperbanyak shalawat. Ketujuh, memperbanyak qiyâmul-layl. Dari ketujuh obat hati tersebut dapat disimpulkan menjadi tiga, yaitu belajar, beribadah dan berdzikir.
Bahan-bahan bacaan:
1. Al-Quran dan Terjemahan
2. Abdullah. Makna dan Urgensi Tazkiyatun Nufus Beserta Doanya, http://kajianislam.net/modules/smartsection/print.php?itemid=241 (28 April 2009)
3. Abdullah. Mengapa Hati Keras Membatu, http://kajianislam.net/modules/smartsection/print.php?itemid=333 (28 April 2009)
4. Abdullah. Pembahasan Seputar Hasad, http://kajianislam.net/modules/smartsection/print.php?itemid=269 (28 April 2009)
5. Al-‘Utsaimin Muhammad. Agar Hati Menjadi Lembut, http://kajianislam.net/modules/smartsection/print.php?itemid=381 (28 April 2009)
6. Andri Abu T. Dunia itu Fatamorgana, http://kajianislam.net/modules/smartsection/print.php?itemid=341 (28 April 2009)
7. Hernowo. Teaching with Your Heart, http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=emagazine&id=11&fid=113 (28 April 2009)
8. Lathief. Hati-hati dengan Hati-mu, http://latief15610.multiply.com/journal/item/24 (28 April 2009)
9. Satria B. Wahai Manusia Lihatlah Hati-mu, http://www.pengusahamuslim.com/modules/smartsection/print.php?itemid=173 (28 April 2009)
10. Thib Raya A. Penyakit dan Obat Hati, http://www.pdmbontang/cetak.php.?id=507 (28 April 2009)
11. Umay. Hakekat Kehidupan, khutbah jumat
